Konten Media Partner

Komunitas TDA Ciamis Lakukan Kunjungan Bisnis di Kampung Nila

TDAverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Komunitas TDA Ciamis Lakukan Kunjungan Bisnis di Kampung Nila
zoom-in-whitePerbesar

Ciamis — Komunitas Pengusaha Tangan Di Atas (TDA) Ciamis kembali menggelar program Kunjungan Bisnis (Kubis) pada Sabtu (25/4/2026) di Pawon Lembah Ereng, Kampung Nila, Kawali, Kabupaten Ciamis. Kegiatan ini menjadi ruang belajar langsung bagi anggota untuk menyerap pengalaman praktis dari pelaku usaha lokal.

Ruang Belajar Langsung dari Pelaku Usaha Lokal

Kegiatan menghadirkan pelaku usaha setempat, H. Wahyudin Fadhilah atau yang akrab disapa Mang Wahyu, sebagai narasumber. Ketua TDA Ciamis, Andi Rustaman, menyampaikan bahwa kegiatan dimulai pukul 15.47 WIB dan diikuti anggota yang ingin menggali insight langsung dari pelaku usaha berpengalaman.

Ia menjelaskan, program Kubis difokuskan pada pembelajaran praktis, mulai dari perjalanan membangun usaha, menghadapi tantangan, hingga strategi mengembangkan bisnis berbasis potensi lokal. Melalui kegiatan ini, ia berharap ada keberlanjutan dalam bentuk ruang berbagi dan diskusi antaranggota.

“Saya mendorong adanya ruang-ruang lanjutan untuk berbagi pengalaman dan memperdalam pembelajaran antar anggota,” jelasnya.

Ekosistem Bisnis Kampung Nila yang Terintegrasi

Mang Wahyu membuka sesi dengan memperkenalkan ekosistem usaha di Kampung Nila. Ia menjelaskan bahwa kawasan tersebut telah berkembang memasuki fase keempat, yakni sebagai pusat budidaya perikanan, pusat kuliner, pusat pelatihan, sekaligus pusat edukasi perikanan.

“Jadi, di dalamnya, terdapat berbagai pelaku usaha, mulai dari kuliner berbasis ikan hingga produk olahan lainnya,” terangnya.

Ia juga memaparkan konsep rumah makan yang mengusung menu khas seperti sangu akeul beuleum lauk, yang menjadi daya tarik utama bagi pengunjung. Selain itu, ia membagikan perjalanan bisnisnya yang tidak instan.

Perjalanan Bisnis dari Nol hingga Bangun Ekosistem

Lahir di Panumbangan, Mang Wahyu mengaku belajar bisnis secara otodidak. Ia memulai usaha sebagai pemasok bagi pedagang keliling, namun perubahan kondisi pasar, seperti peralihan bahan bakar dari minyak ke gas, sempat membuat usahanya terhenti.

“Dari situ, saya mulai mencari peluang lain, masuk ke pasar tradisional dengan produk olahan seperti nugget dan sosis, hingga akhirnya membangun merek sendiri dan mempromosikannya melalui radio lokal,” terangnya.

Perjalanan bisnisnya terus berkembang, mulai dari membangun brand Basreng Kataji, Pujaseri Pusat Jajanan Serba Ikan, hingga Makanan Milenial Makanan Olahan dari Ikan Ciamis (Mami Modis). Hingga akhirnya, ia menetap dan mengembangkan usaha di Kawali.

Lahirnya Kampung Nila, menurutnya, berawal dari upaya mencari alternatif dari rutinitas pasar. Ia mulai membudidayakan ikan sebagai sarana melepas penat, yang kemudian berkembang menjadi peluang usaha setelah melihat kebutuhan pasar serta potensi budidaya akibat perubahan kondisi Waduk Cirata.

Dampak Ekonomi dan Semangat Kolaborasi

Percobaan awal dilakukan dalam skala kecil dengan hasil yang cukup menjanjikan. Ia kemudian mengajak masyarakat sekitar untuk terlibat, membangun kepercayaan secara bertahap, termasuk menggandeng generasi muda dan membentuk kelompok usaha.

“Yang penting lakukan kebaikan, niatkan ingin bermanfaat untuk kampung halaman,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan Kampung Nila selama sekitar lima tahun ditopang oleh tiga faktor utama:

* Sumber daya manusia (SDM)

* Sumber daya alam (SDA)

* Ikatan sosial masyarakat yang kuat

Saat ini, kawasan tersebut telah menyerap sekitar 100 tenaga kerja dan memberikan dampak ekonomi bagi warga sekitar.

Dalam sesi diskusi, peserta juga menanyakan strategi membangun komunitas usaha. Mang Wahyu menekankan pentingnya pendekatan bertahap, termasuk melibatkan generasi muda dan menyediakan ruang diskusi untuk menyelesaikan berbagai persoalan.

“Ibarat kita membuka hutan. Ada tantangan, ada risiko; ular dan hewan buas lainnya. Kalau menyerah di tengah jalan, tidak akan pernah selesai,” katanya.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan dialog interaktif yang berlangsung santai. Menjelang petang, acara ditutup dengan makan bersama yang menyajikan hidangan khas Pawon Lembah Ereng, seperti nasi liwet, ikan nila bakar, mendoan, dan lalapan.

Setelah magrib, peserta masih melanjutkan obrolan ringan sebelum berpamitan menjelang waktu Isya. Program Kubis ini diharapkan terus menjadi ruang belajar aplikatif bagi anggota TDA Ciamis dalam mengembangkan usaha, sekaligus memperkuat jejaring dan semangat kolaborasi antar pelaku bisnis lokal.