Kumparan Logo

Efek Perang dengan Iran Bikin Anggaran Angkatan Laut AS Kritis

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kapal perang fregat kelas Moudge IRIS Dena dari Angkatan Laut Iran berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta sejak Sabtu (5/11). Foto: Jemima Shalimar/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kapal perang fregat kelas Moudge IRIS Dena dari Angkatan Laut Iran berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta sejak Sabtu (5/11). Foto: Jemima Shalimar/kumparan

Otoritas militer Amerika Serikat (AS) kini tengah dihadapkan pada krisis keuangan serius akibat tingginya biaya operasi perang di Iran.

Dikutip dari the Guardian, Angkatan Laut (AL) AS bahkan terpaksa mengalihkan anggaran dari rekening gaji pegawai dan sumber dana lainnya demi menutupi biaya operasional tempur yang membengkak.

Seorang pensiunan perwira AL, Harlan Ullman, menyebut kondisi keuangan internal militer saat ini sudah berada di titik kritis. “Celengan itu sudah pecah,” kata Harlan dikutip dari the Guardian, Senin (31/8).

Masalah keuangan ini dipicu oleh tingginya intensitas operasi bersama AS-Israel sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026. Operasi tersebut tidak hanya menguras stok amunisi AS, tetapi juga memicu serangan balasan dari Iran yang merusak pangkalan-pangkalan strategis di kawasan Timur Tengah.

Tentara AL AS menjadi pihak yang paling terdampak karena harus menanggung biaya gelombang serangan awal hingga blokade laut skala besar.

Dalam dokumen memo Pentagon yang terungkap, terlihat adanya defisit signifikan pada akun gaji personel akibat praktik pengalihan dana (raiding) untuk membiayai operasi darurat di luar negeri. Seorang pejabat AL mengonfirmasi manajemen terpaksa memutar otak secara kreatif untuk menutupi kekurangan tersebut.

“Uang untuk gaji, dirampok untuk membayar kontinjensi di luar negeri dan ditutup kembali menggunakan uang yang belum dibelanjakan. Mereka menutup kembali anggaran gaji agar kita tetap menerima uang yang cukup dalam cek gaji,” ujarnya.

Anggaran tentara AL AS tahun 2026 yang mencapai hampir USD 300 miliar memiliki alokasi dana berbeda yang ditetapkan Kongres untuk berbagai kebutuhan seperti personel, pembuatan kapal, pengadaan sistem senjata tertentu, dan operasi dan pemeliharaan, untuk operasional harian armada beserta pangkalan-pangkalannya.

Undang-undang membatasi bagaimana uang dapat diatur ulang di antara seluruh alokasi dana tersebut. Pemerintah AS sebenarnya telah mengajukan permohonan dana darurat sebesar USD 67 miliar ke Kongres, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyebut perang Iran sendiri telah menelan biaya USD 35,7 miliar.

Namun, proses persetujuan di Capitol Hill berjalan alot akibat makin tidak populernya perang tersebut di mata publik dan tidak adanya resolusi resmi otorisasi penggunaan kekuatan dari Kongres.

Meski demikian, pihak resmi AL AS membantah bahwa dana operasi mereka telah habis sepenuhnya.

“Departemen Angkatan Laut, secara aktif mengelola sumber dayanya untuk memenuhi kewajiban pembayaran gaji saat ini secara tepat waktu. Kami terus bekerja sama secara erat dengan Kongres untuk menanggapi tuntutan operasional yang sedang berlangsung serta mempertahankan personel dan kesiapan kami sepanjang tahun anggaran,” kata Jubir AL AS.