Kumparan Logo

IHSG Sesi I Anjlok 1,25% ke 6.099, Pasar Was-was soal Perang dan Agenda MSCI

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (3/6/2026). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Warga mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (3/6/2026). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi I perdagangan Senin (22/6) di zona merah. Berdasarkan data Stockbit, indeks komposit tergelincir 1,25% dan parkir di level 6.099,93. Total nilai transaksi mencapai Rp 7,62 triliun dengan volume 13,43 miliar saham dan frekuensi 1,11 juta kali.

Top Gainers

  • EMDE (Megapolitan Developments) naik 16 poin (28,07%) ke 73

  • ZONE (Mega Perintis) naik 135 poin (24,77%) ke 680

  • HDFA (Radana Bhaskara Finance) naik 17 poin (20,24%) ke 101

  • DPUM (Dua Putra Utama Makmur) naik 20 poin (19,05%) ke 125

  • MLPT (Multipolar Technology) naik 2600 poin (15,93%) ke 18.925

Top Losers

  • GMTD (Gowa Makassar Tourism Development) turun 175 poin (12,64%) ke 1.210

  • BINA (Bank Ina Perdana) turun 400 poin (11,11%) ke 3.200

  • SMMT (Golden Eagle Energy) turun 225 poin (10,47%) ke 1.925

  • LUCY (Lima Dua Lima Tiga) turun 150 poin (9,97%) ke 1.355

  • UDNG (Agro Bahari Nusantara) turun 180 poin (9,60%) ke 1.695

Top Value

  • DSSA (Dian Swastatika Sentosa) senilai Rp 957,13 miliar

  • BBCA (Bank Central Asia) senilai Rp 634,68 miliar

  • TPIA (Chandra Asri Pacific) senilai Rp 591,84 miliar

  • BBRI (Bank Rakyat Indonesia (Persero) senilai Rp 389,47 miliar

  • ANTM (Aneka Tambang) senilai Rp 321,85 miliar

Top Volume

  • BUMI (Bumi Resources) sebanyak 13,30 juta lembar

  • DSSA (Dian Swastatika Sentosa) sebanyak 11,28 juta lembar

  • KOTA (DMS Propertindo) sebanyak 5,87 juta lembar

  • SDMU (Sidomulyo Selaras) sebanyak 4,05 juta lembar

  • ESIP (Sinergi Inti Plastindo) sebanyak 3,71 juta lembar

Bursa Asia

Warga melintas di depan layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (3/6/2026). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO

Pergerakan bursa di kawasan Asia terpantau bervariasi pada siang ini. Dihimpun dari data Stockbit dan Yahoo Finance, berikut pergerakannya:

  • Indeks Nikkei 225 di Jepang naik 1,72% ke 72.474,22

  • Indeks Hang Seng di Hong Kong turun 0,98% ke 23.690,86

  • Indeks SSE Composite di China naik 0,18% ke 4.098,01

  • Indeks Straits Times di Singapura turun 0,18% ke 5.183,57

Di pasar valuta asing, rupiah juga tertekan. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 25 poin (0,14 persen) ke Rp 17.829 per dolar AS.

Investor Was-was, Picu Tekanan Aksi Jual

Chief Economist PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Mydral Gunarto, mengatakan anjloknya IHSG hari ini merupakan konsekuensi dari pertama kembali memanasnya tensi geopolitik, terutama terkait dengan perkembangan antara Iran dengan Amerika Serikat yang mana genjatan senjata ataupun juga proses perdamaian.

"Jadi penuh dengan ketidakpastian," katanya kepada kumparan.

Menurut dia, situasi tersebut mendorong investor menerapkan strategi risk averse terhadap aset-aset di negara berkembang. Selain itu, pasar juga masih merespons perkembangan terbaru terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menjadi acuan banyak investor asing dalam menentukan alokasi investasi.

Sentimen eksternal tersebut membuat arus dana asing cenderung lebih berhati-hati sehingga menekan pergerakan indeks domestik sepanjang perdagangan.

Myrdal menilai pelemahan IHSG masih tergolong wajar mengingat pasar menghadapi kombinasi risiko geopolitik dan sentimen terkait evaluasi indeks global.

“Mungkin itu aja sih jadi kalau selama selat hormuz ditutup lagi kondisi geopolitik memanas lagi terus juga kita ada faktor terkait dengan MSCI sisa-sisa yang kemarin jadi ya wajar kalau IHSG nya negatif sih,” ujarnya.

Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta mengatakan pelaku pasar global dan domestik saat ini cenderung mengambil sikap wait and see menjelang pengumuman MSCI Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026 serta proses peninjauan ulang atau rebalancing indeks FTSE Russell.

“Para pelaku pasar global dan domestik cenderung menahan diri atau wait and see menjelang agenda penting pekan ini, yaitu MSCI Annual Market Classification Review yang dijadwalkan pada 24 Juni 2026, serta peninjauan ulang atau rebalancing indeks FTSE Russell. Ketidakpastian hasil tinjauan ini membuat volatilitas pasar meningkat dalam jangka pendek,” kata Nafan.

Menurut dia, ketidakpastian terkait hasil evaluasi MSCI dan FTSE Russell membuat investor memilih menunggu kejelasan sebelum meningkatkan eksposur pada aset berisiko. Kondisi tersebut turut membebani pergerakan IHSG yang sudah tertekan oleh meningkatnya risiko geopolitik global.

instagram embed