Harga Minyak Mentah Naik Usai Serangan Houthi ke Bandara Riyadh

Harga minyak mentah menguat pada awal perdagangan Senin (12/10), karena serangan baru di bandara utama Arab Saudi dan serangan kapal tanker di dekat Selat Hormuz meningkatkan prospek bahwa konflik yang meningkat dapat memperburuk risiko pasokan.
Dikutip dari Bloomberg, Brent untuk penyelesaian Desember naik 0,3 persen menjadi USD 105,06 per barel pada pukul 6:08 pagi di Singapura. West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November naik 0,4 persen menjadi USD 92,21 per barel.
Bandara Internasional King Khalid di Riyadh diserang lagi pada Minggu oleh militan Houthi yang didukung Iran, sehari setelah serangan itu menewaskan 12 orang.
Selain itu, pada hari yang sama, sebuah drone menabrak sebuah kapal tankerdekat jangkar Sohar di lepas landas Oman, di luar selat, menurut Operasi Perdagangan Maritim Inggris.
Tolok ukur global naik lebih dari 70 persen pada tahun ini karena perang AS-Iran berlarut-larut tanpa tanda-tanda penyelesaian yang jelas. Produsen minyak utama Timur Tengah telah berhasil melanjutkan ekspor minyak mentah melalui Hormuz yang mendekati tingkat sebelum konflik, tetapi lonjakan serangan kapal tanker dan ketegangan yang meningkat di seluruh wilayah dapat mengancam arus tersebut.
Secara terpisah, Presiden AS Donald Trump mengatakan Rusia dan Ukraina telah menyetujui ‘gencatan senjata energi’ yang segera berlaku.
Serangan Ukraina terhadap kilang Rusia telah mengganggu kapasitas penyulingan negara tersebut dan berkontribusi pada pasokan solar global yang lebih ketat. Akhir pekan lalu, Trump mengatakan dia bekerja sama dengan Vladimir Putin untuk melepaskan pasokan solar Rusia ke pasar.
Di tempat lain, para pedagang memantau dampak Badai Isaias, yang memadamkan listrik di tiga negara bagian AS dan menewaskan sedikitnya empat orang.
Departemen Energi AS mengatakan telah menyetujui penyaluran darurat hingga 4 juta barel minyak mentah dari persediaan strategis untuk mengurangi gangguan pasokan.
