Bukan Cuma Harga Beras: Mengapa Biaya Kecil Bikin Dompet Terasa Makin Tipis
Tulisan dari Ike Marlina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu hal yang akhir-akhir ini sering saya rasakan ketika mengatur pengeluaran: uang terasa lebih cepat habis, padahal saya tidak merasa membeli sesuatu yang mahal.
Belanja harian masih seperti biasa. Pesan makanan sekali-sekali, naik kendaraan, membeli kebutuhan rumah, membayar tagihan, atau sekadar membeli minuman. Tidak ada pengeluaran yang terlihat “wah.” Namun ketika semuanya dijumlahkan, ternyata cukup membuat isi dompet berkurang lebih cepat.
Mungkin di sinilah inflasi bekerja dengan cara yang tidak selalu kita sadari.
Selama ini, ketika mendengar kata inflasi, yang langsung terbayang biasanya harga beras, minyak goreng, telur, cabai, atau bahan bakar. Padahal pengalaman masyarakat terhadap inflasi sebenarnya jauh lebih luas. Ada kenaikan harga jasa, ongkos transportasi, biaya pengiriman, biaya perawatan, hingga berbagai pengeluaran kecil yang jika dikumpulkan bisa cukup besar.
Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 3,19 persen secara tahunan. Inflasi inti juga tercatat 2,92 persen. Angka tersebut memang terlihat tidak terlalu besar jika hanya dibaca sebagai statistik. Tetapi bagi rumah tangga, kenaikan harga yang terjadi sedikit demi sedikit tetap dapat memengaruhi cara seseorang mengatur pengeluaran.
Inflasi Tidak Selalu Datang dengan Harga yang Melonjak
Menurut teori ekonomi makro, inflasi merupakan kenaikan tingkat harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus. Artinya, inflasi bukan sekadar ketika harga satu barang naik.
Masalahnya, kehidupan sehari-hari tidak berjalan dalam bentuk angka inflasi nasional. Kita tidak pergi ke warung sambil berpikir, “Hari ini inflasi saya 3,19 persen.” Kita hanya melihat harga yang harus dibayar.
Misalnya, dulu dengan uang Rp50.000 kita mungkin bisa membeli beberapa kebutuhan sekaligus. Sekarang mungkin tetap bisa, tetapi jumlah barang yang didapat terasa lebih sedikit. Atau harga makanan tidak naik terlalu besar, tetapi ongkos kirim bertambah, biaya layanan muncul, dan transportasi ikut menguras pengeluaran.
Satu per satu terlihat kecil. Kalau dikumpulkan dalam satu bulan, ceritanya menjadi berbeda.
Inilah yang menurut saya sering luput ketika kita membicarakan inflasi. Yang terasa oleh masyarakat bukan hanya kenaikan harga barang, tetapi berkurangnya kemampuan uang untuk memenuhi kebutuhan.
Ketika Pendapatan Tidak Bergerak Secepat Pengeluaran
Teori makroekonomi juga mengajarkan bahwa konsumsi rumah tangga memiliki hubungan erat dengan pendapatan dan daya beli.
Bayangkan seseorang memiliki pendapatan tetap. Ketika harga kebutuhan meningkat, ia mempunyai beberapa pilihan. Mengurangi jumlah barang yang dibeli, mencari barang pengganti yang lebih murah, mengurangi kegiatan yang dianggap tidak penting, atau menggunakan tabungan.
Pada awalnya mungkin tidak terasa berat.
Masalah muncul ketika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus.
Kopi yang biasanya dibeli setiap hari mungkin dikurangi menjadi dua kali seminggu. Makan di luar mulai jarang dilakukan. Perjalanan yang tidak terlalu penting ditunda. Bahkan pembelian barang yang sebenarnya dibutuhkan bisa menunggu sampai ada promo.
Dari sudut pandang individu, keputusan tersebut terlihat sederhana. Namun jika dilakukan oleh banyak rumah tangga secara bersamaan, dampaknya dapat masuk ke perekonomian secara lebih luas.
Ketika konsumsi masyarakat melemah, penjualan pelaku usaha dapat ikut terpengaruh. Jika penjualan menurun dalam waktu lama, dunia usaha bisa menahan ekspansi, mengurangi perekrutan, atau menunda investasi.
Artinya, keputusan sederhana untuk menghemat uang ternyata memiliki hubungan dengan aktivitas ekonomi secara keseluruhan.
Mengapa Angka Inflasi Bisa Terlihat “Baik,” tetapi Dompet Tetap Berat?
Di sinilah kita perlu membedakan antara inflasi yang rendah dan harga yang murah.
Inflasi 3 persen bukan berarti harga kembali murah. Angka tersebut menunjukkan tingkat kenaikan harga dibandingkan periode sebelumnya. Harga yang sudah naik pada tahun-tahun sebelumnya tetap menjadi bagian dari tingkat harga saat ini.
Sederhananya, jika harga suatu kebutuhan sudah naik dari Rp10.000 menjadi Rp12.000, kemudian tahun berikutnya hanya naik menjadi Rp12.300, kenaikannya memang lebih kecil. Tetapi konsumen tetap membayar Rp12.300, bukan kembali ke Rp10.000.
Jadi, ketika pemerintah atau lembaga statistik menyampaikan bahwa inflasi terkendali, bukan berarti masyarakat otomatis merasa semua kebutuhan menjadi ringan.
Menurut saya, di sinilah pentingnya melihat ekonomi makro dari sudut pandang kehidupan sehari-hari. Ekonomi yang stabil seharusnya tidak hanya terlihat bagus di laporan, tetapi juga terasa masuk akal bagi rumah tangga ketika mereka menyusun anggaran bulanan.
Yang Perlu Dijaga Bukan Sekadar Harga
Saya tidak berpikir bahwa semua kenaikan harga adalah sesuatu yang buruk. Dalam perekonomian, harga memang dapat berubah karena permintaan, biaya produksi, distribusi, kondisi global, maupun berbagai faktor lainnya.
Bahkan, kenaikan harga pada sektor tertentu bisa menjadi sinyal bahwa permintaan sedang meningkat atau biaya produksi berubah.
Namun persoalannya berbeda ketika kenaikan biaya hidup berlangsung sementara pendapatan masyarakat sulit mengimbanginya.
Karena itu, membicarakan inflasi seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan, “Berapa persen inflasi bulan ini?”
Pertanyaan yang lebih dekat dengan masyarakat adalah: Apa yang masih bisa dibeli masyarakat dengan pendapatan yang mereka miliki?
Bagi saya, itulah makna daya beli yang sebenarnya.
Inflasi pada akhirnya bukan hanya persoalan angka dalam berita ekonomi. Inflasi bisa muncul dalam keputusan kecil: memilih makan di rumah daripada membeli makanan di luar, menunda membeli pakaian, mengurangi perjalanan, atau berpikir dua kali sebelum mengeluarkan uang untuk sesuatu yang sebelumnya dianggap biasa.
Dan mungkin justru di situlah kita paling mudah memahami teori ekonomi makro.
Sebab ekonomi makro bukan sesuatu yang hanya terjadi di ruang rapat pemerintah atau dalam tabel statistik. Ia hadir setiap kali kita membuka dompet, melihat saldo rekening, lalu bertanya dalam hati: “Kok sekarang uang segini cepat habis, ya?”

