FEKDI x IFSE 2026 Catat 340 Pertemuan Business dan Talent Matching

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Filianingsih Hendarta membeberkan gelaran Festival Ekonomi dan Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) dan Indonesia Fintech Summit & Expo (IFSE) 2026 mencatat lebih dari 340 pertemuan melalui program Business and Talent Matching. Dia menyebutkan dari rangkaian pertemuan tersebut, terdapat 72 tim yang mendapatkan minat dari off-taker. “Yang tidak kalah menggembirakan adalah penyelenggaraan, Business and Talent Matching, telah menghasilkan engagement total sebanyak lebih dari 340 pertemuan yang menghasilkan 72 tim yang mendapatkan minat off-taker,” kata Filianingsih dalam clowing ceremony FEKDI x IFSE 2026 di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (26/9). Mulanya Filianingsih mengatakan FEKDI x IFSE 2026 merupakan flagship event yang diselenggarakan bersama BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Kegiatan ini juga melibatkan lintas otoritas, kementerian dan lembaga, Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI), serta Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH). FEKDI x IFSE 2026 berlangsung selama tiga hari sejak 24 September 2026 dengan mengusung tema mempererat sinergi, maju inovasi, dan mencetak talenta unggul berdaya saing global untuk kemajuan ekonomi keuangan digital nasional. Filianingsih mengatakan tema tersebut dipilih karena sinergi antara otoritas dan industri sebenarnya telah terbangun. FEKDI x IFSE 2026 diarahkan untuk mempererat sinergi yang sudah ada. “Kenapa mempererat? Karena kita sudah punya itu sinergi. Sekarang kita ingin mempererat lagi sinergi yang sudah ada. Jadi kita tidak menciptakan hal yang baru, tetapi sudah ada,” ujarnya. Menurut Filianingsih, penyelenggaraan FEKDI kini telah memasuki tahun ketujuh, atau seumuran dengan QRIS. Rangkaian kegiatan tahun ini menekankan tiga pilar, yaitu penguatan sinergi lintas otoritas dan industri, akselerasi inovasi teknologi keuangan, serta pengembangan talenta digital nasional yang unggul dan mampu bersaing secara global. Pada hari pertama, FEKDI x IFSE menjadi wadah forum koordinasi dan dialog strategis sekaligus mendiseminasikan berbagai kebijakan ekonomi nasional. Tema yang diangkat adalah sinergi nasional untuk memperkuat ekonomi dan keuangan digital guna mengakselerasi produktivitas ekonomi. Filianingsih menekankan inovasi yang dikembangkan harus dapat digunakan dan memberikan manfaat bagi perekonomian, bukan sekadar menjadi produk untuk dipamerkan. “Inovasi bercuma kalau dibuat untuk gaya-gayaan. Kalau tidak bisa dipakai. Hanya bagus dilombakan dan bagus di kertas. Yang kita inginkan adalah inovasi yang bisa dipakai. Yang bisa meningkatkan produktivitas. Jadi yang bisa membentuk ekonomi keuangan inklusif,” jelasnya. Pada hari pertama juga digelar seremoni Gebyar Transformasi Digital Nasional yang menandai sinergi BI dengan kementerian dan lembaga, OJK, Satgas Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (P2DD), serta Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TPID). Memasuki hari kedua, tema yang diangkat adalah membangun talenta digital dan mendorong inovasi yang memperkuat daya saing ekonomi dan keuangan digital Indonesia. Melalui Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI), digelar berbagai program seperti Digiraya, hackathon, digital talent expo, business matching, talent matching, hingga selebrasi talenta digital terbaik. Rangkaian tersebut menjadi bagian dari sinergi antara pemerintah, industri, dan akademisi atau triple helix. Pada hari kedua juga dilakukan peluncuran inisiasi konektivitas QRIS antarnegara yang menambah cakupan dari enam menjadi delapan negara. Dua negara tambahan tersebut adalah Timor-Leste dan Hong Kong. Sementara pada hari ketiga, FEKDI x IFSE 2026 mengangkat tema memperkuat konektivitas ekonomi dan keuangan digital antarnegara untuk mendukung ekosistem dan produktivitas ekonomi. Filianingsih mengatakan pembahasan pada hari terakhir diarahkan untuk mendorong konektivitas di sisi pembayaran dan ekonomi keuangan digital antarnegara, termasuk untuk menjawab kebutuhan transaksi wisatawan mancanegara yang belum memiliki konektivitas langsung melalui QRIS antarnegara. Untuk itu, BI menginisiasi Indonesia Travel Pack. Program tersebut merupakan hasil sinergi untuk membantu wisatawan mancanegara dari negara yang belum memiliki konektivitas QRIS antarnegara secara langsung. Melalui Indonesia Travel Pack, wisatawan dapat memperoleh kartu SIM dan uang elektronik yang berisi saldo sekitar Rp 50.000. Saldo tersebut dapat digunakan untuk melakukan transaksi dengan memindai QRIS. Selain rangkaian forum dan program tersebut, FEKDI x IFSE 2026 juga menghadirkan lebih dari 40 institusi dan 50 ahli di bidang ekosistem ekonomi dan keuangan digital (EKD). Selama tiga hari penyelenggaraan, terdapat lebih dari 30 sesi dalam bentuk keynote speech, leader insight, dan casual talk. Pengunjung juga dapat melihat secara langsung berbagai inovasi digital melalui QRIS Tech, QRIS antarnegara, humanoid robot, serta berbagai milestone EKD. FEKDI x IFSE 2026 juga menghadirkan lebih dari 140 booth inovasi teknologi EKD dari berbagai institusi dan industri. Filianingsih menambahkan, jumlah peserta yang mengikuti FEKDI x IFSE 2026 secara luring maupun daring mencapai lebih dari 30 ribu orang. “FEKDI dan IFSE (2026) berakhir sudah. Namun kolaborasi digital terus berlanjut sepenuhnya,” tutup Filianingsih.
