Harga Minyak Mentah Terendah Sejak Maret 2026 usai Sinyal Selat Hormuz dibuka
·waktu baca 3 menit

Harga minyak mentah jatuh ke level terendah sejak awal meletusnya perang AS-Israel dengan Iran, karena adanya tanda-tanda peningkatan aliran pasokan minyak melalui Selat Hormuz dan kemajuan menuju kesepakatan perdamaian sementara.
Dikutip dari Bloomberg, harga minyak Brent berjangka turun 3,4 persen menjadi USD 87,33 per barel pada Jumat (12/6), terendah sejak 5 Maret, dan mengakhiri pekan dengan penurunan 6,2 persen. Minyak West Texas Intermediate turun 3,2 persen menjadi USD 84,88 per barel, serta harga kontrak berjangka gas alam Eropa merosot hingga 8,4 persen.
Harga minyak mentah telah turun sekitar 30 persen sejak puncak konflik. Pasar mengalami kelebihan pasokan sebelum perang pecah pada Februari, dan minyak mentah Brent, patokan global, telah berada di kisaran USD 70 per barel.
AS dan Iran semakin mendekati kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz yang dapat ditandatangani saat para pemimpin dunia G7 bertemu minggu depan, kata para pejabat senior. Namun, pesan yang saling bertentangan antara Washington dan Teheran terus menimbulkan keraguan tentang jangka waktu tersebut.
Selain harapan akan perdamaian, penurunan harga dipercepat oleh pasar yang menemukan cara untuk mengatasi penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran yang dilewati sekitar seperlima minyak dunia sebelum perang.
Dalam beberapa minggu terakhir, semakin banyak kapal yang melintasi jalur air tersebut dengan sinyal satelit dimatikan, sementara penurunan impor China dan lonjakan ekspor AS juga membantu menyeimbangkan pasar.
"Bahkan jika kesepakatan damai sementara diselesaikan dan selat dibuka kembali, kita masih akan menghadapi keterbatasan pasokan," kata ahli strategi investasi senior US Bank, Rob Haworth.
Para pemilik kapal memantau dengan saksama perkembangan perundingan perdamaian, dan beberapa pemilik kapal tanker menyatakan kehati-hatian tentang potensi pembukaan kembali selat tersebut. Bahkan, sudah ada yang memperkirakan akan terjadi kekacauan besar jika jalur itu benar-benar dibuka.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, nota kesepahaman antara kedua pihak belum pernah sedekat ini, dalam sebuah unggahan media sosial pada Jumat. Hal tersebut memperkuat ekspektasi pasar terhadap akhir dari konflik yang kini memasuki bulan keempat. Sebab, para pejabat Iran lebih menahan diri daripada rekan-rekan mereka dari AS dalam memberikan sinyal kemajuan menuju kesepakatan.
Namun, terlepas dari semua kemajuan yang telah dicapai, masih belum ada kejelasan mengenai isi dari apa yang disebut nota kesepahaman tersebut, dan kedua belah pihak memberikan deskripsi yang berbeda. Ketidakjelasan ini menimbulkan keraguan tentang seberapa cepat Selat Hormuz dapat kembali beroperasi mendekati kondisi sebelum perang.
Haworth mengatakan bahwa kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz menuju Asia, pasar utama bagi pemasok dari Teluk Persia, akan membutuhkan waktu dua bulan untuk sampai ke sana dan kembali.
Meskipun demikian, spesialis energi ICAP Scott Shelton mengatakan bahwa banyak negara masih lebih memilih membeli minyak mentah AS daripada minyak mentah yang berasal dari Teluk Persia.
“Pasar akan berupaya melakukan diversifikasi dari mereka, setidaknya dalam jangka pendek, karena Iran pada dasarnya telah menyadari bahwa menutup selat itu bukanlah hal yang sulit," kata Shelton.
Investor menanggapi perkembangan diplomatik terbaru dengan hati-hati setelah beberapa klaim sebelumnya tentang terobosan yang akan segera terjadi terbukti tidak berdasar. Volatilitas yang dihasilkan telah mendorong posisi terbuka pada patokan Brent global ke level terendah dalam lebih dari setahun karena para pedagang mengurangi eksposur risiko.
Belakangan ini, pasar gas Eropa terjadi peningkatan posisi bullish, yang berpotensi menambah dorongan penurunan karena para trader menyesuaikan posisi mereka.
"Kabar tentang potensi kesepakatan tersebut tampaknya telah mendorong pelaku pasar untuk ingin menutup beberapa posisi beli sebelum akhir pekan," kata direktur gas dan LNG Eropa Wood Mackenzie, Tom Marzec-Manser.
