Bukan Malas, Tapi Mahal: Mengapa Anak Muda Sulit Mandiri di Indonesia?

Mahasiswa PKN STAN
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Fauzan Alaudin Iman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap generasi selalu memiliki stereotipnya sendiri. Generasi muda hari ini kerap dicap malas, terlalu nyaman tinggal bersama orang tua, gemar menunda menikah, atau terlalu banyak menghabiskan uang untuk gaya hidup. Namun penilaian semacam itu sering kali melupakan satu kenyataan penting: menjadi mandiri di Indonesia kini semakin mahal.
Masalah anak muda hari ini bukan semata soal etos kerja. Banyak dari mereka bekerja penuh waktu, memiliki pendidikan lebih tinggi, bahkan mengambil pekerjaan tambahan. Namun ketika biaya hidup naik lebih cepat daripada pendapatan, kemandirian bukan lagi sekadar soal niat. Kemandirian menjadi soal kemampuan ekonomi.
Dalam bahasa sederhana, persoalan ini adalah pertarungan antara biaya hidup dan pendapatan.
Pendapatan Naik, Tetapi Ruang Finansial Tetap Sempit
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan rata-rata upah/gaji nasional pada Agustus 2025 sebesar Rp3,33 juta per bulan. Angka ini naik dari Rp3,27 juta pada Agustus 2024 atau sekitar 1,94 persen. Secara nominal pendapatan memang bertambah, tetapi kenaikan tersebut masih terbatas dibanding tekanan biaya hidup yang terus meningkat.
Bagi pekerja muda di kota besar, penghasilan itu harus dibagi untuk sewa tempat tinggal, makan, transportasi, internet, kebutuhan kesehatan, dan kebutuhan sosial lain yang kini sulit dihindari. Dengan kata lain, pendapatan naik, tetapi ruang bernapas finansial tetap sempit.
Di sinilah banyak kesalahpahaman muncul. Orang melihat generasi muda sudah bekerja, tetapi belum juga membeli rumah atau hidup mandiri. Padahal persoalannya bukan tidak berpenghasilan. Persoalannya adalah penghasilan yang tidak cukup kuat mengejar harga kehidupan modern.
Sumber: Badan Pusat Statistik, Rata-Rata Upah/Gaji Menurut Periode, Agustus 2024-Agustus 2025.
Menjadi Dewasa Kini Memiliki Biaya Awal yang Lebih Tinggi
Mandiri biasanya berarti tiga hal sederhana: tinggal terpisah dari orang tua, membiayai kebutuhan sendiri, dan mulai menabung masa depan. Sayangnya, tiga hal itu kini menuntut biaya awal yang semakin besar.
Di banyak kota, sewa kos layak huni sudah memakan porsi signifikan gaji pekerja muda. Belum termasuk transportasi harian yang mahal akibat jarak rumah dan tempat kerja, harga makanan yang terus naik, serta kebutuhan digital yang dulu dianggap pelengkap namun kini menjadi keharusan.
Internet, misalnya, bukan lagi sekadar gaya hidup. Ia telah menjadi kebutuhan untuk bekerja, mencari pekerjaan, belajar, dan bersosialisasi. Ponsel dan laptop juga berada pada posisi yang sama. Semua itu pada akhirnya menjadi biaya awal yang harus ditanggung generasi muda untuk bertahan dalam ekonomi modern.
Artinya, menjadi dewasa sekarang memiliki biaya awal yang jauh lebih tinggi dibanding satu atau dua generasi sebelumnya.
Pengangguran Anak Muda Masih Tinggi
Persoalan ini diperberat oleh pasar kerja yang belum sepenuhnya ramah bagi usia muda. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan tingkat pengangguran terbuka kelompok usia 15-19 tahun pada 2025 mencapai 23,34 persen, usia 20-24 tahun sebesar 14,35 persen, dan usia 25-29 tahun 6,67 persen. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding kelompok usia yang lebih matang.
Artinya, memasuki dunia kerja saja sudah tidak mudah. Bahkan ketika berhasil mendapat pekerjaan, banyak anak muda masuk ke skema kontrak jangka pendek, pekerjaan informal, atau pendapatan yang belum stabil.
Dengan kondisi seperti itu, menunda keluar rumah orang tua bukan selalu tanda kemalasan. Sering kali itu adalah keputusan ekonomi yang rasional.
