Inflasi Pangan Naik, BI dan Pemerintah Perkuat Pengendalian Harga

Gubernur Bank Indonesia (BI) terpilih Destry Damayanti menyoroti kenaikan inflasi pangan yang menjadi perhatian bersama pemerintah dan bank sentral. Menurutnya, kenaikan tersebut perlu diantisipasi agar tidak mengganggu stabilitas inflasi secara keseluruhan.
Destry mengatakan, inflasi komponen pangan bergejolak atau volatile food saat ini menunjukkan peningkatan. Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bersama, terutama dalam menjaga kestabilan harga pangan di tengah perkembangan aktivitas ekonomi. BPS mencatat inflasi volatile food pada Agustus 2026 mencapai 4,06 persen yoy, melonjak dibandingkan Juli 2026 yang sebesar 2,5 persen yoy.
“Volatile food inflation-nya lagi naik. Nah makanya memang kan BI bersama-sama dengan pemerintah daerah dan pemerintah pusat, kita juga menangani program untuk pengendalian inflasi pangan gitu,” kata Destry kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Selasa (1/9).
Di sisi lain, Destry menilai perkembangan inflasi inti atau core inflation masih relatif stabil. Bahkan, komponen tersebut menunjukkan sedikit peningkatan yang mencerminkan adanya aktivitas ekonomi yang terus bergerak.
“Jadi kalau kita lihat core inflation-nya masih tetap sabil,dia malah meningkat dikit artinya ada aktivitas ekonomi dari 2,7 persen ke 2,9 persen,” ujarnya.
Destry kemudian menekankan bahwa kenaikan inflasi pangan menjadi tantangan yang perlu ditangani secara bersama-sama. Ia menyebut volatile food meningkat dari kisaran 2 persen menjadi 4 persen, sehingga pengendalian harga pangan menjadi salah satu perhatian utama.
“Tapi memang untuk volatile food-nya naik dari 2 persen ke 4 persen. Jadi memang PR kita bersama-sama menjaga stabilitas di harga pangan. Itu aja ya, makasih ya semuanya,” tutur Destry.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Agustus 2026 mengalami inflasi sebesar 0,21 persen secara bulanan (month to month/mtm). Sementara secara tahunan (year on year/yoy), inflasi tercatat sebesar 3,19 persen.
“Pada Agustus 2026 terjadi inflasi sebesar 0,21 persen secara bulanan atau month to month. Secara tahunan atau year on year terjadi 3,19 persen,” kata Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta Pusat, Selasa (1/9).
Kelompok pengeluaran yang menjadi pendorong utama inflasi bulanan pada Agustus adalah makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok tersebut mencatat inflasi sebesar 0,57 persen dan memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,17 persen.
Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi oleh komoditas daging ayam ras yang memberikan andil inflasi sebesar 0,17 persen.
Selain kelompok makanan, minuman, dan tembakau, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga turut memberikan tekanan terhadap inflasi. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,37 persen dengan andil inflasi sebesar 0,03 persen.
“Selain makanan, minuman, dan tembakau, kelompok perawatan pribadi dan Jasa lainnya juga memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,03 persen dengan inflasi sebesar 0,37 persen,” lanjut Ateng.
Inflasi pada kelompok tersebut terutama dipengaruhi oleh komoditas emas perhiasan. Komoditas ini mengalami inflasi sebesar 0,75 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen.
Sementara itu, tekanan inflasi tertahan oleh kelompok transportasi yang mengalami deflasi sebesar 0,50 persen pada Agustus 2026. Kelompok tersebut memberikan andil deflasi sebesar 0,06 persen.
Deflasi pada kelompok transportasi terutama berasal dari penurunan tarif angkutan udara yang memberikan andil deflasi sebesar 0,06 persen, serta bensin yang memberikan andil deflasi sebesar 0,03 persen.
