Bunga Kredit Properti di AS Naik Jadi 6,66 Persen, Pasar Perumahan Kian Tertekan

Suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) di Amerika Serikat kembali meningkat setelah tiga pekan berturut-turut stagnan.
Kondisi ini semakin membebani keterjangkauan pembelian rumah di tengah pasar properti yang masih lesu.
Mengutip Bloomberg, rata-rata suku bunga KPR tetap (fixed-rate) tenor 30 tahun naik tipis menjadi 6,66 persen pekan ini dari pekan sebelumnya di level 6,65 persen.
Sebagai perbandingan, suku bunga berada di level 6,56 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Pasar perumahan AS sepanjang tahun ini terus menghadapi tekanan. Suku bunga pinjaman yang tinggi bertahan di tengah persoalan tarif serta kekhawatiran inflasi yang dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah.
Suku bunga KPR sempat turun di bawah 6 persen sebelum konflik pecah pada akhir Februari. Namun sejak Juli, suku bunga KPR kembali melonjak dan bertahan di atas level 6,5 persen.
Pemerintahan Presiden Donald Trump mendorong berbagai kebijakan untuk menekan suku bunga. Meski demikian, biaya pembiayaan perumahan sejauh ini belum menunjukkan tanda-tanda penurunan signifikan.
“Pasar masih terhambat oleh tingginya suku bunga,” ujar Ekonom Senior Amerika Utara Capital Economics, Thomas Ryan.
“Jika suku bunga akhirnya turun mendekati 5 persen, hal itu dapat melepaskan lonjakan permintaan yang selama ini tertahan. Hanya saja, belum jelas apa yang akan mendorong suku bunga turun serendah itu dalam waktu dekat,” lanjutnya.
Kenaikan bunga KPR berimbas langsung pada daya beli masyarakat. Penjualan rumah baru pada Juli tercatat merosot ke level terendah dalam enam bulan terakhir.
Berdasarkan data pemerintah AS, penandatanganan kontrak untuk rumah tapak baru merosot 10,5 persen pada Juli menjadi tingkat tahunan disesuaikan sebesar 607.000 unit.
Capaian tersebut berada di bawah proyeksi ekonom yang disurvei Bloomberg, yang sebelumnya memperkirakan penjualan rumah baru mampu menyentuh median 620.000 unit.