Sumber: Badan Pusat Statistik, Tingkat Pengangguran Terbuka Menurut Kelompok Umur, 2025.
Rumah Menjadi Simbol Jarak Antargenerasi
Jika ada satu simbol paling nyata dari sulitnya mandiri, itu adalah rumah.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan pertumbuhan Indeks Harga Properti Perumahan pada 2025 mencapai 4,76 persen. Angka ini meningkat dibanding 2,97 persen pada 2024 dan 2,88 persen pada 2023. Di saat yang sama, rata-rata upah/gaji nasional hanya tumbuh 1,94 persen.
Artinya, harga rumah bergerak lebih cepat daripada pendapatan. Bagi banyak generasi muda, rumah bukan lagi target realistis dalam waktu dekat, melainkan tujuan yang terus menjauh.
Akibatnya, banyak orang terjebak dalam fase transisi berkepanjangan. Mereka sudah bekerja, tetapi belum memiliki tempat tinggal sendiri. Mereka berpenghasilan, tetapi belum memiliki aset.
Ini bukan sekadar masalah individu, melainkan persoalan mobilitas sosial.
Sumber: Badan Pusat Statistik, Pertumbuhan Indeks Harga Properti Perumahan 2023-2025.
Tinggal dengan Orang Tua Bukan Selalu Kemunduran
Tinggal bersama orang tua pada usia dewasa bukan fenomena khas Indonesia. OECD mencatat sekitar satu dari dua penduduk usia 20-29 tahun di negara anggotanya masih tinggal dengan orang tua pada 2022. Kenaikan biaya perumahan dan sulitnya kemandirian finansial menjadi faktor utama.
Di Indonesia, fenomena serupa sering dibaca sebagai kemunduran karakter. Padahal bisa jadi itu bentuk adaptasi ekonomi rumah tangga. Dengan tinggal bersama keluarga, pengeluaran lain seperti biaya sewa, konsumsi, dan transportasi bisa ditekan. Ini memungkinkan anak muda menabung lebih lama atau membantu ekonomi keluarga.
Alih-alih melihatnya sebagai kegagalan pribadi, kita perlu melihatnya sebagai respons rasional terhadap tekanan ekonomi.
Sumber: OECD, Society at a Glance 2024.
Mengapa Ini Penting bagi Ekonomi Nasional?
Sulitnya anak muda mandiri bukan hanya urusan generasi muda. Ini juga urusan ekonomi nasional.
Ketika generasi muda menunda membeli rumah, kendaraan, atau barang bernilai besar lainnya, permintaan terhadap sektor properti, otomotif, dan manufaktur ikut tertahan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menahan laju pertumbuhan ekonomi yang selama ini banyak ditopang konsumsi rumah tangga.
Ketika tabungan generasi muda tipis, kemampuan mereka membangun aset juga melemah. Dalam jangka panjang, basis investor domestik dan ketahanan keuangan rumah tangga ikut terdampak.
Ketika pekerjaan awal didominasi upah rendah dan pendapatan tidak stabil, produktivitas tenaga kerja nasional juga berisiko tertahan.
Dengan kata lain, krisis kemandirian anak muda hari ini dapat menjadi tantangan pertumbuhan ekonomi di masa depan.
Ini Bukan Soal Moral, Tetapi Soal Kebijakan
Terlalu mudah menyebut generasi muda malas. Jauh lebih sulit mengakui bahwa biaya hidup telah berubah lebih cepat daripada struktur pendapatan.
Jika bangsa ini ingin generasi muda lebih mandiri, nasihat untuk bekerja lebih keras saja tidak cukup. Anak muda membutuhkan pasar kerja yang sehat, upah yang tumbuh, hunian yang terjangkau, dan transportasi publik yang memadai.
Anak muda Indonesia pada dasarnya tidak kekurangan keinginan untuk mandiri. Mereka hanya memasuki fase dewasa dengan harga yang jauh lebih mahal dibanding generasi sebelumnya.
Selama biaya hidup terus melaju dan pendapatan tertahan, banyak anak muda akan terus dianggap gagal. Padahal mereka hanya sedang berjuang dalam sistem ekonomi yang membuat kemandirian semakin sulit dijangkau.
