Electrum Fokus B2B, Bidik Pengemudi Jarak Jauh Dorong Ekosistem Motor Listrik

Electrum memilih fokus dalam membidik pengemudi komersial berjarak tempuh tinggi. Perusahaan motor listrik ini optimistis segmen pengguna harian intensif mampu mendorong adopsi dan penggunaan kendaraan listrik secara signifikan.
Chief Executive Officer (CEO) Electrum, Jack Yang, mengatakan fokus bisnis Electrum kini masih dalam mengalihkan kilometer yang ditempuh kendaraan berbasis BBM menjadi kilometer berbasis listrik.
“Fokus kami selama ini adalah menargetkan pengemudi dengan jarak tempuh tinggi dan perjalanan jarak jauh dari seluruh pengendara sepeda motor, lalu mengubah mereka menjadi pengguna kendaraan listrik,” Jack kepada kumparan di Kantor Electrum, Jakarta Selatan, Selasa (11/8).
Jack menyebut sekitar 15 persen pengendara sepeda motor dengan jarak tempuh tertinggi menyumbang lebih dari 50 persen total kilometer perjalanan sepeda motor. Sementara itu, pengemudi komersial yang bekerja untuk platform seperti Gojek dan Grab serta sektor logistik dapat menempuh sekitar 100 hingga 200 kilometer per hari.
“Jadi, bagi saya, dengan mengonversi satu pengemudi komersial, sebenarnya mereka dapat mengoperasikan hampir 10 kali lipat kilometer secara listrik, dibandingkan kilometer yang dapat saya operasikan secara listrik jika saya hanya mendapatkan satu pengguna rumah tangga,” jelas Jack.
Kemudian, Jack pun mengatakan model bisnis Electrum dibangun sebagai penyedia layanan mobilitas yang terintegrasi. Selain menyediakan kendaraan listrik, Electrum juga menyediakan layanan energi dan infrastruktur penukaran baterai (battery swapping) untuk mendukung kebutuhan pengguna dengan mobilitas tinggi.
“Tidak hanya menyediakan alatnya, yaitu sepeda motor, tetapi juga layanannya, kami juga menyediakan energi dan kemudian infrastruktur untuk menyalurkan energi tersebut kepada pengguna kami dan menjadi perusahaan yang terintegrasi secara vertikal,” jelas Jack.
Targetkan Jadi Pemimpin Mobilitas Motor Listrik dalam Tiga Tahun
Dalam tiga tahun ke depan, Jack optimistis Electrum dapat mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin pasar atau market leader pada segmen mobilitas Business-to-Business (B2B).
“Kami juga tentu berharap dapat membangun produk yang cukup bagus untuk para komuter jarak jauh, karena kami hanya ingin mengalihkan lebih banyak kilometer jarak tempuh ke tenaga listrik,” jelas Jack.
Seiring berjalannya waktu, Jack mengatakan Electrum berkomitmen untuk terus mendorong tingkat penetrasi kendaraan listrik di Indonesia agar dapat melonjak dari angka satu digit saat ini menuju tingkat dua digit di masa mendatang.
“Dengan begitu, Electrum dapat menjadi penyedia layanan yang andal di masa depan tersebut,” imbuh Jack.
Kemudian ia menegaskan kesiapan perusahaan dalam menghadapi pergeseran regulasi maupun pengetatan kebijakan insentif pemerintah di Indonesia.
Kata Jack, sejak awal berdiri, perusahaan telah menerapkan prinsip kemandirian bisnis tanpa menggantungkan pertumbuhan pada fasilitas insentif negara.
“Electrum berhasil memiliki bisnis yang mandiri dan sustainable hingga saat ini. Namun apabila pemerintah nantinya akan membantu dari segi insentif kita sangat berterima kasih,” tutur Jack.
Jack pun kembali menekankan, Electrum berhasil mencatatkan kinerja bisnis yang tetap solid dan tumbuh pesat tanpa menerima alokasi insentif pemerintah pada siklus sebelumnya.
Di tengah kompetisi industri yang dinamis, Electrum terbukti mampu mencatatkan pertumbuhan signifikan. Berdasarkan data semester I 2026, perusahaan juga berhasil membukukan kenaikan performa lebih dari 184 persen secara tahunan.
