Ekspor Saudi Terganggu, Harga Minyak Dunia Melesat ke Level Tertinggi Sejak Mei

Harga minyak dunia ditutup naik sekitar USD 3 pada Selasa (15/9), menyusul dihentikannya fasilitas pemuatan minyak mentah di pusat ekspor Yanbu, Arab Saudi, imbas serangan drone.
Dikutip dari Reuters, harga minyak Brent ditutup naik USD 3,07 atau 2,9 persen menjadi USD 108,75 per barel, sementara WTI melonjak USD 4,44 atau 4,38 persen menjadi USD 105,83 per barel. Kenaikan harga minyak ini menyentuh level tertinggi sejak 19 Mei.
Tak hanya di Yanbu, fasilitas di Riyadh turut membatalkan sejumlah pengiriman kargo kepada pelanggan di Eropa. Kondisi ini memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak Arab Saudi akan semakin meluas, sehingga mendorong investor beralih ke minyak mentah AS sebagai alternatif pasokan.
Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, menilai pembatalan sejumlah pengiriman minyak mentah Saudi ke Eropa memperkuat ekspektasi pasar bahwa kilang-kilang Eropa akan beralih menggunakan pasokan dari AS. Kondisi inilah yang ikut mendorong penguatan harga WTI.
Pelabuhan Yanbu telah menjadi sangat vital bagi pasokan minyak global sejak perang AS-Israel di Iran menyebabkan penutupan Selat Hormuz.
Situasi ini memaksa Arab Saudi mengalihkan pengiriman minyak mentahnya ke arah barat melalui jaringan pipa East-West sepanjang sekitar 1.200 kilometer, yang membawa minyak dari wilayah timur menuju Yanbu di pesisir barat. Dengan jalur ini, ekspor tetap bisa dilakukan melalui Laut Merah tanpa perlu melewati Selat Hormuz yang tengah terganggu.
Di luar konflik Iran, tekanan terhadap pasokan minyak global juga datang dari Libya. National Oil Corporation (NOC) mengungkapkan operasi di tiga ladang minyak terpaksa dihentikan setelah anggota Petroleum Facilities Guard melancarkan aksi protes dan menutup katup pada pipa ekspor minyak mentah Hamada-Zawiya.
Kelompok tersebut bahkan memperingatkan penghentian operasi berpotensi diperluas apabila tuntutan mereka tidak segera dipenuhi. NOC menyebut pihaknya dapat menetapkan kondisi force majeure jika katup itu tetap ditutup atau bila ladang minyak lain ikut terdampak dan terpaksa menghentikan produksi.
Sementara itu, serangan yang terus berlangsung terhadap infrastruktur energi di Rusia dan Ukraina turut memberikan tekanan tambahan pada pasar. Kondisi ini membuat kontrak berjangka diesel AS serta diesel crack spread mencatatkan penutupan pada level tertinggi sepanjang masa.
