IHSG Diprediksi Lanjut Menguat, Arus Dana Asing Mulai Kembali Masuk

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat (4/9), dengan target berada di level 6.681-6.714. Meski demikian, investor perlu mewaspadai potensi koreksi jangka pendek di tengah volume perdagangan yang mulai menurun.
MNC Sekuritas menilai secara teknikal IHSG masih berada dalam fase penguatan. Pada perdagangan Kamis (3/9), IHSG ditutup menguat 1,09 persen ke level 6.667 dan disertai dengan munculnya volume pembelian. Penguatan tersebut telah mencapai target yang sebelumnya disampaikan MNC Sekuritas dan mulai menutup area gap yang terbentuk sebelumnya.
“Kami memperkirakan, posisi IHSG sedang berada pada bagian dari wave v dari wave (c), sehingga terdapat peluang lanjutan penguatan untuk menguji 6.681-6.714. Waspadai akan adanya koreksi dalam jangka pendek ke 6.649-6.669,” tulis MNC Sekuritas dalam keterangannya.
MNC Sekuritas menetapkan level support IHSG di 6.561 dan 6.476, sementara level resistance berada di 6.705 dan 6.755. Adapun saham yang direkomendasikan untuk dicermati pada perdagangan hari ini yakni ASII, BMRI, BNBR, dan CDIA.
Untuk ASII, MNC Sekuritas memberikan rekomendasi Trading Buy pada rentang 4.940-5.000, dengan target harga 5.125 dan 5.200 serta stop loss di bawah 4.920. Saham ASII ditutup menguat 4,34 persen ke 5.050 dan disertai peningkatan volume pembelian. Pergerakannya juga mampu berada di atas cluster MA20 dan MA60.
Sementara itu, BMRI direkomendasikan Buy on Weakness pada level 4.390-4.430, dengan target harga 4.510 dan 4.590 serta stop loss di bawah 4.320. BMRI menguat 2,29 persen ke 4.460 dan masih didominasi oleh volume pembelian.
Untuk BNBR, MNC Sekuritas merekomendasikan Trading Buy pada rentang 98-100, dengan target harga 105 dan 109 serta stop loss di bawah 97. Adapun CDIA direkomendasikan Buy on Weakness pada level 675-695, dengan target harga 745 dan 785 serta stop loss di bawah 655.
Senada dengan MNC Sekuritas, Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta melihat pergerakan IHSG masih berada dalam fase reli bullish dan membentuk tren penguatan. Secara teknikal, MA20 dan MA60 berada dalam kondisi bullish crossover, sementara indikator Stochastics K/D dan RSI menunjukkan sinyal positif.
Meski demikian, Nafan mengingatkan volume perdagangan mulai mengalami penurunan. Kondisi tersebut menunjukkan adanya potensi konsolidasi meskipun tren utama IHSG masih positif.
“Sentimen positif IHSG pada Jumat, 4 September 2026 cukup kuat. Bahkan arus dana asing yang mulai kembali masuk dalam beberapa hari terakhir, khususnya ke saham-saham berkapitalisasi besar dan perbankan, menjadi indikasi membaiknya investor confidence,” ujar Nafan.
Nafan mencatat net foreign buy di regular market mencapai sekitar Rp1,11 triliun. Meski demikian, secara year to date (ytd), IHSG masih mencatat net foreign sell sebesar Rp96,90 triliun dengan kinerja IHSG sepanjang tahun masih berada di level minus 22,89 persen.
Dari sisi global, sentimen pasar saham Amerika Serikat turut memberikan katalis positif. Pergerakan tersebut didukung oleh kinerja sejumlah saham korporasi dan teknologi, termasuk lonjakan saham Snowflake yang mencapai sekitar 21 persen berkat proyeksi pendapatan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang solid.
Sentimen positif juga datang dari sektor teknologi setelah Nvidia mengumumkan aksi korporasi terkait platform AI open-source Hugging Face senilai USD12,9 miliar. Di sisi lain, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun 0,50 persen ke level 4,77 persen setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam beberapa bulan.
Penurunan yield obligasi AS tersebut memberikan ruang bagi pasar ekuitas karena dapat menurunkan biaya pinjaman sekaligus meredakan kekhawatiran investor terhadap beban utang dan tekanan inflasi.
Sentimen pasar juga diperkuat oleh pernyataan anggota Dewan Gubernur Federal Reserve Christopher Waller yang memberikan efek less hawkish. Waller mengindikasikan adanya tanda-tanda disinflasi dan mendukung penahanan suku bunga acuan The Fed pada pertemuan mendatang apabila tren penurunan inflasi terus berlanjut.
Meski demikian, investor masih akan mencermati rilis data nonfarm payrolls dan inflasi AS yang berpotensi menentukan arah kebijakan moneter The Fed serta volatilitas pasar keuangan dalam jangka pendek.
Sementara itu, dari sisi geopolitik dan pasar komoditas, harga minyak mentah Brent dan WTI cenderung stabil namun masih berada di level tinggi seiring meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut tetap menjadi risiko yang perlu diperhatikan karena dapat memberikan tekanan terhadap inflasi global.
Dari sisi domestik, penguatan rupiah menjadi salah satu katalis positif bagi pasar saham. Rupiah terapresiasi 0,47 persen ke level Rp17.679 per dolar AS dan dinilai masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan seiring efektivitas stabilisasi Bank Indonesia serta membaiknya pasokan valuta asing domestik.
Kepastian kepemimpinan Bank Indonesia setelah Destry Damayanti dikonfirmasi sebagai Gubernur BI juga memberikan sinyal kontinuitas kebijakan moneter. Hal tersebut dinilai dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap stabilitas rupiah dan pasar keuangan domestik.
Di sisi lain, fundamental ekonomi Indonesia masih relatif resilien, dengan pertumbuhan ekonomi yang dijaga di sekitar 5 persen, surplus perdagangan, serta prospek pertumbuhan ekonomi 2026 yang menurut Bank Indonesia berada pada kisaran 4,9-5,7 persen. Inflasi yang tetap terkendali juga memberikan ruang bagi kebijakan ekonomi untuk mendukung pertumbuhan tanpa menghadapi tekanan harga yang berlebihan.
“Investor disarankan melakukan akumulasi pada saham pilihan dengan fundamental solid, fokus pada saham bervaluasi murah dan saham yang menunjukkan arah pembalikan tren, serta menggunakan manajemen risiko secara disiplin,” ujar Nafan.
Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan saham-saham yang layak dicermati pada perdagangan Jumat (4/9), yakni ARCI, INCO, dan MAPA.
Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan dan keputusan pembaca. Berita ini bukan merupakan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual suatu produk investasi tertentu.
