Kumparan Logo

IMF Bantu Pulihkan Ekonomi Mesir, Beri Pinjaman Rp 28,64 Triliun

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi International Monetary Fund (IMF). Foto: Maxx-Studio/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi International Monetary Fund (IMF). Foto: Maxx-Studio/Shutterstock

Mesir selangkah lebih dekat untuk memperoleh pencairan dana pinjaman dari Dana Moneter Internasional atau IMF lebih dari USD 1,6 miliar atau sekitar Rp 28,64 triliun (kurs Rp 17.901) setelah mencapai kesepakatan awal dalam peninjauan terbaru program pembiayaan negara tersebut.

IMF menyatakan kesepakatan di tingkat staf tersebut akan menyediakan sekitar USD 1,5 miliar melalui skema Extended Fund Facility (EFF) dan sekitar USD 136 juta melalui Resilience and Sustainability Facility (RSF) jika telah dirampungkan.

Dengan pencairan ini, total dana yang telah disalurkan dalam kedua fasilitas tersebut akan mencapai sekitar USD 7,2 miliar, seperti dikutip dari Bloomberg.

Pengumuman tersebut telah diperkirakan sebelumnya setelah Mesir dinilai menunjukkan kemajuan dalam memenuhi komitmen lama untuk melepas kepemilikan aset-aset negara. Meski demikian, kesepakatan tersebut masih harus memperoleh persetujuan dari Dewan Eksekutif IMF sebelum dana dapat dicairkan.

Ilustrasi warga Mesir berbelanja manisan jelang idul fitri. Foto: AFP/MOHAMAD AL SEHETY

Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar di Timur Tengah, Mesir meningkatkan nilai program pinjaman IMF yang telah ada menjadi USD 8 miliar pada awal 2024. Langkah itu dilakukan setelah dampak lanjutan perang di Gaza memperburuk krisis ekonomi yang tengah dihadapi negara tersebut.

Peninjauan program EFF oleh IMF, yang kali ini merupakan evaluasi ketujuh sekaligus kedua terakhir, menjadi perhatian utama investor asing yang telah menanamkan miliaran dolar di pasar surat utang domestik Mesir.

Pada Mei lalu, tim IMF mengunjungi Kairo untuk membahas perkembangan reformasi yang dijanjikan pemerintah Mesir, termasuk mengurangi keterlibatan negara dalam perekonomian serta memberikan ruang yang lebih luas bagi sektor swasta untuk bersaing.

Bloomberg melaporkan pekan lalu bahwa dua transaksi penjualan aset terbaru membantu Mesir memenuhi syarat untuk lolos dalam peninjauan tersebut. Transaksi pertama berupa pelepasan sebagian kepemilikan jaringan stasiun pengisian bahan bakar yang sebelumnya dimiliki perusahaan bahan bakar yang berafiliasi dengan militer.

Sementara transaksi kedua terkait pemberian hak pengelolaan dan perluasan sebuah pembangkit listrik tenaga angin di pesisir Laut Merah.

Pemerintah Mesir juga masih menyiapkan penawaran aset lainnya. Pada Minggu (28/6), otoritas setempat mengumumkan empat perusahaan milik negara untuk sementara dicatatkan di bursa saham Mesir sebagai langkah awal menuju penawaran umum perdana saham atau IPO.

Selain itu, keberhasilan Mesir melewati peninjauan IMF turut didukung oleh perubahan aturan pajak pertambahan nilai (PPN) yang diperkirakan akan meningkatkan penerimaan negara, serta penerbitan dokumen yang memuat kebijakan kepemilikan negara untuk empat tahun ke depan.

IMF juga menyatakan Mesir telah menerapkan rezim nilai tukar yang lebih fleksibel, yang tercermin dari pergerakan naik dan turunnya nilai tukar pound Mesir selama berlangsungnya perang Iran.

Mata uang tersebut sempat merosot ke level terendah sepanjang sejarah setelah serangan awal Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran memicu arus keluar investasi portofolio. Namun, pelemahan itu berangsur pulih seiring Washington dan Teheran semakin mendekati kesepakatan damai sementara.