Ekonom Ingatkan Bank Petakan Risiko Kredit Bermasalah Imbas Dampak El Nino

Fenomena El Nino dinilai berpotensi mempengaruhi kualitas kredit perbankan karena dampaknya terhadap sektor riil, terutama usaha yang bergantung pada kondisi cuaca.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Randy Manilet, menilai kekeringan berkepanjangan dapat mengganggu produksi, meningkatkan biaya operasional, dan menekan pendapatan debitur.
“Kondisi ini dapat melemahkan kemampuan membayar cicilan dan meningkatkan risiko kredit bermasalah. Dampaknya tidak akan merata pada seluruh bank. Risiko lebih besar terdapat pada bank yang memiliki konsentrasi pembiayaan tinggi di sektor dan wilayah rentan terhadap kekeringan,” ujar Yusuf kepada kumparan, Senin (12/10).
Menurut Yusuf, sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, serta industri makanan dan minuman termasuk yang berpotensi terdampak. Penurunan produksi dan kenaikan biaya usaha dapat menekan arus kas debitur, yang pada akhirnya meningkatkan risiko kredit bermasalah.
Meski begitu, Yusuf menyebut belum ada indikasi kalau El Nino telah memicu lonjakan kredit bermasalah secara nasional. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross masih berada di sekitar 2,10 persen, sedangkan loan at risk sedikit menurun.
“Risiko gagal bayar tetap perlu diwaspadai apabila kekeringan berlangsung lama dan bertepatan dengan musim kemarau,” kata Yusuf.
Yusuf menjelaskan debitur usaha kecil dan menengah lebih rentan karena umumnya memiliki cadangan kas, akses pembiayaan, dan perlindungan usaha yang terbatas. Tekanan juga berpotensi lebih besar di wilayah dengan curah hujan jauh di bawah normal, terutama jika penurunan produksi berlangsung selama beberapa musim tanam. Namun, Yusuf menilai belum ada dasar yang cukup untuk memperkirakan kenaikan NPL nasional dalam persentase tertentu.
“Tetapi pengaruhnya terhadap kualitas kredit secara agregat cenderung terbatas karena diversifikasi portofolio dan pencadangan perbankan,” ungkap Yusuf.
Secara keseluruhan, Yusuf memperkirakan dampak El Nino terhadap industri perbankan cenderung moderat dan belum mengarah pada risiko sistemik. Tekanan diperkirakan lebih terkonsentrasi pada debitur, bank, dan Bank Perekonomian Rakyat (BPR) yang memiliki kebergantungan tinggi pada sektor pertanian atau beroperasi di daerah rawan kekeringan.
“Karena itu, mitigasi perlu dilakukan sejak awal melalui pemantauan arus kas debitur, penyesuaian pencadangan, pemetaan kredit berdasarkan sektor wilayah, serta restrukturisasi secara selektif terhadap usaha yang masih layak,” ungkap Yusuf.
Sementara itu, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Rizal Taufikurahman, menilai risiko El Nino terhadap kualitas kredit perbankan cukup signifikan, terutama pada sektor pertanian, perkebunan, industri pengolahan pangan, dan UMKM. Kekeringan berkepanjangan berpotensi menurunkan produktivitas, meningkatkan biaya produksi, serta menekan arus kas debitur.
“Kondisi ini dapat memperlemah kapasitas pembayaran kredit dan meningkatkan risiko pemburukan kualitas aset perbankan, khususnya pada wilayah dengan ketergantungan ekonomi tinggi terhadap sektor primer,” ucap Rizal saat dihubungi kumparan.
Dalam skenario El Nino berat dan berkepanjangan, Rizal memperkirakan NPL pada portofolio sektor terdampak berpotensi meningkat sekitar 0,5–1,5 poin persentase dalam 6–12 bulan. Namun, angka tersebut merupakan estimasi skenario indikatif, bukan proyeksi empiris. Besarnya kenaikan risiko akan bergantung pada intensitas kekeringan, ketahanan likuiditas debitur, dan konsentrasi eksposur kredit perbankan.
“Namun, dampak terhadap NPL perbankan secara agregat diperkirakan lebih terbatas karena diversifikasi portofolio pembayaran,” terang Rizal.
Rizal juga mengingatkan risiko El Nino tidak hanya berkaitan dengan peningkatan gagal bayar, tetapi juga kemungkinan perbankan memperketat penyaluran kredit. Jika terjadi secara luas, pengetatan kredit justru dapat memperlemah aktivitas sektor riil yang terdampak kekeringan.
“Perbankan perlu memperkuat early warning system, melakukan stress testing berbasis risiko iklim, serta menerapkan restrukturisasi selektif bagi debitur yang masih produktif,” jelas Rizal.
Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai fenomena El Nino bisa meningkatkan risiko terhadap kualitas aset perbankan. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan fenomena El Nino tahun ini perlu dicermati industri perbankan karena dampak yang menjalar dari sektor riil ke sektor keuangan.
Sektor yang memiliki kebergantungan tinggi terhadap kondisi cuaca menjadi kelompok yang paling berpotensi terdampak, seperti pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, serta industri makanan dan minuman.
