Kunjungan Trump ke China: Bahas Perdagangan, Tarif, hingga AI
·waktu baca 5 menit

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tiba di Beijing untuk kunjungan kenegaraan pertama pemimpin AS ke China dalam sembilan tahun terakhir, di tengah upaya dua ekonomi terbesar dunia menstabilkan hubungan bilateral di tengah bayang-bayang perang Iran.
Pesawat Air Force One mendarat di Bandara Internasional Beijing Capital pada Rabu (13/5) malam sekitar pukul 20.00 waktu setempat. Kedatangan Trump disambut Wakil Presiden China Han Zheng, pasukan kehormatan militer, serta ratusan anak-anak yang mengibarkan bendera dalam seremoni penyambutan karpet merah.
Agenda utama dimulai Kamis (14/5) pagi ketika Trump dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping di Great Hall of the People.
Xi memasuki pertemuan ini dengan posisi yang dinilai lebih kuat setelah pertemuan keduanya di Korea Selatan tahun lalu. Saat itu, Beijing memanfaatkan cadangan logam tanah jarang untuk menekan Trump agar membatalkan ancaman tarif tambahan terhadap China. Sejak itu, Mahkamah Agung AS turut membatasi ruang Trump dalam memberlakukan tarif baru, sementara perang Iran ikut melemahkan posisi politik domestiknya.
Meski demikian, Trump dan pejabat pemerintahannya sebelumnya menegaskan tetap akan menggunakan pertemuan ini untuk menekan China terkait sejumlah isu sensitif, mulai dari peran Beijing dalam perang Timur Tengah hingga hambatan perdagangan terhadap perusahaan-perusahaan AS.
Dalam unggahan media sosialnya, Trump menyebut akan meminta Xi “membuka” China bagi perusahaan-perusahaan AS.
“Saya akan meminta Presiden Xi, seorang pemimpin yang luar biasa, untuk membuka China agar orang-orang brilian ini dapat menunjukkan kemampuan mereka dan membantu membawa Republik Rakyat China ke level yang lebih tinggi,” tulis Trump sambil menjelaskan para eksekutif perusahaan yang ikut dalam rombongannya, dikutip dari Bloomberg pada Jumat (15/5).
Trump juga berjanji isu tersebut akan menjadi permintaan pertamanya saat bertemu Xi. AS dan China disebut tengah mempertimbangkan kerangka kerja baru yang memungkinkan kedua negara mengidentifikasi sekitar USD 30 miliar produk yang tarifnya dapat dilonggarkan tanpa mengancam kepentingan keamanan nasional. Reuters melaporkan pembahasan tersebut mengutip empat sumber yang mengetahui tujuan pemerintahan Trump.
KTT selama 36 jam itu mencakup jamuan kenegaraan, kunjungan ke Temple of Heaven, serta pertemuan santai sambil minum teh di kompleks kepemimpinan Zhongnanhai. Agenda tersebut sempat tertunda selama beberapa pekan karena Trump masih berupaya mengakhiri konflik Iran.
Beberapa hari terakhir, Trump mengungkapkan frustrasinya terhadap proposal Iran terkait penghentian program nuklir sebagai bagian dari kesepakatan damai. Ia menilai Iran belum memberikan konsesi yang cukup besar dan gencatan senjata yang saat ini berlaku masih berisiko runtuh.
Sebelum berangkat ke China, Trump berusaha mengecilkan isu perang Iran dalam agenda pertemuan dan mengatakan akan lebih memprioritaskan negosiasi perdagangan dengan Xi.
Namun, China merupakan pembeli utama ekspor minyak Iran dan menjadi penyokong ekonomi penting bagi Teheran dalam menopang upaya perangnya. Beijing juga memiliki pengaruh geopolitik besar yang dinilai ingin dimanfaatkan Trump.
Perang Iran turut menambah ketegangan hubungan AS-China, terutama setelah pemerintahan Trump menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah perusahaan China karena membeli minyak Iran atau menyediakan citra satelit untuk Republik Islam tersebut.
Menurut pejabat AS, pendapatan Iran dari China serta potensi ekspor senjata menjadi salah satu topik pembahasan kedua pemimpin. Di sisi lain, Trump juga berupaya mengamankan berbagai kesepakatan bisnis di sektor pertanian, energi, dan kedirgantaraan, sekaligus menyusun rincian dewan perdagangan baru guna mengelola hubungan ekonomi dengan rival geopolitik utama AS tersebut.
Sebagai bagian dari agenda tersebut, Trump membawa delegasi bisnis yang terdiri dari sejumlah eksekutif perusahaan besar AS, termasuk CEO Tesla Elon Musk, CEO Apple Tim Cook, dan CEO Boeing Kelly Ortberg.
Dalam perkembangan yang cukup mengejutkan, CEO Nvidia Jensen Huang turut naik ke Air Force One sebagai tambahan mendadak dalam rombongan. Kehadirannya membuat isu kecerdasan buatan (AI) dan teknologi menjadi sorotan utama dalam kunjungan ini.
Turut berada di dalam Air Force One adalah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang sebelumnya dua kali dijatuhi sanksi oleh Beijing saat masih menjadi senator karena mengkritik kebijakan China di Xinjiang dan Hong Kong. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga ikut dalam rombongan.
Kunjungan terakhir Menteri Pertahanan AS ke China terjadi pada 2018 ketika James Mattis bertemu Xi di Beijing.
Trump dan Xi juga diperkirakan akan membahas perpanjangan gencatan dagang yang dicapai pada Oktober lalu, yang mencakup pengurangan tarif dan pelonggaran kontrol ekspor, termasuk pengiriman rare earth ke AS.
Menjelang kedatangan Trump, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng menggelar pembicaraan selama sekitar tiga jam di Korea Selatan guna mempersiapkan pertemuan tingkat pemimpin tersebut.
Rubio dalam wawancaranya dengan Fox News mengatakan hubungan dengan China merupakan “tantangan geopolitik terbesar” sekaligus “hubungan paling penting yang harus dikelola” oleh AS.
Isu Taiwan juga diperkirakan masuk dalam agenda pembahasan. Trump sebelumnya mengatakan akan membahas penjualan senjata AS ke Taiwan dengan Xi dan menunda paket bantuan senjata senilai USD 14 miliar untuk pulau tersebut menjelang kunjungannya ke China.
Sejumlah anggota parlemen dari Partai Demokrat maupun Republik memperingatkan bahwa penundaan tersebut berisiko melemahkan dukungan lama AS terhadap Taiwan. Selama puluhan tahun, AS juga biasanya tidak berkonsultasi terlebih dahulu dengan Beijing terkait penjualan senjata ke Taipei.
Meski demikian, Xi disebut memiliki perhatian pribadi terhadap isu tersebut dan dalam percakapan telepon Februari lalu meminta Trump menangani masalah Taiwan dengan “sangat hati-hati”.
Trump juga berjanji akan mengangkat kasus Jimmy Lai, mantan pemilik media Hong Kong yang dijatuhi hukuman 20 tahun penjara atas tuduhan kolusi dan hasutan. Trump sebelumnya juga telah membahas kasus Lai dengan Xi saat keduanya bertemu di Korea Selatan pada Oktober lalu.
Kunjungan Trump ke China mendapat perhatian besar di media sosial China. Topik tersebut menjadi tren dalam beberapa hari terakhir. Sejumlah pengguna internet membagikan pelacakan Air Force One melalui situs pemantau penerbangan, sementara lainnya ramai membahas anggota delegasi bisnis AS, termasuk kehadiran mendadak Jensen Huang dalam rombongan Trump.
