Butuh Rp 17,39 T untuk Bangun Pabrik Pengolahan Sampah Jadi Listrik di DKI
·waktu baca 2 menit

CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani membeberkan dana yang dibutuhkan untuk pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) di DKI Jakarta adalah sekitar USD 1 miliar atau setara dengan Rp 17,39 triliun (dengan kurs Rp 17.394 per dolar AS).
Rosan menyebut pembangunan PSEL berkapasitas 1.000 ton per hari membutuhkan investasi sebesar Rp 2 triliun. Sementara pembangunan PSEL di Jakarta akan berkapasitas 8.000 ton per hari atau bahkan lebih.
“Jadi ini kalau, saya bicara (kapasitas) 8.000 ton ya, kalau (kapasitas) 8.000 ton ya investasinya kurang lebih USD 1 billion. Tapi mungkin kita akan bangunnya lebih dari 8.000, untuk bisa ambil sampah lamanya, mungkin pembangunannya bisa 10.000, 12.000 ton,” kata Rosan di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Senin (4/5).
Menurut dia, peningkatan kapasitas ini penting untuk mengatasi penumpukan sampah lama di TPST Bantargebang yang volumenya terus meningkat. Dengan teknologi terbaru, sampah lama maupun baru dapat langsung diolah tanpa harus melalui proses pemilahan.
Rosan menjelaskan pembangunan fasilitas PSEL direncanakan dilakukan di beberapa titik, termasuk Bantargebang dan Sunter. Namun, lokasi final masih akan dikaji untuk menentukan opsi paling efisien dan cepat direalisasikan.
“Tapi kita akan kaji mana yang lebih efisien dan lebih baik dan lebih cepat gitu ya. Karena targetnya kita kalau ini kita proses ini paling nggak di tahun 2028 awal itu sudah bisa beroperasi ya,” jelasnya.
Listrik Hasil PSEL Akan Dijual ke PLN USD 20 Sen per kWh
Rosan memastikan listrik yang dihasilkan dari pengolahan sampah tersebut akan dijual ke Perusahaan Listrik Negara (PLN). Dia menyebut, skema tarif penjualan listrik telah diatur pemerintah yaitu USD 20 sen per kWh.
Skema tersebut diatur Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan Melalui Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.
“Ke PLN, (tarifnya) kan sudah ada impresnya, itu harganya USD 20 sen (per kWh),” jelasnya.
