Kumparan Logo

Industri Tambang RI Diproyeksi Tetap Kuat, Didukung Permintaan Batu Bara & Nikel

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pertambangan. Foto: PT Andalan Artha Primanusa
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pertambangan. Foto: PT Andalan Artha Primanusa

Industri pertambangan diproyeksi masih menjadi tulang punggung ketahanan energi dan ekonomi nasional, dengan batu bara dan nikel sebagai komoditas penggerak utama.

Berdasarkan Dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, permintaan listrik nasional diperkirakan meningkat 5,3 persen setiap tahunnya. Hal ini mendorong proyeksi pertumbuhan konsumsi batu bara yang stabil sebagai pilar utama produksi listrik tanah air. Walaupun penggunaan energi baru terbarukan terus meningkat, batu bara tetap memegang peranan strategis dalam bauran energi nasional.

Di sisi lain, nikel muncul sebagai komoditas penggerak masa depan yang sangat krusial bagi transisi energi global. Indonesia saat ini telah mengukuhkan posisinya dengan mendominasi produksi nikel global dengan menguasai 67 persen pangsa pasar. Posisi Indonesia diproyeksikan semakin kuat, hingga mampu memimpin produksi nikel dunia dengan menguasai 74 persen pangsa pasar pada 2035.

Peningkatan aktivitas pada kedua komoditas unggulan ini, seiring dengan permintaan batubara yang semakin stabil, memicu lonjakan kebutuhan operasional secara signifikan di lapangan. Akibatnya, skala aktivitas pertambangan menjadi jauh lebih masif dan memiliki tingkat kompleksitas teknis yang semakin tinggi.

Peningkatan kualitas kompleksitas teknis operasional pertambangan modern, membuat pemilik tambang tidak dapat menangani semua persoalan secara langsung.

Ilustrasi Tambang Nikel Indonesia Foto: Masmikha/Shutterstock

Peran kontraktor jasa pertambangan menjadi semakin vital dalam kondisi ini, karena berfungsi sebagai enabler utama yang menjamin terciptanya efisiensi dan produktivitas. Kesuksesan proyek tambang sangat bergantung pada konsistensi dan kualitas eksekusi operasional di lapangan.

"Di industri pertambangan, yang paling menentukan bukan hanya resource, tapi konsistensi eksekusi di lapangan," ujar Direktur Utama PT Andalan Artha Primanusa, Gahari Christine, dalam keterangannya, Senin (4/5).

"Karena itu, peran kontraktor menjadi semakin penting dalam menjaga produktivitas dan efisiensi operasional," ucapnya.

Gahari mengatakan, prospek industri pertambangan ke depan akan tetap kuat. Proyeksi untuk energi konvensional tetap stabil di tengah percepatan program hilirisasi nasional, dengan tingkat pertumbuhan per tahun (CAGR) sekitar 8 persen, sehingga total produksi nikel global diperkirakan mencapai 5,0 juta metrik ton pada 2035.

Selain unggul di sektor hulu, Indonesia juga tengah memimpin industri hilirisasi dengan penguasaan 45 persen pada pangsa pengolahan (refining) nikel global. Pertumbuhan pesat ini akan meningkatkan kebutuhan industri terhadap mitra kontraktor tambang.

Melihat potensi ini, Andalan berkomitmen untuk menjaga kualitas operasional serta mempererat kemitraan strategis. Selama 8 tahun berdiri, Andalan fokus pada penyediaan solusi end-to-end, mulai dari fase eksplorasi, produksi, hingga tahap reklamasi.

Operasionalnya tersebar di wilayah strategis (multi-site), mencakup Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, hingga Halmahera Timur. Jangkauan ini mendapat dukungan kemitraan strategis dengan entitas terkemuka seperti Grup Harum Energy, Bukit Asam, dan Grup Petrindo.

Portofolio kontrak secara berkelanjutan menjadi bukti Andalan. Perseroan saat ini mengelola sejumlah kontrak operasional strategis, termasuk kerja sama dengan PT Satria Bahana Sarana di wilayah operasi PT Bukit Asam Tbk.

video story embed

Memasuki 2026, Andalan memperkuat posisinya dengan mengamankan berbagai kontrak baru di sektor operasional batubara. Kontrak tersebut mencakup pekerjaan dari PT Daya Bumindo Karunia, PT Intan Bumi Persada, dan PT Arkara Prathama Energi.

Tidak hanya piawai di sektor batu bara, Andalan juga membuktikan fleksibilitas dan kapasitas bisnisnya. Perseroan sukses melakukan diversifikasi ke industri nikel sejak Januari 2026. Hal ini dibuktikan melalui perolehan kontrak pengembangan dan operasi penambangan bersama PT Position di Maluku Utara.

Seluruh capaian ini selaras dengan fokus utama Andalan terhadap konsistensi operasional. Perseroan memegang teguh prinsip bahwa kapabilitas menciptakan keunggulan kompetitif, dan keandalan bermula dari pemeliharaan alat berat.

Melihat prospek industri pertambangan nasional yang semakin kokoh seiring berjalannya transisi komoditas dan masifnya hilirisasi. Membuat konsumsi batu bara dan nikel tetap bertumbuh konsisten sebagai penopang utama kebutuhan pembangkit listrik dan transisi energi di Indonesia.

Fundamental industri yang sangat kuat pada kedua komoditas strategis tersebut dipastikan akan memicu eskalasi kebutuhan operasional di lapangan. Berkat rekam jejak yang solid dan ekspansi terukur, Andalan kini menempati posisi strategis untuk memanfaatkan peluang besar serta memenuhi kebutuhan jasa kontraktor pertambangan, baik untuk saat ini maupun di masa mendatang.