Komut RANS Buka Suara soal Isu Pencucian Uang via IPO

PT RANS Entertainment Indonesia Tbk buka suara soal isu dugaan pencucian uang yang beredar di tengah proses pencatatan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Komisaris Utama RANS, Darwin Cyril Noerhadi, menegaskan seluruh tahapan penawaran umum perdana saham (IPO) telah memenuhi ketentuan yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI.
“Terkait masalah pencucian uang, jangan lupa bahwa proses IPO itu melalui ketentuan aturan yang harus dipenuhi oleh setiap emiten,” kata Darwin saat konferensi pers usai pelaksanaan IPO di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (10/7).
Menurutnya, selama proses IPO, emiten harus menjawab berbagai pertanyaan dan memenuhi persyaratan yang sangat rinci, termasuk melalui proses due diligence bersama penjamin emisi atau underwriter.
“Melalui proses underwrite ada tiga hal, pertama keterbukaan kaitan topik aspek hukum. Jadi semua transaksi itu harus dibuktikan dengan aspek hukum, dokumen notaris, dan seterusnya,” jelas Darwin.
Ia melanjutkan, keterbukaan dari sisi akuntansi juga mengharuskan perusahaan menunjukkan pembukuan dan laporan keuangan secara transparan. Lalu yang ketiga, keterbukaan informasi kepada regulator dan publik.
“Jadi kalau mungkin tadi masalah pencucian uang, itu mungkin lebih kepada rumor yang ada daripada faktanya yang ada,” tegas Darwin.
Darwin kembali mengingatkan pencatatan saham RANS di BEI menjadi momentum untuk menunjukkan kondisi perusahaan berdasarkan fakta dan proses yang telah memenuhi seluruh ketentuan yang berlaku dari OJK maupun BEI.
“Saya rasa IPO-nya RANS itu penting untuk menyampaikan apa yang terjadi di emiten ini secara fakta yang ada,” imbuh Darwin.
PT RANS Entertainment Indonesia Tbk resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) pada Jumat (10/7).
Saat pencatatan perdananya, saham RANS melesat 34,12 persen atau sebesar 58 poin dan bertengger pada level Rp 288 per saham, dengan sahamnya yang langsung melesat menyentuh auto rejection atas (ARA) pada hari pertama perdagangannya.
Perusahaan yang didirikan Raffi Ahmad itu melepas 2,525 miliar saham baru atau setara 20,02 persen dari total modal ditempatkan dan disetor penuh. Dengan harga penawaran sebesar Rp 170 per saham, perseroan berhasil menghimpun dana segar senilai sekitar Rp 429,25 miliar dari aksi korporasi tersebut.
