Kumparan Logo

Inovasi 43 Perusahaan AS di RI Diklaim Ciptakan Nilai Ekonomi Rp 434 T

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Peluncuran Laporan BISA 2026 di The Westin, Jakarta pada Rabu (16/9/2026). Foto: Argya D. Maheswara/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Peluncuran Laporan BISA 2026 di The Westin, Jakarta pada Rabu (16/9/2026). Foto: Argya D. Maheswara/kumparan

US ASEAN Business Council (USABC) menjelaskan investasi Amerika Serikat (AS) di Indonesia juga diiringi inisiatif inovasi. Adapun dari inovasi-inovasi yang dilakukan sudah mencatat nilai ekonomi hingga Rp 434 triliun atau sekitar USD 24,8 miliar.

Executive VP of Research and Chief Policy Officer US-ASEAN Business Council, Marc Mealy juga menuturkan saat ini USABC juga sudah meluncurkan Laporan Bisnis AS untuk Indonesia (BISA) 2026 yang menjelaskan dampak dari inovasi tersebut.

“Laporan BISA 2026 mengidentifikasi 91 contoh inovasi yang dilakukan oleh 43 perusahaan Amerika Serikat di Indonesia sepanjang Januari 2020 hingga Januari 2026. Di balik angka-angka tersebut terdapat investasi, program, dan kemitraan nyata yang memberikan dampak signifikan di lapangan terhadap kehidupan masyarakat Indonesia,” kata Marc dalam Peluncuran Laporan BISA 2026 di The Westin, Jakarta pada Rabu (16/9).

Di samping itu, ia ingin inovasi yang dilakukan perusahaan-perusahaan AS tersebut dilihat sebagai suatu hal yang berdampak utamanya untuk peningkatan keterampilan masyarakat. Hal tersebutlah yang bagi Marc memiliki dampak panjang bagi perekonomian.

“Kami ingin menunjukkan bagaimana inovasi ini menciptakan peluang bagi masyarakat Indonesia untuk meningkatkan keterampilan, memperkuat bisnis, dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi jangka panjang,” ujarnya.

Peluncuran Laporan BISA 2026 di The Westin, Jakarta pada Rabu (16/9/2026). Foto: Argya D. Maheswara/kumparan

Strategic Communications Lead US-ASEAN Business Council, Wanda Firmansyah menjelaskan angka Rp 434 triliun nilai perekonomian yang tercipta dari inovasi-inovasi perusahaan AS di Indonesia tersebut merupakan hasil dari 28 inisiatif inovasi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan AS di Indonesia.

Sementara itu, secara keseluruhan ia mencatat sudah ada 43 perusahaan AS yang telah melakukan inisiatif inovasi di Indonesia. Dari situ, dalam kurun Januari 2020 sampai Januari 2026, sudah ada 91 inovasi yang dilakukan.

“Saya yakin masih banyak perusahaan yang mungkin belum termasuk dalam report ini. Kami tentu ingin semuanya masuk, tetapi kami juga terbatas dengan data yang tersedia. Sehingga, yang berhasil kami kumpulkan secara lengkap sekitar 43 perusahaan yang sudah teridentifikasi melakukan inovasi di Indonesia,” kata Wanda.

Lebih lanjut, Wanda menjelaskan 41 persen dari inovasi tersebut saat ini sudah berdampak pada pembangunan sumber daya manusia. Hal ini tercermin dari adanya jutaan masyarakat yang mendapat pelatihan digital.

“Ada 10,7 juta penerima manfaat, di antaranya 4 juta perempuan yang mendapatkan manfaat dan lebih dari 1 juta peserta pelatihan digital. Menariknya, digital menjadi salah satu bagian yang banyak dikembangkan. Kami melihatnya sebagai salah satu cara untuk memperluas akses bagi pekerja, pelajar, keluarga, penyandang disabilitas, maupun kelompok rentan,” ujarnya.

Peluncuran Laporan BISA 2026 di The Westin, Jakarta pada Rabu (16/9/2026). Foto: Argya D. Maheswara/kumparan

Selain itu, 22 persen dari total inovasi tersebut juga sudah mendorong ketahanan energi, konservasi, praktik yang bertanggung jawab, efisiensi sumber daya, dan pengurangan limbah. Terakhir, 37 persen dari inovasi tersebut sudah berdampak pada peningkatan daya saing bisnis.

Adapun untuk sektor perusahaan AS yang melakukan inovasi-inovasi tersebut, Wanda menjelaskan hal itu banyak dilakukan oleh perusahaan di bidang energi.

“Memang, inovasi ini banyak terkonsentrasi pada sektor energi dan pertambangan. Perusahaan-perusahaan di bidang energi, pertambangan, minyak dan gas, serta makanan dan minuman mencakup kurang lebih 58 persen dari total inovasi,” kata Wanda.

Inovasi Perusahaan di Indonesia Masih Rendah

Merespons itu, Ketua Apindo, Shinta Kamdani menyadari bahwa memang inovasi di Indonesia utamanya oleh pelaku usaha masih rendah. Maka dari itu, ia ingin perusahaan-perusahaan Indonesia ke depan bisa juga memprioritaskan inovasi.

“Inovasi itu is everything. Jadi menurut saya Indonesia ini memang mungkin fokus prioritas di inovasinya masih kurang tinggi. Kalau menurut kami ini sebenarnya sangat-sangat mestinya di top priority buat Indonesia,” ujar Shinta.

DI samping itu, hal itu juga tercermin dari adanya survei Apindo di mana pada awal tahun lalu, tercatat bahwa 97 persen perusahaan di Indonesia masih menganggap RnD masih belum terlalu penting untuk perusahaan.

Dari situ, 50 persen perusahaan juga masih belum memiliki rencana untuk melakukan kegiatan RnD, 28 persen di antaranya masih dalam pertimbangan dan hanya 22 persen sisanya sudah memiliki rencana yang jelas untuk RnD.

“Jadi angka itu menyatakan bahwa yang kita problem ini implementation gap-nya,” ujarnya.