Konten dari Pengguna

Fresh Graduate Dituntut Berpengalaman, Tapi Kapan Diberi Kesempatan?

Salsabillah Rahmawati

Salsabillah Rahmawati

Mahasiswi universitas pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Salsabillah Rahmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Vitaly Gariev/Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Vitaly Gariev/Unsplash

Pernahkah kita melihat lowongan pekerjaan yang ditujukan bagi fresh graduate, tetapi justru mensyaratkan pengalaman kerja satu hingga dua tahun? Pertanyaan yang kemudian muncul cukup sederhana: bagaimana seseorang bisa memiliki pengalaman jika untuk memperoleh pekerjaan pertamanya saja ia harus sudah berpengalaman? Kondisi ini menjadi salah satu keresahan generasi muda ketika mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.

Setelah menyelesaikan pendidikan, lulusan baru tentu berharap dapat menerapkan ilmu dan keterampilan yang dipelajari. Namun, harapan tersebut tidak selalu sejalan dengan persyaratan rekrutmen. Perusahaan membutuhkan pekerja yang siap menjalankan tanggung jawab, sedangkan lulusan baru membutuhkan kesempatan pertama untuk belajar secara profesional. Ketika pengalaman menjadi syarat pada pekerjaan tingkat pemula, kesenjangan antara kebutuhan perusahaan dan kesempatan bagi pelamar pun terasa semakin nyata.

Menurut saya, persoalan ini tidak semata-mata terletak pada kurangnya pengalaman lulusan baru, tetapi juga pada cara kita menilai kualitas sumber daya manusia. Pengalaman memang berharga, tetapi bukan satu-satunya ukuran kompetensi. Kemampuan teknis, komunikasi, kemauan belajar, sikap bertanggung jawab, serta potensi berkembang juga layak dipertimbangkan, terutama untuk posisi yang memang dirancang bagi pekerja pemula.

Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik, Tingkat Pengangguran Terbuka Indonesia pada Februari 2026 tercatat sebesar 4,68 persen, dengan sekitar 7,24 juta orang menganggur. Angka ini mencakup berbagai kelompok usia dan pendidikan, sehingga tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan jumlah pengangguran fresh graduate secara khusus. Meski begitu, data tersebut memperlihatkan bahwa akses terhadap pekerjaan masih menjadi persoalan penting dalam pembangunan ketenagakerjaan.

Penelitian Helyer dan Lee (2014) membahas peran pengalaman kerja dalam meningkatkan peluang kerja lulusan pendidikan tinggi. Sementara itu, Pang, Wong, Leung, dan Coombes (2019) menguraikan kompetensi yang dipandang penting oleh pemberi kerja, antara lain kemauan belajar, kerja sama tim, ketekunan, dan kemampuan berpikir analitis. Dua penelitian ini membantu menjelaskan mengapa pengalaman praktis dibutuhkan, sekaligus mengingatkan bahwa kesiapan kerja tidak hanya berkaitan dengan lama masa kerja.

Sebagai mahasiswa yang sedang mempersiapkan diri menghadapi dunia profesional, saya memahami alasan perusahaan mempertimbangkan pengalaman. Tidak semua posisi dapat diisi tanpa keterampilan khusus, terlebih jika berkaitan dengan keselamatan atau tanggung jawab yang besar. Namun, untuk pekerjaan tingkat pemula, penilaian yang terlalu sempit pada pengalaman dapat mengabaikan calon karyawan yang memiliki keterampilan dasar dan kesungguhan untuk berkembang.

Bayangkan seorang lulusan baru yang semasa kuliah aktif mengerjakan proyek, mengikuti pelatihan, dan membangun portofolio. Saat mencari pekerjaan pertamanya, ia menemukan posisi yang sesuai dengan keterampilannya. Sayangnya, lowongan tersebut mensyaratkan pengalaman profesional dua tahun. Ia kemudian mencari lowongan lain dan menemui persyaratan serupa. Kisah ilustratif ini memperlihatkan dilema yang mungkin dialami pencari kerja pemula: sudah berusaha menyiapkan kemampuan, tetapi belum memperoleh ruang untuk membuktikannya.

Ada dua cara memandang persoalan tersebut. Pendekatan pertama menekankan pengalaman kerja sebagai penyaring utama pelamar, dengan harapan perusahaan memperoleh karyawan yang cepat beradaptasi. Pendekatan kedua tetap menghargai pengalaman, tetapi pada posisi entry level juga menilai kompetensi dasar, portofolio, perilaku kerja, dan kesediaan belajar. Menurut saya, pendekatan kedua lebih seimbang karena memungkinkan perusahaan menjaga kualitas rekrutmen sambil membuka jalan bagi talenta baru.

Pengalaman kerja pada dasarnya dibentuk melalui kesempatan, proses belajar, dan tanggung jawab yang dijalani secara nyata. Setiap pekerja berpengalaman pun pernah berada pada tahap awal karier. Oleh sebab itu, pesan utama yang ingin saya sampaikan adalah: jangan hanya menuntut pengalaman dari generasi muda, tetapi berikan mereka kesempatan untuk membuktikan kemampuan. Pengalaman tidak akan terbentuk tanpa adanya kesempatan.

Perusahaan dapat mulai dengan meninjau kembali persyaratan untuk posisi pemula, mengadakan seleksi berbasis keterampilan, serta menyiapkan program orientasi dan pendampingan. Perguruan tinggi dapat memperkuat kerja sama magang dan proyek industri, sedangkan mahasiswa perlu terus meningkatkan keterampilan, menyusun portofolio, dan mencari pengalaman praktis yang relevan. Langkah-langkah ini membutuhkan kontribusi bersama, bukan hanya tuntutan kepada satu pihak.

Pada akhirnya, pembangunan sumber daya manusia yang baik tidak hanya bergantung pada kemampuan individu untuk bersaing, melainkan juga pada tersedianya kesempatan yang adil untuk tumbuh. Mari membangun dunia kerja yang tidak sekadar mencari mereka yang sudah berpengalaman, tetapi juga bersedia memberi ruang bagi orang-orang yang sedang memulai.