Inflasi AS Capai 4,2 Persen pada Mei 2026, Trump Sebut Angkanya Sangat Bagus
·waktu baca 4 menit

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump merespons data inflasi AS pada Mei 2026 yang melonjak 4,2 persen. Angka tersebut menjadi kenaikan bulanan ketiga berturut-turut sejak pecahnya perang di Iran dan merupakan level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Trump mengaku tidak khawatir terhadap lonjakan inflasi AS yang terjadi akibat perkembangan perang di Timur Tengah itu. “Tidak, saya menyukainya. Angkanya sangat bagus,” kata Trump saat di Gedung Putih pada Rabu (10/6), dikutip dari The Guardian.
Trump mengeklaim AS telah mengambil jutaan barel minyak tanpa sepengetahuan Iran. “Kami mengambil 22 kapal pada malam hari tanpa lampu karena mereka tidak memiliki radar, karena kami menghancurkannya. Itulah sebabnya harga minyak berada di USD 85 per barel,” ujar Trump, mengacu pada klaim yang belum dapat diverifikasi secara independen oleh The Guardian.
Trump menegaskan sejak awal konflik dengan Iran telah memahami dampak perang terhadap perekonomian.
“Ingat ketika saya melakukan ini, saya mengatakan bahwa saya tidak suka melakukannya, tetapi Iran akan segera memiliki senjata nuklir. Kami harus masuk dan menyerang,” kata Trump.
Data yang dirilis sebelumnya pada hari yang sama menunjukkan tekanan harga meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir. Inflasi tahunan tercatat sebesar 3,3 persen pada Maret dan naik menjadi 3,8 persen pada April. Sebelum konflik dimulai, inflasi pada Februari berada di level 2,4 persen.
Menurut data terbaru dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS), kenaikan harga energi kembali menjadi penyumbang utama inflasi dengan kontribusi sekitar 60 persen terhadap kenaikan bulanan Indeks Harga Konsumen (CPI).
Berdasarkan data AAA, harga rata-rata bensin nasional mencapai USD 4,15 per galon. Meski sedikit lebih rendah dibandingkan sebulan sebelumnya, harga tersebut masih sekitar USD 1 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tarif penerbangan juga melonjak 26,7 persen secara tahunan, menambah tekanan bagi masyarakat menjelang musim liburan musim panas.
Selain energi, harga berbagai kebutuhan pokok seperti makanan, layanan energi, dan pakaian juga meningkat. Sementara itu, inflasi inti atau core CPI, yang tidak memasukkan komponen energi dan makanan yang berfluktuasi tinggi, naik 2,9 persen.
Gedung Putih dalam pernyataannya menyebut data inflasi terbaru masih sesuai ekspektasi dan menunjukkan bahwa agenda ekonomi Trump tetap memberikan hasil positif, meskipun terdapat gangguan sementara akibat konflik dengan Iran.
Juru Bicara Gedung Putih, Kush Desai, mengatakan harga obat resep, produk susu, mobil, serta premi asuransi kesehatan dan kendaraan terus menurun berkat kebijakan pemerintah.
“Pemerintahan akan terus mendorong agenda keterjangkauan agar masyarakat Amerika dapat menyimpan lebih banyak hasil kerja keras mereka,” ujarnya.
Sejak perang AS-Israel dengan Iran dimulai, inflasi AS telah mencapai level tertinggi sejak 2023. Meski demikian, angka tersebut masih jauh di bawah puncak inflasi tahun 2022 yang sempat menyentuh 9 persen.
Kenaikan harga juga memperburuk pandangan masyarakat terhadap kondisi ekonomi mereka. Survei yang dirilis Federal Reserve Bank of New York pada Senin (8/6) menunjukkan rumah tangga AS semakin pesimistis terhadap prospek inflasi, pasar tenaga kerja, peluang memperoleh pekerjaan, dan risiko Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Data dari University of Michigan juga menunjukkan sentimen konsumen merosot ke level terendah sepanjang sejarah setelah turun selama tiga bulan berturut-turut. Data inflasi terbaru ini meningkatkan tekanan terhadap pejabat Federal Reserve (The Fed) yang akan menggelar pertemuan pekan depan di bawah kepemimpinan baru Ketua The Fed, Kevin Warsh.
The Fed mempertahankan suku bunga sejak akhir tahun lalu dan tetap menargetkan inflasi tahunan sebesar 2 persen.
Warsh sebelumnya menyatakan suku bunga saat ini yang berada pada kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen seharusnya diturunkan. Pandangan tersebut sejalan dengan Trump yang selama setahun terakhir terus mendorong bank sentral untuk memangkas suku bunga.
Meski inflasi meningkat, Trump diperkirakan tidak akan menghentikan desakannya agar The Fed segera menurunkan suku bunga. Pada Selasa (9/6), ia mengatakan harga bahan bakar di AS masih belum tergolong terlalu tinggi.
Biasanya, The Fed menurunkan suku bunga untuk mengatasi tingginya pengangguran meski berisiko mendorong kenaikan inflasi. Namun, pasar tenaga kerja AS masih relatif kuat. Pada Mei, perusahaan-perusahaan di AS menambah sekitar 172.000 lapangan kerja baru, sementara tingkat pengangguran tetap berada di level 4,3 persen.
Pada Jumat (5/6) lalu, Goldman Sachs menyatakan tidak lagi memperkirakan adanya pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini. Bank investasi tersebut kini memperkirakan suku bunga akan dipertahankan sepanjang 2026 dan baru dipangkas tahun depan.
Sementara itu, JP Morgan Global Research memperkirakan sejumlah bank sentral dunia justru berpotensi menaikkan suku bunga dalam beberapa tahun mendatang, termasuk kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga pada 2027.
Kepala Ekonom Global JPMorgan Chase, Bruce Kasman, dalam laporannya pada April menilai lonjakan harga energi telah mengubah perdebatan mengenai arah inflasi dan kebijakan moneter.
“Lonjakan harga energi kini meningkatkan inflasi dan menekan daya beli rumah tangga secara signifikan. Tekanan itu bisa semakin besar jika perang Timur Tengah terus membuat Selat Hormuz tetap tertutup,” tulis Bruce Kasman.
