Bom Waktu Bonus Demografi: Ketika Anak Muda Kehilangan Pekerjaan Layak

Mahasiswa di Politeknik Keuangan Negara STAN
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Bhaskara Adrian Novari Olga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia sedang menikmati bonus demografi, yaitu kondisi ketika penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan penduduk usia nonproduktif. Situasi ini kerap dianggap sebagai modal untuk membawa Indonesia menjadi negara maju pada 2045. Namun, jumlah tenaga kerja yang besar tidak otomatis menghasilkan produktivitas dan kesejahteraan.
Kesempatan meningkatkan kualitas diri juga belum terbagi secara merata. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, Angka Partisipasi Kasar perguruan tinggi di perkotaan mencapai 38,58 persen, sedangkan di perdesaan hanya 23,14 persen. Data tersebut memang tidak secara langsung mengukur kualitas sekolah, tetapi memperlihatkan kesenjangan akses pendidikan tinggi antara anak muda di desa dan kota.
Tanpa pendidikan yang merata dan pekerjaan berkualitas, bonus demografi dapat berubah menjadi beban ekonomi dan sosial. Ancaman utamanya bukan sekadar kekurangan pekerjaan, tetapi keterbatasan pekerjaan layak yang dapat diakses oleh anak muda dari berbagai wilayah dan latar belakang pendidikan.
Masalahnya Bukan Sekadar Pengangguran
Berdasarkan data NEET BPS 2025, sekitar 19,44 persen penduduk usia 15–24 tahun tidak sedang bekerja, bersekolah, ataupun mengikuti pelatihan. Artinya, hampir satu dari lima anak muda berada di luar tiga jalur utama untuk meningkatkan keterampilan dan produktivitas.
Di sisi lain, kondisi ketenagakerjaan Indonesia tidak sepenuhnya buruk. Menurut Sakernas BPS Februari 2026, jumlah penduduk bekerja mencapai 147,67 juta orang, bertambah hampir 1,9 juta orang dibandingkan Februari 2025. Tingkat Pengangguran Terbuka juga turun menjadi 4,68 persen. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tetap menciptakan kesempatan kerja.
Namun, penurunan pengangguran belum menjawab persoalan kualitas lapangan kerja. Pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya berapa banyak orang yang bekerja, tetapi juga pekerjaan seperti apa yang mereka peroleh. Apakah pekerjaan tersebut memberikan penghasilan layak, jaminan sosial, kepastian karier, dan kesempatan meningkatkan keterampilan?
Dalam laporan Indonesia Growth and Jobs, Bank Dunia menilai penciptaan pekerjaan di Indonesia masih terkonsentrasi pada kegiatan bernilai tambah rendah. Sementara itu, pekerjaan kelas menengah dengan produktivitas tinggi belum tumbuh cukup cepat. Dengan demikian, pekerjaan memang bertambah, tetapi kualitas dan produktivitasnya masih menjadi pekerjaan rumah.
Ketika Pendidikan Tidak Bertemu Dunia Kerja
Persoalan berikutnya adalah ketidaksesuaian antara pendidikan dan pekerjaan. Dalam publikasi Mismatch Pendidikan–Pekerjaan Pemuda Indonesia, BPS menyebut lebih dari sepertiga pemuda bekerja pada tingkat pekerjaan yang tidak sesuai dengan tingkat pendidikannya. Ketidaksesuaian tersebut dapat mengurangi pendapatan pekerja sekaligus menimbulkan inefisiensi bagi perekonomian.
Meski demikian, bekerja di luar bidang pendidikan tidak selalu berarti kegagalan. Seseorang dapat berpindah bidang karena menemukan kesempatan yang lebih baik atau memiliki keterampilan yang dapat digunakan dalam berbagai pekerjaan. Masalah muncul ketika pilihan tersebut bukan bentuk fleksibilitas karier, melainkan keterpaksaan karena pekerjaan yang sesuai tidak tersedia. Dalam keadaan itu, kemampuan yang diperoleh melalui pendidikan tidak digunakan secara optimal.
Oleh karena itu, menyalahkan kurikulum atau lulusan semata merupakan penyederhanaan masalah. Pendidikan memang harus mengikuti perubahan kebutuhan industri, tetapi pasar kerja juga perlu menciptakan pekerjaan yang membutuhkan tenaga terampil. Pelatihan sebanyak apa pun tidak akan efektif apabila pekerjaan produktif yang tersedia tetap terbatas.
Industrialisasi Harus Menciptakan Pekerjaan
Dalam jangka panjang, melemahnya peran manufaktur menjadi salah satu tantangan penciptaan pekerjaan berkualitas. Bank Dunia mencatat bahwa kontribusi manufaktur terhadap perekonomian Indonesia turun dari sekitar 31 persen pada 2002 menjadi 19 persen pada 2021. Penurunan jangka panjang ini tidak berarti industri selalu menyusut setiap tahun, tetapi menunjukkan bahwa perannya belum kembali sekuat pada awal 2000-an.
Manufaktur penting karena dapat menghubungkan tenaga kerja, teknologi, ekspor, dan pemasok dalam negeri. Namun, Indonesia tidak cukup hanya mengejar nilai investasi yang besar. Investasi padat modal dapat meningkatkan produksi tanpa menciptakan pekerjaan dalam jumlah sebanding. Keberhasilan investasi karena itu perlu diukur pula dari pekerjaan formal, upah, perlindungan sosial, transfer keterampilan, dan keterlibatan usaha lokal yang dihasilkan.
Dimensi wilayah juga tidak boleh diabaikan. Berdasarkan data BPS 2025, pekerja formal mencakup 50,55 persen tenaga kerja di perkotaan, tetapi hanya 29,75 persen di perdesaan. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa tempat seseorang tinggal masih sangat memengaruhi kesempatannya memperoleh pekerjaan formal.
Mengubah Bonus Demografi Menjadi Kesempatan
Ada tiga langkah yang perlu menjadi prioritas. Pertama, insentif investasi harus dikaitkan dengan jumlah dan kualitas pekerjaan yang diciptakan. Perusahaan yang menyerap tenaga kerja lokal, memberikan pelatihan, membayar upah layak, dan melibatkan usaha kecil dalam rantai pasok patut memperoleh prioritas.
Kedua, pusat pertumbuhan baru perlu dibangun berdasarkan potensi setiap daerah. Kawasan industri di luar kota besar harus dihubungkan dengan sekolah vokasi, politeknik, infrastruktur digital, dan kebutuhan industri setempat. Pembangunan daerah tidak boleh berhenti pada pengambilan sumber daya alam tanpa pengolahan yang memberikan nilai tambah.
Ketiga, perbaikan pendidikan tidak dapat hanya mengandalkan perubahan kurikulum. Pemerataan guru berkualitas, fasilitas belajar, akses internet, informasi beasiswa, bimbingan karier, dan program magang juga perlu diperkuat. Pelatihan kerja harus disusun berdasarkan kebutuhan nyata perusahaan di setiap wilayah, bukan sekadar mengejar jumlah peserta.
Pada akhirnya, bonus demografi tidak ditentukan oleh berapa banyak anak muda yang dimiliki Indonesia. Keberhasilannya ditentukan oleh berapa banyak dari mereka yang memperoleh pendidikan bermutu, pekerjaan layak, dan kesempatan memperbaiki kehidupan. Tanpa ketiga hal tersebut, bonus demografi yang seharusnya menjadi kekuatan justru berisiko berubah menjadi beban pembangunan.
