Kumparan Logo

Industri Properti Optimistis Ekspansi di 2026, Ditopang Hunian Berkelanjutan

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi rumah berkelanjutan. Foto: ungvar/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi rumah berkelanjutan. Foto: ungvar/Shutterstock

Industri properti di Indonesia dinilai semakin menarik bagi investor, sejalan dengan meningkatnya kebutuhan hunian berkelanjutan dan berbasis inovasi. Sektor ini tidak hanya menjadi bagian dari kebutuhan dasar masyarakat, tetapi juga berkembang sebagai instrumen investasi jangka panjang yang menawarkan nilai ekonomi dan sosial sekaligus.

Berdasarkan data Realestate Indonesia (REI), sektor properti masih menjadi salah satu kontributor utama dalam investasi nasional. Realisasi investasi properti tercatat mencapai sekitar Rp 75 triliun pada semester II 2025, tumbuh 3,71 persen (yoy). Diikuti sektor konstruksi yang tumbuh di level 4,98 persen (yoy).

Selain itu, sektor properti juga masuk dalam tiga besar penyumbang investasi nasional dan berkontribusi signifikan terhadap perekonomian, dengan proyeksi kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat dari sekitar 10 persen menjadi 11,5 persen pada 2026. Tingginya efek pengganda (multiplier effect) dari sektor ini, mulai dari industri bahan bangunan, konstruksi, hingga logistik, menjadikannya salah satu motor penggerak ekonomi domestik.

video story embed

Dari sisi pasar, tren harga properti residensial juga menunjukkan pertumbuhan, meskipun masih terbatas. Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) tercatat tumbuh sekitar 0,83 persen secara tahunan pada akhir 2025, menandakan stabilitas pasar di tengah tekanan ekonomi. Sementara itu, pembelian rumah masih didominasi oleh skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan porsi lebih dari 74 persen, menunjukkan peran penting sektor pembiayaan dalam menopang permintaan.

Seiring dengan itu, arah pengembangan properti mulai bergeser. Pelaku industri kini mengintegrasikan desain, riset, dan inovasi untuk menghadirkan hunian yang lebih berkelanjutan. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kualitas ruang hidup, tetapi juga menjadi faktor penting dalam menarik investasi, terutama di tengah meningkatnya perhatian terhadap aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).

Perusahaan hunian global, Lixil, mendorong kolaborasi lintas disiplin antara arsitek, desainer, dan peneliti untuk menciptakan konsep hunian yang lebih adaptif. Integrasi antara desain, data lingkungan, dan inovasi teknologi dinilai mampu meningkatkan nilai tambah properti sekaligus menjawab tantangan urbanisasi dan perubahan iklim.

“Kolaborasi adalah kunci dan standar baru untuk membentuk kualitas ruang hidup yang lebih baik. Lanskap arsitektur masa kini harus mampu memberikan kontribusi yang lebih luas, mulai dari kelestarian lingkungan, kesejahteraan masyarakat, hingga kemajuan pembangunan nasional," ujar Marketing Director Lixil Water Technology Indonesia, Arfindi Batubara.

Founder Adi Purnomo dari Mamostudio, Adi Purnomo, menilai pengembangan properti ke depan perlu semakin berfokus pada isu keberlanjutan, khususnya terkait pengelolaan air dan kualitas ruang hidup di kawasan perkotaan. Ia menjelaskan, konsep paviliun Oase lahir sebagai respons atas tantangan tersebut melalui pendekatan yang lebih terbuka, kolaboratif, dan berbasis riset.

Ia menambahkan, perhatian terhadap isu air menjadi bagian krusial dalam pengembangan hunian berkelanjutan, mengingat tantangan urban seperti krisis air dan keterbatasan ruang hijau semakin nyata. Konsep Oase yang diusung tidak hanya menghadirkan elemen air dan ruang hijau, tetapi juga menjadi simbol bagaimana properti dapat dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh.

“Intinya bukan sekadar membangun ruang, tetapi bagaimana properti bisa menjadi solusi atas persoalan kota. Pendekatan berbasis penelitian dan kolaborasi seperti ini penting agar desain yang dihasilkan benar-benar relevan dengan tantangan yang dihadapi masyarakat,” kata Adi.

Ke depan, tren investasi di sektor properti diperkirakan akan semakin menguat seiring pemulihan pasar yang mulai terlihat sejak akhir 2025, khususnya di segmen perkantoran, ritel, dan kawasan industri.