Kumparan Logo

Kevin Warsh Resmi Jadi Ketua The Fed, Janji Tak Akan Jadi 'Boneka' Trump

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua Federal Reserve (The Fed) yang baru, Kevin Warsh, meninggalkan East Room di Gedung Putih setelah upacara pelantikannya di Washington, DC, Jumat (22/5/2026). Foto: AARON SCHWARTZ/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Federal Reserve (The Fed) yang baru, Kevin Warsh, meninggalkan East Room di Gedung Putih setelah upacara pelantikannya di Washington, DC, Jumat (22/5/2026). Foto: AARON SCHWARTZ/AFP

Kevin Warsh resmi memimpin Federal Reserve (The Fed) dengan membawa agenda reformasi besar di tengah sorotan atas potensi tekanan politik dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menunjuknya sebagai ketua bank sentral AS.

Warsh resmi dikonfirmasi Senat AS untuk masa jabatan empat tahun sebagai pimpinan bank sentral pekan lalu dan menjalani pelantikan di Gedung Putih pada Jumat (22/5).

“Saya percaya, Tuan Presiden, tahun-tahun ini dapat menghadirkan kemakmuran luar biasa yang akan meningkatkan taraf hidup masyarakat Amerika dari semua lapisan, dan The Fed memiliki peran di dalamnya,” kata Warsh setelah Trump melontarkan pujian besar kepadanya, dikutip dari AFP, Sabtu (23/5).

Pria berusia 56 tahun asal New York bagian utara itu sebelumnya meninggalkan masa jabatan pertamanya di Dewan Gubernur The Fed lebih awal pada 2011 akibat perbedaan pandangan terkait kebijakan moneter.

Kini, Warsh kembali untuk memimpin The Fed dengan mandat menjaga inflasi dan memastikan tingkat lapangan kerja maksimum, membawa target mengubah cara bank sentral mengambil keputusan, berkomunikasi, hingga menerapkan perubahan kebijakan.

Ia memulai masa kepemimpinannya di tengah tekanan politik yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap independensi The Fed. Trump terus mendesak bank sentral memangkas suku bunga guna mendorong aktivitas ekonomi AS.

Trump sebelumnya kerap mengkritik dan menyerang pendahulu Warsh, Jerome Powell, karena dinilai lambat memangkas suku bunga. Pemerintahan Trump bahkan sempat menargetkan Powell dalam penyelidikan pidana dan hingga kini masih berupaya mencopot salah satu gubernur The Fed, Lisa Cook.

Dalam sidang konfirmasi di Komite Perbankan Senat AS, Warsh berjanji menjaga independensi The Fed dan menegaskan dirinya “sama sekali tidak” akan menjadi boneka Trump.

Namun, dalam pidato pelantikannya, Warsh tidak lagi menyinggung isu independensi. Ia justru berjanji akan menantang “kerangka dan model statis”, serta menjaga “standar integritas dan kinerja yang jelas.”

Profil Kevin Warsh, Ketua The Fed Pilihan Trump

Kevin Warsh. Foto: Ann Saphir/REUTERS

Warsh lahir dan besar di Albany, New York. Ia menempuh pendidikan di Stanford University dan Harvard Law School. Ia menikah dengan Jane Lauder, cucu pendiri perusahaan kosmetik Estee Lauder. Ayah Jane, Ronald Lauder, merupakan miliarder dan sekutu lama Trump.

Warsh memulai karier di bank investasi Morgan Stanley dengan fokus pada merger dan akuisisi. Ia kemudian bergabung dengan pemerintahan Presiden George W. Bush sebagai penasihat kebijakan ekonomi Gedung Putih pada 2002–2006 sebelum ditunjuk menjadi anggota Dewan Gubernur The Fed.

Warsh menjabat saat krisis keuangan global dan akhirnya keluar pada 2011 karena perbedaan pandangan terkait cara bank sentral menangani krisis tersebut. Setelah itu, ia kembali bekerja di Wall Street dan duduk di jajaran direksi sejumlah perusahaan, termasuk UPS.

“Saya melihat The Fed dan orang-orang di dalamnya berada pada kondisi terbaiknya, tetapi saya juga menyaksikan institusi yang tergoda memainkan peran lebih besar dalam ekonomi dan masyarakat,” kata Warsh.

Pernyataan tersebut sejalan dengan pandangan Trump yang menilai The Fed seharusnya fokus pada tugas utamanya dan tidak melebar ke isu lain.

Rekam Jejak Kevin Warsh di The Fed

Kevin Warsh. Foto: Brendan McDermid/REUTERS

Pada masa jabatan pertamanya di The Fed, Warsh dikenal sebagai pejabat yang cenderung mendukung kebijakan pengetatan untuk menekan inflasi melalui kenaikan suku bunga. Namun dalam beberapa tahun terakhir, ia mulai sejalan dengan tuntutan Trump untuk menurunkan suku bunga meski inflasi AS masih tinggi sejak pandemi Covid-19.

Warsh menyalahkan tingginya inflasi pada “kesalahan kebijakan” The Fed pada 2021 dan 2022.

Ia juga menyerukan perubahan rezim dalam pengambilan kebijakan, termasuk mengubah data yang digunakan The Fed dalam mengambil keputusan, menghapus strategi dari komunikasi kebijakan, serta mendorong perdebatan yang lebih terbuka di internal bank sentral.

Selain itu, Warsh ingin mengecilkan neraca The Fed dan lebih mengutamakan penggunaan suku bunga sebagai instrumen utama bank sentral.

Senior Fellow Brookings Institution, David Wessel, mengatakan Warsh memang membawa agenda yang luas, namun publik perlu melihat tindakan nyata yang diambilnya, bukan hanya pernyataannya.

Menurut Wessel, Warsh tidak akan bisa begitu saja memaksakan kehendaknya di The Fed dan tetap harus bekerja sama dengan para pembuat kebijakan lainnya.

“Ia sangat halus dalam pendekatan dan cukup baik dalam berhubungan dengan orang lain. Itu akan membantunya selama ia tidak bergerak terlalu cepat atau terlalu radikal,” ujar Wessel kepada AFP.

Sementara itu, profesor hukum Columbia University, Kathryn Judge, menilai perpecahan yang sudah ada di internal The Fed akan menjadi tantangan besar bagi Warsh.

“Saya rasa kita harus menunggu dan melihat. Sudah lama kita tidak memiliki ketua The Fed yang datang dengan tujuan membentuk arah baru, bukan sekadar melanjutkan keberhasilan pendahulunya,” kata Judge.