Kumparan Logo

Krisis Batu Bara di Pembangkit, India Lakukan Pemadaman Listrik Massal

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang pekerja mengoperasikan wheel loader untuk menurunkan tumpukan batu bara mentah ke dalam truk yang digali dari tambang terbuka di pinggiran Dhanbad, negara bagian Jharkhand, India, pada 13 Agustus 2025. Foto: Vishal kumar singh / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Seorang pekerja mengoperasikan wheel loader untuk menurunkan tumpukan batu bara mentah ke dalam truk yang digali dari tambang terbuka di pinggiran Dhanbad, negara bagian Jharkhand, India, pada 13 Agustus 2025. Foto: Vishal kumar singh / AFP

Pemerintah India melakukan pemadaman listrik massal yang berdampak pada pabrik-pabrik, fasilitas peleburan, hingga rumah tangga. Kenaikan biaya energi juga terjadi karena penurunan stok batu bara di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Dikutip dari Bloomberg, Selasa (13/10), musim hujan terlemah sejak 2015 membatasi produksi tenaga air, sementara cuaca yang lebih panas dari biasanya telah meningkatkan permintaan akan pendingin ruangan dan irigasi pertanian. Hal ini menyebabkan PLTU yang memasok sekitar dua pertiga listrik India, dengan cepat menghabiskan persediaan mereka.

Pabrik-pabrik kecil, petani, dan rumah tangga menghadapi pemadaman listrik karena permintaan melebihi pasokan di jaringan listrik. Sementara itu, pelanggan industri besar seperti peleburan logam, kimia, dan kertas tidak dapat memperoleh cukup bahan bakar untuk menghasilkan listrik sendiri.

Hal ini disebabkan perusahaan tambang milik negara, Coal India Ltd., memprioritaskan pengiriman ke generator yang terhubung ke jaringan listrik.

Contohnya, pabrik baja kecil di negara bagian Chhattisgarh bagian tengah menghadapi pemadaman listrik selama 10 hingga 12 jam sehari, yang memaksa pabrik-pabrik tersebut untuk mengurangi produksi.

Sekretaris jenderal Asosiasi Pabrik Baja Mini Chhattisgarh, Manish Dhuppad, mengatakan bahwa pabrik tersebut membutuhkan pasokan listrik yang tidak terputus.

"Misalnya, kita memiliki logam panas di dalam tungku dan tepat sebelum kita dapat mengeluarkannya, pasokan listrik terputus. Pada saat listrik kembali, material tersebut telah mengeras dan kita perlu melelehkannya lagi," jelasnya.

Kekurangan listrik ini menyoroti semakin besarnya peran cuaca ekstrem terhadap perekonomian India. Musim hujan yang lemah akibat El Niño memecahkan rekor baru, hal ini juga menunjukkan bagaimana ketergantungan negara tersebut yang berkelanjutan pada bahan bakar fosil membatasi kemampuannya untuk merespons perubahan iklim.

Pekerja menurunkan batu bara dari truk pasokan di halaman di pinggiran Ahmedabad, India. Foto: REUTERS/Amit Dave

Kementerian Energi India menuturkan pasokan bahan baku di hampir setengah dari PLTU di India telah turun hingga kurang dari seperempat dari tingkat yang dibutuhkan pada 10 Oktober.

Curah hujan monsun yang terlambat bulan lalu di wilayah pertambangan batu bara di bagian timur negara itu memperburuk kekurangan tersebut, menghambat produksi dan juga mengganggu transportasi bahan bakar melalui kereta api. Sementara di negara bagian Punjab di utara, rumah-rumah dan industri mengalami pemadaman listrik yang berkepanjangan.

Badish Jindal, yang mengelola pabrik kawat baja di Ludhiana, sebuah kota industri di negara bagian tersebut, mengatakan bahwa pemadaman listrik yang sering terjadi selama tiga hingga empat jam telah mengakibatkan biaya energi yang lebih tinggi, karena pabriknya perlu beralih ke generator cadangan yang mahal.

“Pemadaman listrik tidak terjadwal. Hal itu menyulitkan perencanaan operasional dan pengiriman kami serta memengaruhi kualitas produk. Penghentian dan penyalaan kembali mesin secara tiba-tiba saat pasokan listrik padam dan menyala kembali juga meningkatkan risiko kecelakaan," tuturnya.

Jaringan listrik di India menghadapi kekurangan rata-rata hampir 4 gigawatt (GW) per hari dalam 10 hari pertama Oktober, menurut data dari Pengontrol Jaringan Listrik India. Jumlah tersebut cukup untuk memasok listrik bagi sekitar 2 juta rumah tangga pedesaan di India, menurut perhitungan Bloomberg.

Sekretaris jenderal Asosiasi Produsen Listrik Mandiri India, Rajiv Agarwal, mengungkapkan kebijakan yang mengutamakan pembangkit listrik yang terhubung ke jaringan listrik telah membuat perusahaan yang menghasilkan listrik tenaga batu bara sendiri berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan.

"Mereka terpaksa membayar harga tinggi di lelang Coal India, dan membeli listrik mahal dari jaringan listrik. Perusahaan-perusahaan tersebut juga harus menunggu berbulan-bulan untuk transportasi kereta api, sehingga mereka yang memiliki modal operasional terbatas terpaksa mengurangi produksi," katanya.

Di sisi lain, premi rata-rata pada penjualan spot Coal India pada September melonjak menjadi 94 persen di atas harga dasar, dibandingkan dengan selisih 59 persen pada Agustus. Dua anak perusahaan perusahaan tersebut, Northern Coalfields dan South Eastern Coalfields, mengenakan premi lebih dari 200 persen pada lelang bulan lalu.

Bagi mereka yang mendapatkan listrik dari jaringan listrik umum, tagihan listrik telah meningkat di sebagian besar negara bagian India selama beberapa tahun terakhir. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kenaikan harga batu bara dan biaya peningkatan jaringan listrik nasional.

Ilustrasi PLTS di India. Foto: Shutterstock

Di Uttar Pradesh, provinsi terpadat di India, beberapa desa di distrik Shamli menghadapi pemadaman listrik hingga tujuh jam sehari, mendorong banyak penduduk untuk membeli sistem cadangan yang dapat menjalankan lampu dan kipas angin, menurut Devinder Singh, seorang petani gandum dan tebu setempat.

Perkembangan pesat energi surya di negara itu selama beberapa tahun terakhir berarti ada cukup daya baginya untuk mengairi ladangnya di siang hari, meskipun masalah muncul setelah matahari terbenam, katanya.

“Kami entah bagaimana bisa beradaptasi. Kekhawatiran terbesar saya adalah kenaikan biaya listrik," kata Singh.