Konten dari Pengguna

Bisnis Berjalan, Lingkungan Terjaga: Etika Produksi dalam Islam

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari ANNIKA DIVA KUSTIYANI EVI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bisnis Berjalan, Lingkungan Terjaga: Etika Produksi dalam Islam. Ilustrasi tanggung jawab produsen dan konsumen dalam menjaga lingkungan melalui kegiatan produksi dan konsumsi yang berkelanjutan. Gambar: Dibuat menggunakan ChatGPT AI.
zoom-in-whitePerbesar
Bisnis Berjalan, Lingkungan Terjaga: Etika Produksi dalam Islam. Ilustrasi tanggung jawab produsen dan konsumen dalam menjaga lingkungan melalui kegiatan produksi dan konsumsi yang berkelanjutan. Gambar: Dibuat menggunakan ChatGPT AI.

Pasti kalian pernah berpikir, bagaimana barang-barang yang kita gunakan setiap hari bisa sampai ke tangan kita? Dari pakaian yang kita pakai, makanan yang kita konsumsi, hingga berbagai barang yang kita gunakan, semuanya pasti melibatkan proses produksi. Namun, di balik semua itu, pernahkah kita memikirkan bahwa proses produksi tidak hanya menghasilkan barang, tetapi juga menyisakan limbah yang mempengaruhi pencemaran lingkungan? Dalam situasi persaingan bisnis yang semakin ketat, para produsen diharuskan untuk terus menciptakan produk terbaik dan memperoleh banyak keuntungan. Tetapi, apakah dengan keuntungan saja cukup untuk mengukur keberhasilan sebuah usaha jika lingkungan harus menanggung dampaknya? Terus pernahkan kita menyadari bahwa di balik proses produksi, terdapat dampak lingkungan yang sering kali luput dari perhatian?

Seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat, aktivitas produksi terus mengalami perkembangan untuk memenuhi permintaan pasar. Salah satu efek yang sering kita saksikan adalah meningkatnya jumlah limbah dari kemasan plastik. Beragam produk, mulai dari makanan dan minuman hingga barang-barang rumah tangga, memanfaatkan plastik sebagai kemasan demi kemudahan dan efisiensi pemasaran. Namun, setelah penggunaan sering kali kemasan tersebut biasanya langsung dibuang dan akhirnya akan menumpuk di tempat pembuangan akhir, bahkan bisa sampai mencemari sungai dan lautan. Situasi ini menunjukkan bahwa aktivitas produksi tidak hanya berkaitan dengan proses pembuatan dan penjualan produk, tetapi juga bagaimana dampaknya terhadap lingkungan setelah produk tersebut tidak lagi digunakan.

Limbah Plastik Dan Dampaknya Terhadap Lingkungan

Salah satu isu yang perlu dicermati adalah limbah dari kemasan plastik. Saat ini, banyak produk yang memanfaatkan plastik karena dianggap praktis dan efektif untuk melindungi barang selama penyimpanan maupun distribusi. Namun, kemasan ini seringkali dibuang tanpa berpikir panjang setelah digunakan. Menurut siaran pers dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) pada tahun 2025, Indonesia memproduksi sekitar 10,8 juta ton sampah plastik di tahun 2023, atau hampir 20 persen dari total sampah nasional. Lebih dari 6 juta ton dari jumlah tersebut dilaporkan tidak dikelola dengan baik. Angka ini menunjukkan bahwa sampah plastik masih menjadi masalah yang sangat serius yang perlu mendapatkan perhatian bersama, termasuk tanggung jawab para pelaku usaha dalam memilih serta mengelola kemasan produknya.

Menurut saya, persoalan ini menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah bisnis seharusnya tidak hanya dinilai dari besarnya keuntungan atau banyaknya produk yang terjual. Para pelaku bisnis usaha juga harus mempertimbangkan dan memperhatikan dampak dari aktivitas produksi mereka terhadap lingkungan. Ketika keuntungan menjadi satu-satunya tujuan, risiko potensi kerusakan lingkungan bisa terabaikan. Padahal, kegiatan usaha seharusnya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat tanpa mengorbankan kelestarian alam yang juga penting untuk generasi yang akan datang.

