Kumparan Logo

Bukan sekadar Tanya AI, Mahasiswa NUS Business School Diuji lewat Simulasi CEO

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
NUS Business School. Foto: Dok. NUS
zoom-in-whitePerbesar
NUS Business School. Foto: Dok. NUS

Di tengah pesatnya pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam dunia bisnis, kemampuan menghasilkan jawaban saja tidak cukup. Calon pemimpin bisnis juga perlu mampu mengajukan pertanyaan yang tepat, menguji informasi, dan mengambil keputusan di tengah ketidakpastian.

NUS Business School, National University of Singapore (NUS), mengembangkan metode pembelajaran berbasis simulasi AI untuk mengasah kemampuan tersebut.

Sejak Januari 2026, NUS Business School menguji coba simulasi yang menempatkan mahasiswa dalam situasi pengambilan keputusan bisnis. Mahasiswa harus menggali informasi melalui wawancara dengan eksekutif virtual berbasis AI, mulai dari Chief Executive Officer (CEO), Chief Financial Officer (CFO), hingga Chief Product and Technology Officer (CPTO).

Simulasi menggunakan ScholAIstic, platform AI generatif yang dikembangkan NUS AI Centre for Educational Technologies (AICET). Dr. Emir Hrnjić, Dosen Senior Departemen Finance NUS Business School, bekerja sama dengan AICET untuk mengadaptasi pendekatan ini ke dalam pendidikan manajemen.

Mahasiswa harus menentukan informasi yang dibutuhkan, mengevaluasi jawaban dari berbagai eksekutif, serta menyusun rekomendasi sendiri. Setelah wawancara, mereka juga mendapat masukan mengenai cara mengajukan pertanyaan.

“Tujuannya bukan menggantikan insting manusia dengan AI, melainkan mengasahnya dengan membantu mahasiswa lebih cermat dalam menentukan informasi apa yang perlu ditanyakan dan dipercaya,” ujar Hrnjić di NUS Business School, Singapura, dikutip Minggu (11/10).

Hingga kini, simulasi tersebut telah digunakan oleh hampir 100 mahasiswa program Master of Business Administration (MBA) dan Executive MBA di Singapura dan Jakarta. Temuan awal menunjukkan bahwa ketepatan pertanyaan dan kemampuan menindaklanjuti informasi lebih penting daripada sekadar banyak bertanya.

Perusahaan Harus Memilih AI yang Tepat

Dekan NUS Business School, Profesor Teo Chung Piaw, saat berdikusi dengan media dari Indonesia di NUS Business School, Kamis (8/10/2026). Foto: Ema Fitriyani/kumparan

Profesor Teo Chung Piaw, Dekan NUS Business School, menilai pemahaman terhadap teknologi menjadi bekal penting bagi calon pemimpin bisnis. Menurutnya, perusahaan tidak cukup hanya berinvestasi dalam AI, tetapi juga perlu memastikan teknologi yang digunakan sesuai dengan kebutuhan bisnis.

“Salah satu tugas penting kami di ruang kelas adalah mengajarkan mahasiswa untuk memahami teknologi dan memilih teknologi yang tepat untuk menyelesaikan masalah yang tepat,” ujar Teo.

Ia menjelaskan, ada tiga keterampilan utama yang perlu dikuasai mahasiswa, yakni memahami kemampuan teknologi AI, memilih teknologi yang tepat, dan mengetahui bagaimana teknologi tersebut dapat diterapkan dalam situasi nyata.

Teo mencontohkan penggunaan AI untuk menentukan harga tiket pesawat. Teknologi dapat membantu perusahaan mengoptimalkan pendapatan melalui analisis data. Namun, penggunaan data pribadi pelanggan untuk menetapkan harga dapat memicu penolakan pasar.

“Teknologi yang secara teknis bisa berfungsi dengan baik belum tentu bisa diterapkan dengan sukses di dunia nyata,” katanya.

Karena itu, perusahaan perlu mempertimbangkan efektivitas teknologi sekaligus kesesuaiannya dengan kebutuhan bisnis dan penerimaan konsumen.

Mahasiswa Indonesia Belajar AI dan Pengambilan Keputusan

Mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di NUS Business School: Theo Ishak Sianipar (kanan) dan Andri Saputra (kiri), Kamis (8/10/2026). Foto: Ema Fitriyani/kumparan

Perspektif tersebut juga dirasakan Theo Ishak Sianipar, mahasiswa program MSc Finance angkatan Agustus 2025, dan Andri Saputra, mahasiswa MSc Human Capital Management and Analytics angkatan Januari 2026.

Theo memilih NUS karena melihat relevansi pembelajarannya dengan perkembangan industri Indonesia, termasuk restrukturisasi BUMN dan konsolidasi perusahaan telekomunikasi. Ia ingin memperdalam pemahaman finansial untuk menganalisis dampak perubahan tersebut terhadap bisnis.

Selama kuliah, Theo memanfaatkan AI untuk membantu memahami materi teknis, termasuk statistik dan Python. Namun, ia menekankan pentingnya tetap mengendalikan proses penggunaan teknologi.

“Kita harus jadi driver buat AI, bukan sebaliknya,” ujar Theo.

Sementara itu, Andri, yang memiliki pengalaman sekitar lima tahun di bidang human capital, melihat AI dapat membantu analisis sumber daya manusia, termasuk dalam proses rekrutmen. Namun, ia mengingatkan bahwa hasil AI tidak boleh diterima mentah-mentah karena teknologi tersebut juga berpotensi menghasilkan bias.

Menurut Andri, analisis dapat dibantu AI, tetapi keputusan yang menyangkut manusia tetap membutuhkan pertimbangan dan sentuhan manusia.

Pengalaman keduanya memperlihatkan bahwa pendidikan bisnis di era AI bukan semata-mata tentang menguasai teknologi. Kemampuan memahami konteks, memeriksa informasi, dan mengambil keputusan secara kritis tetap menjadi bekal penting bagi calon pemimpin bisnis Indonesia.