Fitch Ratings dan Dilema Pemerintah di Balik “Virtually Certain”

Dosen STIES Mitra Karya Bekasi dan Pelaku Usaha
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Dr Eko Setiobudi, SE, ME tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fitch Ratings kembali mempertahankan peringkat terhadap PT Danantara Investment Management (DIM) di level “BBB” dengan outlook masih negatif. Fitch Ratings yang diterbitkan pada 21 September 2026 tersebut juga mempertahankan rating program Global Medium-Term Note dan surat utang senior tanpa jaminan DIM pada level BBB. Sementara itu, rating nasional jangka panjang DIM berada pada AAA(idn) dengan outlook Stable, sebagaimana dikutip dari fitchratings.com.
Yang menarik dari penjelasan Fitch Ratings adalah adanya kemungkinan dukungan luar biasa Pemerintah Indonesia kepada Danantara Investment Management (DIM) berada pada kategori “virtually certain,” atau hampir pasti dengan skor dukungan 55 dari maksimum 60. Fitch juga menyamakan rating DIM, equalised with Indonesia's sovereign rating.
Dukungan pemerintah yang masuk kategori “virtually certain” tentunya menjadi kabar positif bagi para investor. Artinya pemerintah ikut andil dalam memperkuat profil Danantara melalui DIM. Hal ini wajar, pasalnya Danantara adalah badan pengelola investasi yang dibentuk berdasarkan amanat UU No. 1 Tahun 2025 tentang Badan Usaha Milik Negara (BUMN), memiliki modal awal melalui assets under management (AUM) sekitar USD600 miliar atau sekitar Rp9.504 triliun.
Dalam konteks yang demikian, posisi Danantara menjadi semakin kompleks. Pertama, kuatnya dukungan negara terhadap Danantara adalah bentuk jaminan kredibilitas negara terhadap Danantara. Semakin kuat bentuk dukungan negara, berbanding lurus dengan keterkaitan profil kredit Danantara dengan profil credit sovereign Indonesia. Investor tentu akan melihat peran dan porsi negara di belakang Danantara sebagai sebuah entitas investasi berstandar global. Hal lain adalah risiko risiko investasi/proyek sehingga gagal memenuhi kewajiban atau menghasilkan return,serta tekanan keuangan akibat proyek Danantara yang dianggap kurang komersial, risiko bisa diminimalkan karena adanya “jaminan” dari pemerintah. Sementara Fitch menilai kemungkinan dukungan pemerintah yang sangat kuat, tetapi itu tidak otomatis sama dengan sovereign guarantee terhadap seluruh kewajiban Danantara.
Kedua, kuatnya dukungan negara artinya Danantara akan membawa kredibilitas negara pada saat melakukan ekspansi ke pasar global. Sesuatu yang “kurang diminati” oleh pasar karena bisa memberikan sinyalemen intervensi negara dalam pasar global melalui Danantara yang terlalu dominan. Ini bisa memunculkan kekhawatiran terhadap keputusan investasi di pasar modal global, antara persepsi intervensi negara dan independensi keputusan investasi yang berasal dari proses pengambilan keputusan di Danantara.
Ketiga, dukungan negara tersebut juga akan mendorong adanya irisan dan keterikatan kuat antara Danantara dengan pemerintah. Khususnya menyangkut dengan program dan proyek-proyek investasi. Bukan tidak mungkin Danantara akan menggalang investor luar negeri untuk terlibat dalam proyek dan program-program strategis pemerintah, seperti program industrialisasi dan hilirisasi. Ini memang tidak salah. Namun pada saat terjadi risiko seperti nilai komersial proyek yang berbeda dengan ekspektasi awal, maka pertanyaan kemudian ini menjadi domain risiko siapa? Risiko pemerintah-kah? Risiko Danantara-kah?Risiko fiskal-kah?
Keempat, pemerintah juga memberikan mandat agar Danantara terus berkembang menjadi institusi investasi di tingkat global. Simak saja catatan positif yang dibukukan oleh Danantara di level global. Pada 14 Desember 2025, Danantara melakukan akuisisi hotel Novotel berkapasitas 1.461 kamar serta sekitar 4,4 hektare lahan di kawasan Thakher City, Kota Makkah, dari Thakher Development. Dengan memperkirakan tambahan investasi sebesar US$700 juta-US$800 juta untuk merampungkan rencana pembangunan 13 tower dan 1 pusat perbelanjaan (mal) di atas lahan yang berjarak sekitar 2,5 kilometer dari Masjidil Haram tersebut. Pada 27 Agustus 2026, Danantara telah menggelontorkan investasi senilai 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp17 triliun ke perusahaan pengelola aset asal Swiss, Partners Group. Ini adalah salah satu investasi terbesar Danantara di pasar global. Terus melakukan ekspansi, sama artinya terus memperbesar pertaruhan kredibilitas Danantara di tingkat global. Ini tentunya berbanding lurus dengan eksposur risikonya. Semakin luas kapasitas pembiayaan dan investasi Danantara, pada akhirnya juga akan menjadi risiko negara.
Di sinilah kompleksitas Danantara dan dilema negara seiring dengan semakin meningkatnya kapasitas pembiayaan dan investasi Danantara. Dengan demikian, tantangannya adalah membuat dukungan negara seiring juga dengan memperkuat portofolio dan independensinya. Atau dalam bahasa lain adalah menemukan keseimbangan antara state backing dan institutional independence.
Sebagai institusi pengelola investasi yang baru saja dibentuk Danantara memang membutuhkan kredibilitas negara sebagai “virtually Certain”. Namun semakin membesarnya kapasitas pembiayaan dan investasi Danantara seiring dengan kebijakan-kebijakan ekspansi yang dilakukannya juga sebanding dengan eksposur risikonya. Dan kredibilitas akan meningkat apabila ekspansi tersebut menghasilkan kinerja dan dikelola dengan baik. Ke depan kredibilitas tersebut harus ditopang secara mandiri oleh Danantara, yakni melalui kemampuan investasi, tata kelola, transparansi, manajemen risiko dan kinerja portofolio Danantara sendiri.
Dengan demikian, Rating “BBB” yang diberikan oleh Fitch Ratings adalah fondasi bagi perjalanan Danantara untuk memasuki pasar modal global. Namun rating tentunya bukan tujuan akhir. Danantara melalui integritas, kapabilitas dan kemampuannya harus mampu membuktikan bahwa kualitas kredit, serta proyek-proyek investasi yang di tawarkan di pasar global, tidak semata-mata bersumber dari kedekatan hubungan dengan negara, tetapi lebih dominan karena kemampuan dan portofolio-nya.
Hal ini harus diterjemahkan Danantara melalui framework investasi, yang mencakup; bagaimana keputusan investasi dibuat, bagaimana risiko dikelola, bagaimana konflik kepentingan ditangani, bagaimana kinerja portofolio diukur, serta seberapa transparan Danantara dalam menjelaskan hasil investasinya. Terakhir, kemampuan Danantara untuk membangun track record yang kuat dan kredibel, tentunya berbanding lurus dengan persepsi kredit dari para investor global. Di sinilah tantangan dari Danantara apakah mampu mengubah government backing menjadi global market confidence.