Etika Produksi Dalam Perspektif Ekonomi Islam

Dalam perspektif ekonomi Islam, kegiatan produksi tidak hanya bertujuan menghasilkan barang dan memperoleh keuntungan, tetapi juga harus membawa kemaslahatan bagi masyarakat. Hal ini sejalan dengan firman Allah Swt. dalam QS. Al-A’raf ayat 56:

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ

Artinya: “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik".

Ayat tersebut mengingatkan manusia agar tidak melakukan tindakan yang menimbulkan kerusakan di bumi. Dalam konteks kegiatan bisnis, prinsip ini dapat menjadi pengingat bagi pelaku usaha untuk memperhatikan dampak lingkungan dari proses produksi dan penggunaan kemasan. Misalnya, produsen dapat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilih bahan kemasan yang lebih mudah didaur ulang, serta mengelola limbah dengan baik. Dengan demikian, kegiatan usaha tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga memperhatikan kemaslahatan manusia dan kelestarian lingkungan.

Dalam ekonomi Islam, kegiatan produksi tidak hanya berfokus pada keuntungan saja, melainkan juga perlu memperhatikan kemaslahatan atau kesejahteraan manusia dan lingkungan sekitar. Muhammad Turmudi dalam jurnalnya yang berjudul Produksi dalam Perspektif Ekonomi Islam (2017) menjelaskan bahwa kegiatan produksi perlu mengelola sumber daya alam secara optimal, tidak boros, tidak berlebihan, dan tidak merusak lingkungan. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan dalam bisnis tidak hanya diukur dari banyaknya produk yang terjual atau besarnya keuntungan yang diperoleh. Para pelaku usaha juga perlu mempertimbangkan dampak dari proses produksinya terhadap lingkungan, termasuk limbah kemasan plastik yang dihasilkan. Oleh karena, kegiatan usaha bisnis dapat terus berjalan tanpa mengabaikan tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan.

Upaya Menjaga Kelestarian Lingkungan Melalui Peran Produsen Dan Konsumen

Pada akhirnya, sebuah usaha bisnis yang baik bukan hanya bisnis yang mampu menghasilkan keuntungan banyak, tetapi juga bisnis yang bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkannya. Dalam perspektif ekonomi Islam, mencari keuntungan tetap diperbolehkan, tetapi pelaksanaannya perlu memperhatikan kemaslahatan dan tidak menimbulkan kerusakan lingkungan. Tanggung jawab ini juga perlu didukung oleh masyarakat sebagai konsumen, misalnya dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, membawa tas belanja sendiri, menggunakan kembali kemasan yang masih layak untuk dipakai, serta lebih bijak dalam memilih produk. Pelaku bisnis usaha dapat berupaya menyediakan kemasan yang lebih ramah lingkungan, sedangkan konsumen dapat memulai perubahan melalui kebiasaan sehari-hari. Dengan adanya kesadaran dan inisiatif dari kedua belah pihak, upaya menjaga kelestarian lingkungan tidak hanya bertumpu pada satu pihak, tetapi menjadi tanggung jawab bersama. Sebab, keberhasilan usaha tidak seharusnya dibayar dengan kerusakan alam. Jadi, bisnis boleh terus berkembang, tetapi tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan alam juga harus tetap berjalan.

Dengan demikian, etika produksi dalam Islam mengajarkan bahwa keuntungan bukanlah satu-satunya tujuan dalam menjalankan bisnis. Para pelaku usaha juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan dari dampak kegiatan produksinya. Sebuah bisnis usaha yang berhasil adalah bisnis yang mampu berkembang tanpa mengabaikan kelestarian alam. Sebab, mencari keuntungan adalah hak pelaku usaha, tetapi menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan.