Jepang Kucurkan USD 74 M untuk Dongkrak Nilai Tukar Yen yang Melemah
·waktu baca 4 menit

Jepang telah menggunakan dana hampir USD 74 miliar dalam sebulan terakhir untuk menopang nilai tukar yen yang melemah hingga tembus level 160 per dolar Amerika Serikat (AS). Hal ini dikonfirmasi oleh Kementerian Keuangan sembari menunjukkan intervensi pasar pertama pemerintah sejak 2024. Kementerian Keuangan Jepang pada Jumat (29/5) mengungkapkan total intervensi yaitu sebesar 11,73 triliun yen atau sekitar USD 73,6 miliar selama periode 28 April hingga 27 Mei, ditandai dengan beberapa lonjakan nilai tukar yen. Data tersebut menegaskan tekad otoritas Jepang untuk mencegah kejatuhan tajam yen dan menjadi pengakuan resmi pertama bahwa pemerintah turun tangan ke pasar setelah yen menyentuh level 160,72 per dolar AS. Seorang sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan Jepang melakukan intervensi pada 30 April, sementara spekulasi mengenai aksi pembelian yen lanjutan terus berkembang dalam beberapa hari berikutnya. Jumlah intervensi itu juga lebih besar dari perkiraan pasar. Berdasarkan perhitungan arus dana bank sentral, pengeluaran Jepang sebelumnya diperkirakan hanya mencapai sekitar 10,08 triliun yen setelah dua putaran intervensi. Angka yang lebih besar ini menunjukkan kementerian menghadapi tantangan lebih berat dalam menopang yen dan memicu dugaan bahwa intervensi dilakukan beberapa kali. “Ini meningkatkan kemungkinan bahwa intervensi diam-diam dilakukan di kisaran 158,50 hingga 159,50 yen,” kata Rinto Maruyama, Senior FX and Rates Strategist di SMBC Nikko Securities, dikutip dari Bloomberg pada Sabtu (30/5). “Hal ini kemungkinan akan diartikan sebagai kegagalan menghentikan pelemahan yen meskipun telah dilakukan intervensi diam-diam, yang kemungkinan memperkuat argumen mengenai keterbatasan intervensi sepihak,” lanjutnya. Pelaku pasar harus menunggu hingga awal Agustus untuk mendapatkan informasi lebih rinci mengenai waktu dan besaran intervensi harian, ketika kementerian merilis data kuartalan secara lebih detail. Sebelum itu, kementerian dijadwalkan merilis rincian cadangan devisa Jepang per akhir Mei pada pekan depan. Data tersebut diperkirakan dapat memberikan petunjuk mengenai cara Tokyo membiayai operasi pembelian yen. Dalam intervensi sejak 2022, Jepang diketahui menjual sebagian kepemilikan obligasi pemerintah AS untuk mendanai langkah stabilisasi mata uang. Hingga akhir April, Jepang memiliki aset mata uang asing senilai USD 1,17 triliun. Menteri Keuangan AS Scott Bessent baru-baru ini menyebut volatilitas tajam nilai tukar asing sebagai sesuatu yang tidak diinginkan, yang dianggap sebagai sinyal persetujuan diam-diam Washington terhadap langkah Tokyo. Namun, penjualan obligasi AS untuk mendanai intervensi berpotensi menimbulkan kekhawatiran karena dapat mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS.
Kementerian Keuangan AS biasanya menerbitkan laporan nilai tukar asing pada Juni. Laporan terbaru itu diperkirakan akan memberikan gambaran lebih lanjut mengenai pandangan Washington terhadap aksi Jepang.
Dampak Kebijakan Bank of Japan
Intervensi pada 30 April dilakukan dua hari setelah Bank of Japan (BOJ) mempertahankan kebijakan moneternya. Langkah tersebut mirip dengan pola yang terjadi pada April 2024, ketika BOJ memutuskan untuk menahan kebijakan di akhir bulan melemahkan yen dan mendorong pemerintah masuk ke pasar. Saat itu, yen tetap berada di bawah tekanan akibat lebar selisih suku bunga antara AS dan Jepang serta meningkatnya kekhawatiran inflasi terkait konflik Timur Tengah. Hingga kini belum ada katalis yang cukup kuat untuk membalikkan situasi tersebut. BOJ dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan berikutnya pada 16 Juni. Banyak pelaku pasar memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin yang dinilai dapat membantu mempersempit selisih suku bunga tersebut. “Otoritas membeli waktu sekitar satu bulan, dari 30 April hingga akhir Mei. Selama periode itu, pasar menghadapi ketidakpastian luar biasa terkait konflik Timur Tengah,” kata Executive Adviser di SBI FXTrade, Yuji Saito. “Terlepas dari risiko yang berasal dari Selat Hormuz dan penguatan dolar AS, kementerian berhasil menjaga nilai tukar tetap berada dalam kisaran 5 yen. Dari perspektif itu, saya akan mengatakan intervensi berhasil mencapai tujuan utamanya untuk menahan volatilitas,” imbuh Saito. Meski demikian, pertanyaan mengenai efektivitas intervensi terbesar sepanjang sejarah itu diperkirakan masih akan terus muncul, terutama karena dolar AS telah kembali menghapus sebagian besar pelemahan pasca-intervensi. Yen diperdagangkan di kisaran 159,29 per dolar AS pada Jumat (29/5) malam. “Intervensi itu memang berdampak pada saat dilakukan. Tetapi saya tidak percaya mereka berhasil mengubah pola pikir pasar,” kata Manajer Cabang Tokyo di State Street Bank & Trust, Bart Wakabayashi. Ia juga melihat kemungkinan adanya intervensi lanjutan ke depan. Pejabat Jepang terus memberi sinyal kesiapan untuk kembali bertindak jika diperlukan. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama pada Jumat kembali menegaskan kesiapannya merespons pergerakan mata uang yang berlebihan. “Jika pasar bergerak melewati level 160 dan pergerakannya terlalu mudah, saya pikir kita akan melmelakukan intervensi lagi,” ujar Wakabayashi.
