Kumparan Logo

Emiten Tambang (DOID) Raih Pendapatan Rp 5,68 T pada Kuartal I 2026

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA), anak perusahaan utama dari PT BUMA Internasional Grup Tbk, salah satu kontraktor pertambangan batu bara independen di Indonesia,  telah melakukan penerbitan perdana Sukuk Ijarah I BUMA 2025 senilai Rp2 triliun. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA), anak perusahaan utama dari PT BUMA Internasional Grup Tbk, salah satu kontraktor pertambangan batu bara independen di Indonesia, telah melakukan penerbitan perdana Sukuk Ijarah I BUMA 2025 senilai Rp2 triliun. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Emiten jasa pertambangan, PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID), membukukan pendapatan sebesar USD 318 juta atau sekitar Rp 5,68 triliun pada kuartal I 2026 (kurs Rp 17.881 per dolar AS). Meski turun 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, perseroan berhasil mencatat perbaikan profitabilitas seiring pemulihan kinerja operasional dan penguatan disiplin biaya.

Dalam laporan keuangan, Minggu (31/5), DOID mencatat laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar USD 28 juta, melonjak 98 persen dibandingkan USD 14 juta pada kuartal I 2025. Margin EBITDA juga meningkat menjadi 11 persen, dari sebelumnya 5 persen.

Manajemen menyebut kinerja tersebut diraih di tengah kuartal yang secara musiman menjadi periode paling menantang akibat tingginya curah hujan. Namun, perseroan mampu menjaga produktivitas melalui perbaikan struktural pada operasional, efisiensi biaya, serta pembentukan tim ahli terpusat untuk mendukung peningkatan kinerja di seluruh lini operasi.

Dari sisi operasional, jam non-produktif di Indonesia turun 14 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Produktivitas alat ukur bank cubic meter (BCM) per jam meningkat 1 persen, sementara biaya unit per BCM turun 1 persen. Efisiensi juga tercermin dari biaya tenaga kerja per BCM yang turun 4 persen, didukung optimalisasi penempatan operator dan disiplin kerja.

Emiten jasa kontraktor pertambangan batu bara, PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID). Foto: BUMA Internasional Grup

Sementara itu, volume pengupasan lapisan tanah penutup (overburden removal) tercatat 89 juta BCM atau turun 12 persen secara tahunan. Produksi batu bara juga turun 20 persen menjadi 15 juta ton. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi berakhirnya sejumlah kontrak tambang di Indonesia dan Australia serta proses ramp-down pada beberapa lokasi operasi selama 2025.

Meski demikian, harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) bisnis kontraktor pertambangan meningkat 3 persen dibandingkan tahun lalu. Kenaikan ini didorong oleh porsi kontrak rise-and-fall yang lebih tinggi serta penyesuaian tarif yang mengikuti pergerakan harga batu bara.

DOID juga berhasil memangkas rugi bersih menjadi USD 24 juta pada kuartal I 2026, jauh membaik dibandingkan rugi bersih USD 70 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perbaikan tersebut didukung oleh kenaikan EBITDA, keuntungan USD 12 juta dari penjualan aset lahan dalam rangka optimalisasi portofolio ACG, penurunan kerugian investasi di 29Metals sebesar USD 12 juta, serta tidak adanya pencadangan piutang di Australia yang sebelumnya membebani kinerja pada kuartal I 2025.

Belanja modal (capital expenditure/capex) perusahaan tercatat sebesar USD 20 juta yang difokuskan untuk menjaga keandalan armada dan mendukung keberlanjutan operasional. Adapun arus kas bebas (free cash flow) berbalik positif menjadi USD 2 juta dari posisi negatif USD 19 juta pada kuartal I 2025. Perbaikan tersebut ditopang oleh hasil penjualan lahan senilai USD 17 juta serta pemulihan EBITDA dan belanja modal yang lebih rendah.

Direktur BUMA International Group Iwan Fuad Salim mengatakan pemulihan yang dibangun sepanjang 2025 terus berlanjut pada awal tahun ini. Menurut dia, peningkatan EBITDA hampir dua kali lipat di tengah penurunan pendapatan menunjukkan efektivitas strategi efisiensi dan peningkatan produktivitas yang dijalankan perusahaan.

"Kuartal I 2026 menunjukkan bahwa pemulihan yang kami bangun sepanjang 2025 terus berlanjut di kuartal yang secara musiman penuh tantangan. EBITDA meningkat hampir dua kali lipat secara tahunan meskipun pendapatan lebih rendah, didukung oleh disiplin biaya yang lebih kuat dan peningkatan produktivitas," ujar Iwan. Ia menambahkan, fokus perusahaan ke depan adalah menjaga eksekusi operasional tetap solid saat memasuki periode cuaca yang lebih kering pada kuartal kedua dan ketiga.