Imbas Konflik di Timur Tengah, The Fed Tahan Suku Bunga
ยทwaktu baca 3 menit

Para pejabat Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk menahan suku bunga, Kamis (30/4). Meski demikian terjadi perpecahan yang semakin mendalam mengenai prospek kebijakan di tengah meningkatnya ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah.
Mengutip Bloomberg, empat pejabat memberikan suara menentang keputusan tersebut, termasuk tiga orang yang keberatan dengan pernyataan pascapertemuan yang menunjukkan bahwa bank sentral pada akhirnya akan kembali memangkas suku bunga.
Dalam konferensi pers terakhirnya sebagai ketua Federal Reserve, Jerome Powell menyatakan niatnya untuk tetap berada di bank sentral sebagai anggota Dewan Gubernur.
Ia menyebutkan bahwa pejabat Kementerian Kehakiman AS telah meyakinkannya pada akhir pekan lalu bahwa mereka tidak akan memulai kembali penyelidikan kriminal terhadap bank sentral kecuali jika pengawas internal memberikan rekomendasi tersebut.
Meskipun demikian, Jaksa Amerika Serikat untuk Distrik Columbia menyatakan bahwa ia mungkin membuka kembali penyelidikan jika diperlukan.
"Saya telah mengatakan bahwa saya tidak akan meninggalkan dewan sampai penyelidikan ini benar benar selesai dengan transparansi dan final, dan saya tetap berpegang pada hal itu. Saya akan pergi jika saya merasa itu sudah tepat untuk dilakukan," ujar Powell mengutip Bloomberg, Kamis (30/4).
Pernyataan Federal Reserve menyebutkan bahwa Presiden Fed Cleveland Beth Hammack, Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari, dan Presiden Fed Dallas Lorie Logan mendukung untuk mempertahankan kisaran target suku bunga tetapi tidak mendukung penyertaan bias pelonggaran dalam pernyataan saat ini.
Sementara itu, Gubernur Stephen Miran memilih untuk mendukung pengurangan suku bunga sebesar seperempat poin.
Empat Pejabat Menentang
Hasil pemungutan suara 8 banding 4 ini menandai pertama kalinya sejak Oktober 1992 ada empat pejabat yang menentang keputusan Komite Pasar Terbuka Federal atau FOMC. Komite membiarkan suku bunga acuan mereka tetap berada di kisaran 3,5-3,75 persen.
Imbal hasil Treasury jangka pendek yang melacak prospek kebijakan moneter melonjak setelah keputusan tersebut karena investor fokus pada para penentang yang bersikap keras atau hawkish.
Nilai tukar dolar Amerika Serikat juga terpantau menguat terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya.
Perpecahan di komite berfokus pada frasa dalam pernyataan yang merujuk pada sejauh mana dan kapan penyesuaian tambahan terhadap suku bunga dilakukan.
Setelah pengurangan pada akhir 2025, bahasa tersebut menunjukkan bahwa bank sentral pada akhirnya akan melakukan pemangkasan lebih lanjut.
Namun, sejak Januari 2026, semakin banyak pejabat yang mendorong perubahan untuk memberi sinyal lebih jelas mengenai kemungkinan bahwa langkah bank sentral berikutnya adalah kenaikan suku bunga.
Keputusan Powell untuk tetap menjabat akan menutup kesempatan bagi Presiden Donald Trump untuk mengisi kekosongan jabatan baru di bank sentral.
Hal ini juga dapat memperumit tugas Kevin Warsh yang dijadwalkan menggantikan Powell sebagai ketua setelah mendapatkan konfirmasi dari Senat.
Warsh akan memimpin saat perang antara Israel dengan Iran terus memicu ketidakpastian di kalangan pemimpin bisnis dan ekonom.
Lonjakan harga energi akan memicu inflasi yang sudah membandel, dan beban tambahan pada konsumen dapat menyebabkan perlambatan pertumbuhan serta pemutusan hubungan kerja.
Hingga saat ini, tingkat pengangguran tampak stabil, namun perekrutan tenaga kerja baru telah turun mendekati nol selama setahun terakhir.
Di saat yang sama, inflasi telah berada di atas target 2 persen bank sentral selama lima tahun terakhir. Harga minyak mentah Brent saat ini menyentuh level tertinggi sejak Juni 2022.
Laporan awal bulan ini menunjukkan inflasi harga konsumen melonjak pada Maret 2026 dengan kenaikan terbesar dalam hampir empat tahun terakhir akibat lonjakan harga bensin yang mencetak rekor.