“Tentu saja jika insentif pemerintah ada, kita bisa menjadi penerima manfaat dari insentif tersebut,” sebut Jack.
Lebih dari 550 Lokasi Penukaran Baterai di Jabodetabek dan Surabaya
Berdasarkan data laba semester pertama, Electrum saat ini telah memiliki lebih dari 550 lokasi penukaran baterai di kawasan Jabodetabek dan juga Surabaya. Jack pun telah memetakan sekitar 1.000 lokasi berikutnya yang menjadi target pengembangan jaringan penukaran baterai.
“Kita sudah tahu seribu lokasi berikutnya di mana kita ingin mengembangkannya,” ujar Jack.
Dalam aspek keselamatan, Electrum menggunakan sel baterai dari pemasok tier one serta teknologi baterai dengan kepadatan energi tinggi seperti jenis Nickel Manganese Cobalt (NMC). Kata Jack, pemilihan teknologi tersebut memungkinkan perusahaan menggunakan baterai yang lebih ringan sekaligus menjaga standar keselamatan.
“Jadi kami memilih untuk menggunakan kimia baterai yang lebih mahal, tetapi memiliki densitas energi yang lebih tinggi, oleh karena itu ukurannya lebih kecil, baterainya jauh lebih ringan dibandingkan dengan alternatifnya,” sebutnya.
Electrum juga menggunakan teknologi untuk menjaga konsistensi arus, tegangan, dan suhu pada setiap sel baterai guna mencegah thermal runaway yang dapat memicu kebakaran atau kecelakaan.
“Saya pikir itulah mengapa sejauh ini kami melakukan ratusan, (hingga) puluhan ribu penukaran baterai setiap hari,” imbuh Jack.
Jack kemudian menyinggung salah satu program pemanfaatan baterai untuk masa pakai kedua dari Electrum, yaitu program yang memanfaatkan kembali baterai perusahaan yang telah habis masa pakainya atau retired untuk digunakan oleh komunitas off-grid di Sumba, Nusa Tenggara Timur.
“Program ini bisa membantu lebih banyak orang mendapatkan akses energi seperti untuk menyalakan wifi, lampu yang berasal dari baterai kita yang sudah retired,” sebut Jack.
Ia menegaskan program tersebut murni merupakan inisiatif sosial, dan menempatkannya sebagai bagian dari komitmen tanggung jawab sosial perusahaan.
“Terkadang dampak dari sebuah bisnis tidak bisa hanya diukur dari jumlah keuntungan yang diperoleh, dampaknya juga harus dilihat dari sudut pandang dampak sosial, kami ingin melakukan lebih baik lagi di area tersebut,” lanjutnya.
Adapun kinerja Electrum melonjak signifikan di semester pertama 2026. Jumlah pengguna melesat lebih dari 100 persen hingga menembus angka 14.000. Pertumbuhan tersebut juga diikuti dengan peningkatan profitabilitas dan utilisasi aset perusahaan.
“Pada enam bulan pertama tahun ini, pertumbuhan kita sudah menembus lebih dari 100 persen dibandingkan tahun lalu. Dan hebatnya, disaat kita tumbuh lebih dari 100 persen dalam kurun waktu enam bulan, tingkat profitabilitas kita juga ikut meningkat,” ujar Jack.
Jack menambahkan, pertumbuhan pengguna tersebut terjadi di tengah kondisi ekonomi yang dinilai semakin menantang, seperti tekanan nilai tukar dan kenaikan suku bunga domestik sekitar 100 basis poin.
“Jadi lingkungannya menjadi lebih makro bagi aspek bisnis, tetapi pertumbuhan kita lebih dari 100 persen, profitabilitas meningkat, pemanfaatan aset meningkat,” kata Jack.
Electrum merupakan perusahaan patungan TBS Group dan GoTo Group yang menjadi bagian dari lini bisnis TBS Group dalam mengembangkan elektrifikasi serta ekosistem kendaraan listrik roda dua di Indonesia. Langkah iniini sejalan dengan transformasi TBS Group dari bisnis batu bara menuju pengembangan infrastruktur yang lebih berkelanjutan.
