Indonesia Sedang Tumbuh Gigi Bungsu

Alumni Pascasarjana Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia, pemerhati sosial ekonomi
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Andri Yudhi Supriadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ekonomi Indonesia hari ini mungkin seperti tubuh yang sedang tumbuh gigi bungsu. Nyut-nyutan, mengganggu, bahkan kadang memicu demam dan membuat sulit makan. Namun, rasa sakit itu tidak selalu berarti tubuh sedang sekarat. Kadang, justru itu tanda bahwa tubuh sedang memasuki fase kedewasaan baru.
Sayangnya, ruang publik sering gagal membedakan antara rasa sakit dan penyakit. Setiap kali rupiah melemah, IHSG terkoreksi, atau investor asing keluar dari pasar domestik, sebagian langsung melihat bayangan 1998.
Sebaliknya, setiap kritik terhadap kondisi ekonomi juga kerap dijawab secara defensif dengan satu kalimat sakti: “Fundamental kita kuat.” Akibatnya, diskusi ekonomi berubah menjadi pertandingan dua kubu yang sama-sama terlalu sederhana.
Padahal, situasi Indonesia hari ini jauh lebih rumit dibanding sekadar memilih antara “aman” atau “krisis”.
Rupiah memang mengalami tekanan. Pasar saham bergejolak. Cadangan devisa juga terkuras untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Itu fakta yang tidak bisa disangkal. Namun di saat yang sama, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di atas 5 persen, inflasi relatif terkendali, perbankan tetap ekspansif, dan neraca perdagangan terus mencatat surplus selama bertahun-tahun.
Inilah yang membuat banyak orang bingung membaca keadaan. Data yang sama menghasilkan kesimpulan yang bertolak belakang. Sebagian melihat alarm kehancuran, sebagian lagi melihat bukti ketahanan. Mungkin masalahnya bukan pada datanya, melainkan pada cara membacanya.
Indonesia hari ini bukan ekonomi yang sedang kolaps. Namun, Indonesia juga bukan ekonomi yang sepenuhnya nyaman. Kita sedang berada di fase transisi besar yang secara alami memang menimbulkan rasa sakit.
Selama dua dekade terakhir, Indonesia menikmati model pertumbuhan yang relatif aman. Konsumsi domestik menjadi penopang utama. Stabilitas harga dijaga. Gejolak energi diredam subsidi. Pasar domestik cukup besar untuk menjaga ekonomi tetap bergerak, meski dunia sedang tidak baik-baik saja. Model ini berhasil membuat Indonesia relatif stabil dibanding banyak negara berkembang lain.
Namun, dunia berubah lebih cepat daripada sebelumnya.
Perang dagang, suku bunga tinggi global, fragmentasi geopolitik, perebutan rantai pasok industri, hingga transisi energi membuat negara-negara berkembang tidak bisa lagi hanya mengandalkan ekspor bahan mentah dan konsumsi domestik. Negara yang ingin naik kelas dipaksa membangun industri bernilai tambah, memperdalam pasar keuangan, memperkuat basis investor domestik, dan meningkatkan produktivitas ekonominya.
Dan semua proses itu mahal.
Hilirisasi membutuhkan impor mesin dan teknologi. Industrialisasi memerlukan investasi besar. Pendalaman pasar keuangan membuat arus modal menjadi lebih sensitif terhadap sentimen global. Bahkan, pelemahan rupiah dalam batas tertentu justru menjadi konsekuensi alami ketika kebutuhan devisa untuk transformasi ekonomi meningkat lebih cepat dibanding sebelumnya.
Di titik inilah Indonesia tampak seperti orang yang sedang tumbuh gigi bungsu: tidak nyaman, tetapi belum tentu sakit parah.
Banyak yang lupa bahwa konteks Indonesia hari ini berbeda jauh dibanding 1998. Saat krisis Asia meledak, Indonesia nyaris tidak memiliki bantalan. Cadangan devisa tipis, sektor perbankan rapuh, utang luar negeri swasta tidak terkendali, dan kepercayaan terhadap sistem keuangan runtuh secara bersamaan.
Hari ini fondasinya berbeda. Cadangan devisa Indonesia masih besar. Rasio permodalan perbankan berada pada level yang relatif kuat. Kredit investasi tumbuh lebih cepat dibanding kredit konsumsi. Inflasi inti juga tetap rendah meski rupiah mengalami tekanan. Bahkan, dominasi investor domestik di pasar modal kini jauh lebih besar dibanding satu dekade lalu.
Semua itu tidak berarti Indonesia kebal terhadap krisis. Namun, hal itu menunjukkan bahwa struktur ekonomi Indonesia sudah jauh lebih matang dibanding era sebelumnya.
Justru karena itulah tantangan Indonesia hari ini menjadi lebih kompleks.
Ekonomi yang semakin dewasa tidak cukup hanya bertahan dari guncangan. Ia juga harus mampu menghadapi konsekuensi dari ambisinya sendiri. Ketika pemerintah ingin mendorong hilirisasi, industrialisasi, pembangunan infrastruktur, dan transformasi energi secara bersamaan, tekanan terhadap fiskal, nilai tukar, dan kebutuhan pembiayaan tentu ikut meningkat.
Masalahnya, publik sering menginginkan dua hal yang bertentangan secara bersamaan: ingin ekonomi naik kelas, tetapi tidak ingin merasakan biaya transisinya.
Padahal, tidak ada negara yang berhasil melakukan transformasi ekonomi besar tanpa melalui periode ketidaknyamanan. Korea Selatan pernah mengalaminya. China juga melewati fase volatilitas panjang ketika mengubah struktur ekonominya. Bahkan, banyak negara maju membangun industrinya melalui periode inflasi tinggi, pelemahan mata uang, dan tekanan sosial yang berat.
Tentu ini bukan alasan untuk menutup mata terhadap risiko. Kepercayaan fiskal tetap menjadi titik paling krusial. Pasar bisa memaklumi gejolak sementara, tetapi pasar tidak menyukai ketidakjelasan arah kebijakan.
Karena itu, pemerintah tetap perlu menjaga disiplin fiskal, konsistensi regulasi, dan memastikan proyek-proyek besar benar-benar menghasilkan produktivitas jangka panjang, bukan sekadar kemegahan sesaat.
Pada akhirnya, mungkin masalah terbesar Indonesia hari ini bukanlah rasa sakit ekonominya, melainkan kepanikan kita sendiri menghadapi rasa sakit itu.
Karena seperti tumbuhnya gigi bungsu, rasa nyeri memang nyata. Kadang membuat demam, sulit tidur, bahkan mengganggu aktivitas sehari-hari. Namun, rasa sakit itu berbeda dengan tubuh yang sedang menuju kematian. Terkadang, justru itulah tanda bahwa tubuh sedang memasuki fase kedewasaan baru.
