Kumparan Logo

Destry Damayanti Bicara Arah Kebijakan Suku Bunga di Tengah Tekanan Global

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti di Sarasehan 100 Ekonom di Grand Ballroom Kempinski, Kamis (3/9/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti di Sarasehan 100 Ekonom di Grand Ballroom Kempinski, Kamis (3/9/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan arah kebijakan suku bunga acuan atau BI Rate ke depan akan mempertimbangkan kondisi ekonomi global yang semakin kompleks. Menurutnya, BI tidak dapat menentukan arah suku bunga hanya berdasarkan perkembangan inflasi domestik.

“Jadi kalau kita mau merespons dengan kekompleksan yang ada di dunia ini, pasti gak akan mungkin bisa dengan satu kebijakan aja,” kata Destry dalam gelaran Sarasehan 100 Ekonom di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, Kamis (3/9).

Destry menjelaskan negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa masih menghadapi tekanan inflasi yang tinggi. Kondisi itu membuat ruang bagi bank sentral negara-negara tersebut untuk menurunkan suku bunga menjadi lebih terbatas karena berisiko kembali mendorong inflasi.

Bond yield mereka kalau kita lihat yang di atas 30 tahun itu sudah di atas 5,3 persen. Kemudian yang 10 tahun juga sudah 4,6 persen, 4,5, 4,6 persen. Dari kondisi mereka yang normal biasanya cuma 3 persen,” jelas Destry.

Destry menilai situasi itu menjadi semakin kompleks karena kenaikan inflasi dan yield terjadi ketika pertumbuhan ekonomi AS justru melambat. Kondisi ini juga membuat bank sentral AS tidak dapat mengambil kebijakan hanya dengan mempertimbangkan satu indikator ekonomi.

“Kalau kita bicara kebijakan moneter kan biasanya oke BI Rate mau ke mana gitu kan. Paling arahnya seperti itu. Oh kalau misalnya inflasi mau naik BI Rate naik. Kemudian kalau inflasi lagi rendah Bi Rate-nya turun karena ada peluang untuk lebih dorong ekonomi dan seterusnya,” tutur Destry.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti (tengah), didampingi Deputi Gubernur Senior Aida S. Budiman (kiri) dan Deputi Gubernur Solikin M. Juhro, memberikan keterangan pers usai pelantikan di Mahkamah Agung, Jakarta, Rabu (2/9/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Ia menilai BI perlu memperhitungkan kondisi suku bunga global untuk menjaga daya tarik aset domestik dan memastikan aliran modal asing tetap masuk ke Indonesia.

“Tapi di satu sisi kita tahu bahwa kita harus mendorong pertumbuhan ekonomi kita. Tapi kalau kita hanya mengandalkan kebijakan moneter itu pasti gak akan cukup. Karena di satu sisi kita menghadapi situasi higher for longer dari global,” ungkap Destry.

Destry menekankan BI akan mengkombinasikan kebijakan suku bunga dengan kebijakan makroprudensial untuk memberikan stimulus terhadap perekonomian.

“Karena kita ada insentif GWM (Giro Wajib Minimum). Di mana kita memberikan tadi upaya Bank Indonesia untuk mendorong kredit sektor prioritas dan sebagainya,” ujar Destry.

Selain itu, BI juga telah mengembalikan likuiditas ke perbankan agar dapat disalurkan kembali dalam bentuk kredit. Hingga saat ini, sekitar Rp 440 triliun dana telah dialirkan ke perbankan untuk mendukung penyaluran pembiayaan. “Jadi banknya terima lagi uang untuk bisa salurkan,” tutur Destry.