Kumparan Logo

Lika-liku Para Pencari Kerja: Ngaku Sering Di-ghosting hingga Tak Cocok Gajinya

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 7 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah pencari kerja antre masuk saat Mega Career Expo di Gedung Smesco, Jakarta, Kamis (17/4/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah pencari kerja antre masuk saat Mega Career Expo di Gedung Smesco, Jakarta, Kamis (17/4/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Mendapatkan kerja sesuai yang diinginkan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Berbagai cerita mulai dari di-ghosting saat proses rekrutmen berlangsung sampai masih adanya gaji di bawah standar upah daerah.

Fathur (23) yang merupakan lulusan Teknik Informatika salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Jakarta Timur tahun 2026 mengaku sudah mengirim lebih dari 100 lamaran melalui portal pencarian kerja daring. Dari situ, ia kerap mengalami masalah yang sama yaitu kerap tak diberi kabar saat proses rekrutmen masih berlangsung.

Alih-alih ghosting terjadi saat proses awal rekrutmen atau aplikasi, Fathur justru merasakannya ketika proses rekrutmen menunjukan ia lolos ke tahapan berikutnya.

“Misalnya, gue udah masuk ke tahap interview di HR, eh ujung-ujungnya malah di-ghosting. Terus ada juga yang nolak mentah-mentah, padahal kalau dilihat, kebutuhan perusahaan sama skill gue tuh sebenernya relevan. Tapi ya gitu, tiba-tiba ditolak aja. Yang paling sering ya itu tadi, di-ghosting pas udah masuk tahap interview, nggak ada kabar lagi setelahnya,” kata Fathur kepada kumparan, Selasa (4/9).

Selain ghosting, Fathur juga kerap bingung dengan kriteria perusahaan yang kerap memasang syarat pengalaman 1 sampai 2 tahun kerja untuk para lulusan baru. Hal itu menurutnya tak masuk akal dan menjadi sebab job mismatch yang ia rasakan.

“Terus ada juga posisi buat entry level, tapi syarat pengalamannya minimal 2 tahun. Kan nggak nyambung ya. Pengalaman setinggi langit tapi posisinya buat entry level, menurut gue sih agak kocak ya,” ujar Fathur.

Persoalan tak hanya sampai situ, Fathur juga membagikan pengalaman bahwa job mismatch juga terkadang terjadi berkaitan dengan tidak sesuainya gaji dengan standar upah daerahnya. Di tambah, jarak antara rumah dengan kantor cukup jauh sehingga ada perhitungan bahwa gaji yang diberikan tak cukup untuk menutup kebutuhan transportasinya.

Dari pengalamannya tersebut, Fathur tak jarang menolak pekerjaan dari proses rekrutmen yang sudah menerimanya.

Pencari kerja antre saat mencari informasi lowongan pekerjaan pada kegiatan Job Fair Kendal 2026 di Kendal Sport Center, Kendal, Jawa Tengah, Rabu (22/7/2026). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

“Alasannya, sebenarnya jobdesc-nya sudah sesuai banget sama background gue. Tapi masalahnya ada di jarak kantor yang jauh banget. Terus apa yang dikasih (gaji) tuh nggak sesuai, nggak bisa nutupin biaya operasional gue kalau harus ke kantor. Fee-nya malah tergolong kecil buat gue,” kata Fathur.

Terkait keselarasan kecakapan dan kriteria perusahaan, Fathur melihat ebenarnya pendidikan yang ia emban dari perguruan tinggi sudah cukup. Namun terkadang industri memiliki kriteria yang cukup tinggi, sehingga ada ketidakselarasan kemampuan organik sesuai pendidikan di kampus dengan industri.

Untuk itu, ia tak jarang juga masih mengikuti kursus atau kelas-kelas peningkatan kecakapan secara mandiri.

“Tapi kalau buat terjun ke industri, menurut gue belum cukup banget. Industri ini kan berkembangnya cepet banget, sedangkan apa yang dipelajari di kampus kadang belum sepenuhnya ngikutin tools, workflow, atau standar yang digunakan perusahaan sekarang. Jadi job seeker itu emang tetap harus belajar mandiri, ikut pelatihan-pelatihan,” ceritanya.

Tak jauh beda, Salsa (23) yang merupakan lulusan Penerbitan Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) juga punya pengalaman serupa. Mulai dari ghosting saat proses rekrutmen sampai tawaran gaji yang tak sesuai.

Memang, Salsa bukan pertama kali bekerja karena sebelumnya sudah memiliki pengalaman kerja di beberapa perusahaan. Namun, ketika mencari pekerjaan lain atau beralih pekerjaan, ia kerap di-ghosting oleh rekrutmen.

Hal itu membuatnya kerap kali kesal dengan proses rekrutmen. Apalagi untuk proses rekrutmen yang mencantumkan pengerjaan tugas dalam prosesnya, Salsa melihatnya sebagai salah satu bentuk pencurian ide.

“Kadang kesel ya kalau misalkan nggak ada follow up lagi gitu. Karena kayak merasa ide kita tuh dicuri aja. Kan seenggaknya kalau misalkan kita udah ngerjain tugas, ada interview dulu lah, atau seenggaknya dikonfirmasi hasilnya kayak gimana. Nah, ini tuh kadang kita udah ngerjain, udah ngumpulin, tapi kayak nggak ada follow up. Itu yang bikin kesel sih,” cerita Salsa.

