LVMH Tergeser dari 10 Perusahaan Terbesar Eropa Imbas Demand Barang Mewah Turun

Moet Hennessy Louis Vuitton SE (LVMH) perusahaan asal Perancis yang menaungi sejumlah merek mewah dunia seperti Louis Vuitton, Dior, dan Bulgari, tergeser dari jajaran 10 perusahaan dengan pasar terbesar di Eropa. Posisi tersebut terlepas di tengah tekanan industri barang mewah akibat melemahnya permintaan konsumen, terutama di China.
Dikutip dari Bloomberg, Rabu (16/9), perubahan posisi tersebut terjadi setelah saham LVMH turun 2,6 persen pada perdagangan Selasa (15/9). Kapitalisasi pasar perusahaan turun menjadi sekitar 201 miliar euro atau sekitar USD 232 miliar.
Karena itu, posisi LVMH tergeser di bawah perusahaan L'Oréal dan Siemens AG. Sekumpulan saham barang mewah di Eropa juga tercatat mengalami penurunan 1,6 persen. Pergerakan ini membuat LVMH keluar dari posisi 10 besar saham Eropa untuk pertama kalinya sejak 2017.
Kondisi ini menjadi tekanan bagi LVMH yang sebelumnya sempat menjadi salah satu perusahaan dengan nilai pasar terbesar di Eropa. Pada 2023, harga saham LVMH bahkan sempat menembus 900 euro per lembar.
Chief Investment Strategist ING di Brussels, Vincent Juvyns, menilai penurunan LVMH menunjukkan bahwa sektor barang mewah yang selama ini menjadi salah satu motor pertumbuhan Eropa sedang mengalami masalah.
“Bagi mereka yang mengatakan bahwa Eropa telah kembali, itu keliru. Eropa belum kembali. Apa yang ditunjukkan LVMH adalah bahwa mesin pertumbuhan utamanya, yakni industri barang mewah, sedang mengalami masalah,” ujarnya.
Saham perusahaan tercatat telah mengalami penurunan sebesar 37 persen sepanjang 2026. Selain itu, kinerja saham LVMH juga terus menghadapi tekanan seiring melemahnya permintaan barang-barang mewah, terutama di China yang merupakan salah satu pasar penting bagi industri tersebut. Kondisi geopolitik di Timur Tengah juga turut menekan belanja konsumen di sejumlah pusat perbelanjaan utama.
Tekanan terhadap LVMH juga datang dari merek Louis Vuitton, salah satu kontributor utama bisnis grup tersebut. Merek ini menghadapi reaksi konsumen di China terkait sengketa merek dagang dengan perusahaan teh lokal, menambah tantangan bagi LVMH di pasar tersebut.
Sejumlah pialang juga telah memangkas target harga saham LVMH di tengah prospek industri barang mewah yang masih menghadapi tekanan.
Di sisi lain, saham perusahaan kosmetik L'Oréal mencatat kenaikan sekitar 4 persen sepanjang tahun ini, didukung kinerja laba yang kuat.
Penurunan nilai LVMH juga berdampak pada kekayaan CEO perusahaan tersebut, Bernard Arnault. Berdasarkan Bloomberg Billionaires Index, Arnault pada pekan lalu keluar dari daftar 10 orang terkaya di dunia, setelah nilai kepemilikannya di LVMH ikut tergerus oleh penurunan harga saham perusahaan.
