CEO Chevron Sebut Sistem Energi Global Berada di Bawah Tekanan Ekstrem
·waktu baca 2 menit

Chevron Corp. khawatir bahwa pasokan minyak global semakin menipis seiring perang AS-Israel dengan Iran memasuki bulan ketiga.
CEO Chevron, Mike Wirth, pasokan energi global saat ini berada dalam tekanan ekstrem. Dengan pasokan yang turun, maka permintaan juga akan turun.
“Itulah skenario yang paling kami khawatirkan. Jika kita tidak dapat memulihkan pasokan, permintaan akan turun di berbagai sektor ekonomi. Itulah kekhawatiran besar yang dimiliki semua orang saat kita mencoba menghindari skenario di mana hal itu menjadi ekstrem," katanya, dikutip dari Bloomberg, Sabtu (2/5).
Wirth menambahkan, perusahaannya terus berkomunikasi dengan pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Dia adalah eksekutif minyak AS terbaru yang menyampaikan kekhawatiran bahwa pasokan minyak tambahan dunia yang disimpan di darat dan di laut dapat habis jika Selat Hormuz tetap ditutup.
Sebelumnya, ConocoPhillips memperingatkan kekurangan kritis minyak untuk beberapa negara yang bergantung pada impor sudah dekat.
Perang di Iran telah mengikis permintaan minyak, dan para pedagang minyak mentah telah memperingatkan akan adanya dampak yang lebih besar di masa mendatang.
Writh menambahkan tidak ada jalan keluar dengan penutupan efektif Selat Hormuz, yang biasanya dilalui sekitar 20 persen minyak dan gas alam cair dunia.
“Sistem energi global terus berada di bawah tekanan ekstrem,” katanya.