Sama seperti job mismatch yang dialami Fathur sebelumnya, Salsa juga bukan tak pernah menolak pekerjaan yang menerimanya. Hal itu terjadi karena tawaran gaji yang tak sesuai bahwa berada di bawah standar daerahnya.

Untuk itu, ia memang menerapkan cara filterisasi mandiri terhadap pekerjaan-pekerjaan yang menerimanya, utamanya terkait jarak sampai besaran gaji.

“Karena kalau untuk jarak itu sebenernya nggak terlalu gue filter selama masih bisa pakai kendaraan sendiri, itu masih gue terima. Cuma kadang kalau gajinya di bawah UMR, atau misalkan setengah gaji kita habis cuma buat biaya perjalanan, itu yang bikin mikir. Kita kerja kan pasti capek, apalagi kalau kerjanya full time dan harus ke kantor tiap hari. Kalau kita keluarin uang akomodasi dan ternyata habis setengah gaji, itu kayak ngerasa ‘buat apa kita kerja?’ gitu,” kata Salsa.

Selain Fathur dan Salsa, Putri (bukan nama sebenarnya) (24) yang merupakan lulusan Akuntansi Universitas Padjajaran 2025 juga menceritakan pengalaman serupa. Kali ini memang bukan pengalaman Putri bekerja dan justru menjadi momennya untuk beralih pekerjaan.

Dalam tiga bulan belakangan, dari ratusan lamaran yang ia kirim, ghosting dalam proses rekrutmen memang kerap terjadi. Ia bercerita hal itu membuatnya menjadi bingung. Bahkan, ia pernah berhasil melewati tahapan akhir rekrutmen namun kejelasan informasi penerimaan tak kunjung diterima.

“Tapi yang bikin gue kesel, gue udah ngelewatin tahap psikotes, interview HR, interview user, bahkan sampai interview BOD (Direksi), tapi HR-nya tetep nggak kasih kabar apakah gue lolos atau nggak. Padahal itu sudah tahap akhir banget, lho. Gue sempet follow up beberapa perusahaan yang gue minat banget, tapi tetep nggak ada jawaban. Itu yang bikin bingung karena nggak ada feedback sama sekali,” ujarnya.

Padahal, selama ini ia sudah menyesuaikan lamaran yang dikirim dengan kriteria yang ditetapkan perusahaan. Maka dari itu, ghosting saat proses rekrutmen menurutnya adalah suatu hal yang aneh.

Kendala Rekrutmen dari Sisi Pelaku Usaha

Pencari kerja mencari informasi lowongan pekerjaan pada kegiatan Job Fair Kendal 2026 di Kendal Sport Center, Kendal, Jawa Tengah, Rabu (22/7/2026). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

Selain suara dari para pencari kerja, job mismatch juga menjadi hal yang turut dirasakan para pelaku usaha. Wakil ketua umum Kadin Indonesia bidang Ketenagakerjaan, Subchan Gatot, menjelaskan salah satu sebabnya berkaitan dengan adanya jarak antara kompetensi para pencari kerja dengan kebutuhan industri.

“Tantangan utamanya adalah kesenjangan antara kompetensi pelamar dan kebutuhan pekerjaan. Kandidat cukup banyak, tetapi yang siap bekerja dan sesuai kebutuhan industri masih terbatas,” kata Subchan.

Subchan menjelaskan saat ini perusahaan biasanya tak hanya mencari kemampuan teknis dan digital dari para pelamar. Menurutnya, perusahaan juga mematok standar kemampuan pemecahan masalah, komunikasi, kerja sama, disiplin, serta kemauan belajar dan beradaptasi. Hal inilah yang menurutnya masih susah ditemukan oleh perusahaan.

Gaji yang kadang menjadi salah satu penyebab job mismatch karena para pelamar menginginkan gaji yang sesuai atau bahkan lebih tinggi. Ia menjelaskan perusahaan biasanya menyesuaikan gaji dengan kecakapan para pelamar. Selain itu, upah minimum suatu daerah juga dipastikan menjadi hal yang diperhatikan oleh perusahaan.

Meski demikian, ia tak pungkiri memang masih ada jarak antara gaji yang ditawarkan perusahaan dengan permintaan pelamar utamanya pada posisi-posisi pemula.

“Secara umum, perusahaan menyesuaikan gaji dengan kemampuan usaha, produktivitas, pengalaman, dan ketentuan upah minimum. Namun, memang masih ada perbedaan antara ekspektasi kandidat dan kemampuan perusahaan, terutama pada posisi pemula,” ujarnya.

Untuk mengatasi job mismatch, Subchan menilai perusahaan memang perlu menyederhanakan proses seleksi dan lebih menilai potensi, bukan hanya pengalaman. Selain itu, ia juga melihat persyaratan bagi lulusan baru seharusnya tidak berlebihan, namun para pelamar harus tetap bisa menunjukan kompetensi tambahan melalui portofolio atau sertifikasi yang dimiliki.

Di samping itu, karena masih ada jarak antara pendidikan dan relevansinya ke dunia industri, ia juga melihat perlu ada penyelarasan kurikulum. Hal ini agar pendidikan ke depan lebih sesuai dengan industri yang ada.

“Kurikulum dan pelatihan perlu lebih dekat dengan kebutuhan industri. Kolaborasi melalui magang berkualitas, pendidikan vokasi, sertifikasi kompetensi, dan pelatihan ulang harus diperkuat. Pemerintah juga perlu menyediakan informasi pasar kerja yang lebih akurat agar pendidikan, pencari kerja, dan perusahaan dapat saling terhubung,” tutur Subchan.