Konten dari Pengguna

Ekonomi Indonesia Memasuki Fase "Survival Mode"

Muhammad Rifandi Syarifuddin

Muhammad Rifandi Syarifuddin

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Sriwijaya

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Rifandi Syarifuddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: Biro KLI-Zalfa Dhiaulhaq/kemenkeu.go.id
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: Biro KLI-Zalfa Dhiaulhaq/kemenkeu.go.id

Kita sudah memasuki "survival mode". Artinya kita sudah tidak boleh main-main lagi. Kita enggak ada ruang atau enggak ada luxury untuk bermain-main lagi dengan segala peluang yang kita bisa buat.

Pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahwa Indonesia sedang memasuki fase “survival mode” menimbulkan perhatian besar di tengah kondisi ekonomi yang penuh tekanan.

Pelemahan rupiah, ketidakstabilan pasar keuangan, meningkatnya beban pembayaran utang, hingga ketidakpastian ekonomi global menjadi faktor yang membuat pemerintah dituntut lebih berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan.

Ilustrasi ekonomi hijau. Foto: Pixabay

Oleh karena itu, berbagai tekanan ekonomi yang mulai terlihat saat ini perlu dipahami secara serius, karena kondisi tersebut menunjukkan bahwa ruang kesalahan kebijakan ekonomi Indonesia semakin sempit.

Sinyal Rapuh dari Pasar dan Rupiah

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS adalah salah satu sinyal bahwa ada tekanan pada ekonomi Indonesia. Rupiah telah mengalami depresiasi yang cukup tajam dalam beberapa waktu terakhir, yang menunjukkan peningkatan tekanan terhadap stabilitas ekonomi negara. Pasar keuangan dan biaya produksi juga terkena dampak pelemahan nilai tukar.

Kondisi pasar modal Indonesia juga menunjukkan tekanan. Sementara itu, pasar saham Indonesia kurang baik dibandingkan beberapa negara lain di Asia—arus modal asing mulai keluar dari pasar domestik. Kondisi ini menunjukkan bahwa investor cenderung lebih berhati-hati terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Ilustrasi ketimpangan fiskal akibat meningkatnya utang dan beban bunga yang menekan ruang anggaran negara. Foto: Generated by AI

Selain itu, kondisi ekonomi nasional diperburuk oleh tekanan global. Sementara perlambatan ekonomi Tiongkok memengaruhi perdagangan dan ekspor Indonesia, investor memilih aset berbasis dolar karena suku bunga tinggi di AS. Semua faktor ini menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia sedang berada di bawah tekanan yang signifikan.

Ruang Fiskal yang Makin Sempit

Tantangan ekonomi Indonesia juga terlihat dari kondisi fiskal negara yang semakin terbatas. Jumlah utang pemerintah terus meningkat, diikuti dengan beban pembayaran bunga utang yang meningkat setiap tahunnya. Akibatnya, sebagian besar pendapatan negara harus dialokasikan untuk memenuhi kewajiban pembiayaan tersebut. Akibatnya, ruang pemerintah untuk belanja produktif semakin terbatas.

Sebaliknya, defisit anggaran negara masih menjadi masalah. Kemampuan fiskal pemerintah harus diimbangi dengan kebutuhan belanja negara. Keterbatasan ruang fiskal saat ini membuat setiap kebijakan pengeluaran negara harus dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak membahayakan stabilitas ekonomi nasional.

Belanja Besar di Tengah Tekanan Fiskal

Ilustrasi mengatur uang belanja. Foto: Shutterstock

Meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mendukung generasi produktif Indonesia di masa depan adalah dua tujuan sosial penting yang dipenuhi oleh program. Namun, besarnya kebutuhan anggaran di tengah tekanan ekonomi memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan pembiayaan negara dalam jangka panjang.

Kondisi ini menyebabkan perdebatan tentang apa yang harus menjadi prioritas anggaran pemerintah. Dalam menentukan kebijakan ekonomi nasional, pemerintah berada dalam posisi yang sulit karena—di satu sisi—mereka harus menjaga stabilitas fiskal dan mengendalikan defisit anggaran. Di sisi lain, mereka juga harus mendorong pembangunan sosial dan ekonomi.

Cara Kita Bisa Selamat?

Membangun perlindungan keuangan pribadi adalah langkah pertama dalam situasi "survival mode". Masyarakat harus memastikan perlindungan kesehatan seperti BPJS atau asuransi tetap aktif dan memiliki dana darurat yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup selama beberapa bulan. Biaya hidup dan kesehatan dapat meningkat secara bertahap dalam situasi ekonomi yang tidak stabil. Peningkatan ini dapat mengganggu kestabilan keuangan keluarga.

Ilustrasi masyarakat. Foto: Dmitry Nikolaev/Shutterstock

Masyarakat juga harus lebih hati-hati dengan pengeluaran dan aset mereka. Di tengah pelemahan rupiah, sebagian aset dapat dialihkan ke instrumen yang lebih defensif seperti emas atau dolar untuk menjaga nilai kekayaan, sementara pengeluaran konsumtif dan utang yang tidak mendesak harus dikurangi.

Kemampuan diri sendiri tetaplah kekuatan yang paling penting dalam menghadapi tekanan ekonomi. Meningkatkan keterampilan, mencari pekerjaan tambahan, dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar kerja menjadi langkah yang semakin penting di tengah perubahan ekonomi global.

Pada akhirnya, kemampuan untuk bertahan dalam masa "mode hidup" tidak hanya bergantung pada kebijakan negara, tetapi juga pada kesiapan masyarakat untuk beradaptasi dengan perubahan dan mempertahankan ketahanan ekonominya.