Harga Emas Dunia Turun Lagi, Konflik Selat Hormuz Bikin Pasar Waspadai Inflasi

Harga emas turun pada awal perdagangan pekan ini setelah sebelumnya mencatat penurunan mingguan. Kondisi tersebut terjadi di tengah kebuntuan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz yang membuat harga energi tetap tinggi dan meningkatkan tekanan terhadap Federal Reserve (The Fed) untuk kembali menaikkan suku bunga guna mengendalikan inflasi.
Mengutip Bloomberg, harga emas spot turun 0,5% menjadi USD 4.261,59 per troy ounce pada pukul 07.56 waktu Singapura, Senin (28/9). Emas sebelumnya mengakhiri pekan lalu dengan penurunan lebih dari 2%.
Kondisi di Selat Hormuz turut menjadi perhatian pasar. Iran menyatakan tidak akan melonggarkan persyaratannya untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak proposal Iran untuk membuka Selat Hormuz selama tujuh hari.
Trump mengatakan negosiasi dengan Iran diperkirakan kembali berlangsung pada pekan ini. Konflik AS dan Iran sendiri telah memasuki bulan kedelapan, sementara harga minyak Brent tercatat telah melonjak sekitar 70% sepanjang tahun ini.
Harga minyak yang tinggi berpotensi kembali mendorong inflasi sehingga memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS yang lebih ketat.
Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack mengatakan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor panjang meningkat karena prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, kekhawatiran terhadap utang pemerintah, serta ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut.
"Imbal hasil mencerminkan prospek pertumbuhan, utang pemerintah AS, dan ekspektasi terhadap jalur suku bunga," ujar Hammack.
Pejabat The Fed sebelumnya secara bulat memutuskan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertengahan September. Sejumlah pejabat The Fed setelahnya juga menyebut masih ada kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan.
Pasar kini memperkirakan peluang sekitar 65% untuk kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober.
Di sisi lain, sentimen konsumen AS melemah pada September dan mencapai level terendah dalam empat bulan. Kondisi tersebut menunjukkan kekhawatiran masyarakat terhadap kenaikan harga dan prospek ekonomi.
Pasar obligasi AS juga menunjukkan kurva imbal hasil yang semakin datar. Selisih imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun dan 2 tahun menyempit hingga sekitar 17 basis poin pada pekan lalu, level terendah sejak awal 2025.
Kurva imbal hasil yang semakin datar menjadi perhatian investor karena jika imbal hasil obligasi jangka panjang turun di bawah obligasi jangka pendek atau terjadi inversi, kondisi tersebut kerap digunakan sebagai salah satu indikator meningkatnya risiko perlambatan ekonomi atau resesi.
Emas Masih Bergerak dalam Rentang Terbatas
Sepanjang September, harga emas bergerak dalam rentang yang relatif terbatas, yakni sekitar USD 4.230 hingga USD 4.510 per troy ounce. Pergerakan tersebut terjadi ketika investor terus menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed.
Harga emas saat ini juga masih berada jauh di bawah rekor tertinggi hampir USD 5.600 per troy ounce yang dicapai pada Januari lalu.
Meski harga emas terkoreksi, aktivitas transaksi di sektor pertambangan emas tetap berlangsung. Gold Fields Ltd. asal Afrika Selatan sebelumnya mengajukan minat untuk mengakuisisi Northern Star Resources Ltd., perusahaan tambang emas terbesar di Australia.
Namun, Northern Star menolak pendekatan tersebut pada Senin.
Selain emas, harga komoditas logam mulia lainnya juga melemah. Harga perak turun 0,8% menjadi USD 63,77 per ounce setelah turun 3% pada pekan sebelumnya. Harga platinum dan palladium juga tercatat lebih rendah.
Sementara itu, Bloomberg Dollar Spot Index yang mengukur kinerja dolar AS naik 0,1%. Indeks tersebut telah menguat sekitar 2% sejak awal September.
Pergerakan harga emas ke depan masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik AS-Iran, harga minyak, serta arah kebijakan suku bunga The Fed.
