Kumparan Logo

Bukan Cuma Pengguna, UMKM RI Berpeluang Jadi Pemenang Era AI

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
NUS Business School. Foto: Dok. NUS
zoom-in-whitePerbesar
NUS Business School. Foto: Dok. NUS

Banyaknya sektor industri di Indonesia dinilai menjadi peluang besar bagi Tanah Air untuk unggul di era kecerdasan buatan (AI). Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) disebut sebagai salah satu sektor yang berpotensi besar mengambil peran tersebut.

Indonesia memiliki sekitar 65 juta UMKM yang menyumbang 60 persen Produk Domestik Bruto (PDB) nasional serta menyerap 97 persen tenaga kerja. Adopsi AI pun tercatat kian pesat di berbagai sektor, mulai dari manufaktur, jasa keuangan, kesehatan, logistik, hingga konsumsi.

Assistant Dean (Digital Operations) di National University of Singapore (NUS) Business School, Tan Hong Ming, memaparkan bahwa nilai ekonomi digital Indonesia yang saat ini mencapai USD 100 miliar diproyeksikan terus tumbuh pesat, bahkan berpotensi menembus angka USD 65 miliar.

Menurutnya, besarnya jumlah UMKM di Indonesia justru bisa mempercepat laju pertumbuhan tersebut, seiring dengan meningkatnya pemahaman pelaku usaha soal AI di berbagai industri. Apalagi secara birokrasi, UMKM lebih mudah, tidak seperti di perusahaan besar.

"Indonesia nggak perlu copy AI negara lain karena tiap negara kondisinya berbeda seperti Singapura. Tapi Indonesia unggul di komoditas, sumber daya alam, dan UMKM yang justru bisa jadi pemenang dalam era ini," katanya dalam diskusi dengan media di Jakarta, Selasa (18/8).

Terpisah, Profesor Teo Chung Piaw, Dekan NUS Business School, mematahkan anggapan bahwa UMKM di Indonesia hanya menjadi pengguna AI semata. Dia justru optimistis sektor UMKM berpotensi menjadi salah satu kisah sukses adopsi AI di tanah air.

"UMKM itu dinamis. Mereka mampu bereksperimen dengan cepat, beradaptasi lebih lincah dibandingkan dengan korporasi besar, dan memanfaatkan AI untuk menjangkau lebih banyak pelanggan tanpa biaya operasional yang membengkak. AI memberikan kesempatan bagi bisnis skala kecil untuk menghasilkan dampak besar dengan sumber daya yang efisien," pungkas Teo.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa adopsi AI harus berjalan selaras dengan pengembangan kualitas SDM. "Setiap proyek AI wajib menyertakan rencana pengembangan SDM di samping rencana implementasi teknologinya. Perusahaan jangan lagi memandang adopsi AI dan pengembangan SDM sebagai dua hal terpisah. Keduanya harus berjalan beriringan," ungkap Teo.

Optimisme ini didukung data Microsoft Work Trend Index 2026, yang mencatat 33 persen profesional Indonesia masuk kategori pengguna AI mahir (advanced), dua kali lipat rata-rata global yang berada di kisaran 16 persen, ditopang penetrasi internet sekitar 81 persen.

instagram embed