Dari Papua, Local Hero Pertamina Gencarkan Budi Daya Ikan Nila Lewat PLTS

Bagi sebagian orang, panel surya mungkin hanya identik dengan pembangkit listrik. Namun melalui program Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina, teknologi itu menggerakkan banyak hal menjadi sesuatu yang jauh lebih besar: menghadirkan air bersih, memperkuat ketahanan pangan, menggerakkan usaha masyarakat, hingga membuka peluang ekonomi baru di desa.
Di berbagai pelosok Indonesia, energi matahari dimanfaatkan bukan sekadar untuk menyalakan lampu. Listrik yang dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) menjadi penggerak aktivitas ekonomi masyarakat sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan pasokan listrik konvensional.
Di Kampung Posa, Distrik Klamono, Papua Barat Daya misalnya, Alfredo Nicholas Saputra Kolin mendampingi pembangunan sistem pengolahan air bersih berbasis PLTS. Sebelumnya, masyarakat hanya mengandalkan air hujan dan Sungai Klasafet yang kualitasnya kerap berubah, terutama saat musim hujan.
Melalui PLTS berkapasitas 3,3 kWp dan 5 kWh, Alfredo menjalankan Solar Water Treatment Klamono, yaitu penyediaan akses air bersih berbasis tenaga surya bagi masyarakat yang sebelumnya bergantung pada air hujan dan Sungai Klasafet yang sering keruh.
"Kita bisa melakukan kegiatan untuk kemasyarakatan dengan menggunakan bantuan sosial itu untuk berkaitan dengan budidaya ikan nila. Kami sudah menggunakan PLTS untuk menggerakkan mesin-mesin pompa dan juga mesin aerator," kata Alfredo saat berbincang bersama kumparan, Sabtu (15/8).
Masyarakat memanfaatkan bonggol jagung sebagai filter dalam sistem Solar Water Treatment. Upaya tersebut ternyata berdampak pada kenaikan produktivitas budidaya ikan nila. Bonggol tersebut bisa menjadi tambahan pakan sehingga berat masing-masing ikan bisa mencapai 2 kilogram (kg).
"Bonggol jagung itu sangat bagus untuk pertanian dan perikanan. Jadi kalau sudah pakai filter bonggol jagung, hasil airnya langsung masuk di kolam untuk budidaya, itu ikannya juga ikannya juga cepat besar. Dan sampai tercapai per ekor itu dia bisa sampai total sampai 2 kilo per ekor," ungkap Alfredo, yang merupakan Local Hero Pertamina dari PT Pertamina Drilling Services Indonesia.
Sistem Solar Water Treatment Klamono merupakan penyediaan akses air bersih berbasis tenaga surya bagi masyarakat yang sebelumnya bergantung pada air hujan dan Sungai Klasafet yang sering keruh. Sistem ini memanfaatkan penampungan air, penyaringan menggunakan karbon aktif dari bonggol jagung, serta distribusi melalui toren sehingga masyarakat memperoleh air bersih tanpa bergantung pada listrik maupun genset.
Alfredo mengatakan awal mula terpilihnya menjadi Local Hero Pertamina melalui Pertamina Drilling yang aktif menjalankan operasi pengeboran migas di Distrik Klamono. Perusahaan mendukung kegiatan budidaya ikan nila di kawasan tersebut dan memberikan bantuan pembangunan PLTS, yang berguna untuk menggerakkan mesin pompa dan aerator.
Dia mengaku masyarakat tidak mengeluarkan biaya yang besar untuk operasional PLTS, hanya biaya perawatan seperti baterai. Energi surya, kata dia, sangat berdampak pada penghematan energi, dari awalnya harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 3 juta untuk menggerakkan 5 mesin pompa, menjadi nihil. PLTS juga lebih ramah lingkungan karena rendah emisi dibandingkan generator yang menggunakan diesel.
“Luar biasa sekali, kemarin kalau tidak salah itu penggunaan per bulannya itu sampai Rp 3 juta. Setelah ada kita menggunakan PLTS itu sangat membantu, karena memang mesin-mesin yang kami pakai di situ cukup banyak, lebih dari 5 pompa,” ungkap Alfredo.
Alfredo menyebutkan bahwa kondisi energi di daerahnya masih cukup menantang. Pasalnya, aliran listrik pada rumah-rumah warga belum dapat tersambung selama 24 jam dengan sederet permasalahan alam yang menyertai. Dengan adanya PLTS tersebut, dia bersyukur bahwa ketahanan energi menjadi lebih terjamin.
“Kami di Papua kan masih ada hutan, pohon tumbang, kena listrik akhirnya untuk perikanannya bisa rugi, karena aerator itu mesti jalan 24 jam tetapi ketika hambatan karena listrik itu padam mungkin ada pohon tumbang atau gangguan di gardu, akhirnya kami merasa rugi sekali,” ujarnya.
“Nah oleh sebab itu, kalau di sini menggunakan PLTS berarti tidak ada hambatan. Tidak ada hambatan artinya kapan pun sampai ini ke kapan pun sampai 24 jam tidak ada hambatan untuk tetap listrik ada dan peralatan kami tetap bisa berjalan dengan baik,” tandas Alfredo.
VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan bahwa program DEB merupakan program TJSL yang dijalankan Pertamina yang menempatkan energi terbarukan sebagai motor penggerak perubahan.
“Kehadiran local hero seperti Alfredo membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama masyarakat. Pertamina berkomitmen untuk terus mengembangan DEB di berbagai daerah di Indonesia sesuai dengan potensinya,” tutur Baron.
Sampai dengan bulan Agustus 2026, melalui program Desa Energi Berdikari (DEB), Pertamina telah menjangkau 269 daerah dengan sumber energi 237 panel surya, 21 metana & biogas, 8 mikrohidro, 1 hybrid dan 2 biodiesel.
