Kumparan Logo

El Nino Bikin Bendungan Susut, Pasokan Air ke PLTA Terancam

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Situasi PLTA Cirata, satu-satunya PLTA bawah tanah (underground) di Indonesia. Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Situasi PLTA Cirata, satu-satunya PLTA bawah tanah (underground) di Indonesia. Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyatakan kekeringan karena fenomena El Nino menyebabkan permukaan bendungan menyusut, yang mengancam pasokan air untuk operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Wakil Menteri PU, Diana Kusumastuti, menyebut terdapat 250 bendungan yang tersebar di Indonesia. Sebagai infrastruktur penyediaan air, bendungan tidak hanya berfungsi untuk irigasi, namun juga berperan sebagai pengendalian banjir, air baku, bahkan untuk wisata dan pembangkit listrik.

Diana mencontohkan Bendungan Meninting di Lombok Barat, NTB, yang bisa menampung air 12,18 juta meter kubik. Hanya saja saat musim kemarau seperti saat ini, permukaan airnya menurun.

"Walaupun sekarang pada musim kemarau ini agak turun...tapi Insyaallah masih bisa kita kendalikan," ujar Diana saat EBTKE ConEx 2026 di Jakarta, Kamis (3/9).

Mengatasi berkurangnya debit air di bendungan, Diana menyebut Kementerian PU akan melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

"Mungkin nanti kita juga masalah El Nino kita dengan OMC dan sebagainya untuk mengatur," kata Diana.

Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Diana Kusumastuti saat berbincang bersama media di kantor Kementerian PU, Rabu (29/10/2025). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Diana memaparkan, bendungan dapat mendukung upaya transisi energi. Saat ini, potensi PLTA yang dapat dikembangkan dari bendungan mencapai sekitar 751,6 megawatt (MW). Setidaknya ada 5 PLTA bendungan yang akan diprioritaskan yakni Saguling, Cirata, Jatiluhur, Gajah Mungkur, dan Jatigede.

Sementara potensi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung yang dapat dibangun di bendungan juga sangat besar, sekitar 10.854,15 MW. Beberapa bendungan yang dapat dimanfaatkan yakni Bendungan Bajulmati dan Jatibarang.

"Ini potensi untuk menunjukkan bahwa bendungan ini memiliki peran yang strategis untuk mendukung peningkatan bauran energi terbarukan, sekaligus juga memperkuat ketahanan energi Indonesia," jelas Diana.

Sementara itu Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, membenarkan El Nino mempengaruhi operasional PLTA.

"Pastinya ada pengaruh, tapi kalau sudah pembangkitan itu wilayah dirjen listrik. Kalau kami melihatnya ya kita dorong terus PLTA-nya. Dan PLTA kan kebanyakan peaker, jadi dipakai pada saat dibutuhkan dan itu range-nya besar," tuturnya.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Kamis (17/7). Widya/kumparan Foto: Widya Islamiati/kumparan

Dengan sifat PLTA yang mayoritas peaker alias dirancang khusus untuk menyuplai lonjakan kebutuhan listrik pada beban puncak, maka pengurangan debit air di sungai maupun bendungan, kata Eniya, tidak terlalu berdampak.

"Misalnya dia mampu menghasilkan 110 MW kayak di Jatigede. Nah di situ, peaker-nya hanya sedikit. Jadi kalaupun agak surut, itu belum mengganggu delivery," jelas Eniya.

Kendati demikian, Eniya menegaskan fenomena El Nino yang berkelanjutan tentu akan mengganggu pasokan energi bersih secara masif. Sehingga antisipasinya dengan mengandalkan sumber energi lain, misalnya tenaga surya atau panas bumi.

"Tetapi memang El-Nino yang berkepanjangan nanti pasti akan mempengaruhi. Maka sebetulnya di rancangan EBT yang sekarang direvisi juga memperhatikan masalah itu. Semoga sih El Nino gak panjang-panjang amat ya," tandasnya