Kumparan Logo

Malaysia Kantongi Jaminan Minyak dan Gas dari Rusia untuk 20 Tahun

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Rusia Vladimir Putin berjabat tangan dengan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim selama upacara penyambutan resmi untuk kepala delegasi yang berpartisipasi dalam KTT Rusia-ASEAN di Kazan, Rusia, Rabu (17/6/2026). Foto: Anastasia Barashkova/ REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Rusia Vladimir Putin berjabat tangan dengan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim selama upacara penyambutan resmi untuk kepala delegasi yang berpartisipasi dalam KTT Rusia-ASEAN di Kazan, Rusia, Rabu (17/6/2026). Foto: Anastasia Barashkova/ REUTERS

Perdana Menteri (PM) Malaysia, Anwar Ibrahim, mengungkap Rusia telah memberikan jaminan pasokan minyak, gas, dan diesel untuk Malaysia setidaknya selama 20 tahun ke depan.

Pernyataan itu disampaikan Anwar pada Sabtu (20/6) setelah kembali dari kunjungan kerja ke Rusia dan Turkmenistan.

“Presiden Vladimir Putin memberikan jaminan melalui pengaturan jangka panjang bahwa pasokan minyak, gas, dan diesel Malaysia akan tetap aman setidaknya selama 20 tahun ke depan,” kata Anwar saat menghadiri seremoni peletakan batu pertama Setia Fontaines Industrial Park di Penang, seperti dikutip dari CNA, Minggu (21/6).

“Hal ini dimungkinkan melalui persahabatan antara negara kita,” lanjutnya.

Anwar sebelumnya menghadiri KTT Peringatan ASEAN-Rusia yang berlangsung di Kazan, Rusia, pada 17-18 Juni 2026 bersama para pemimpin negara Asia Tenggara lainnya.

Di sela-sela pertemuan tersebut, Anwar bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membahas keamanan energi, kerja sama pasokan minyak, teknologi baru, dan sejumlah isu lainnya.

Minat negara-negara Asia Tenggara terhadap energi Rusia meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari, yang mengganggu pasokan minyak dan gas Asia melalui Selat Hormuz.

Meski AS dan Iran telah menandatangani kesepakatan damai sementara pada 17 Juni, sejumlah negara di kawasan tetap berupaya mengamankan sumber energi alternatif.

video story embed

Filipina, Malaysia, Indonesia, Vietnam, dan Myanmar termasuk negara yang menunjukkan ketertarikan untuk membeli minyak dan gas Rusia guna mengatasi potensi kekurangan pasokan energi.

Langkah tersebut dilakukan meskipun berpotensi memicu ketegangan dengan sekutu Barat seperti AS dan negara-negara Eropa yang mendukung Ukraina dalam perang melawan Rusia.

Namun Malaysia tak termasuk dalam kelompok negara yang menerapkan sanksi Barat terhadap Rusia pasca invasi ke Ukraina pada 2022. Kuala Lumpur selama ini mempertahankan kebijakan yang disebut sebagai netralitas strategis.

Selain membahas kerja sama dengan Rusia, Anwar juga menyoroti kesepakatan energi baru yang ditandatangani Malaysia dengan Turkmenistan selama kunjungannya pada 18-19 Juni.

Perusahaan energi Malaysia, Petronas, bakal terlibat dalam pengembangan dua blok gas besar di negara Asia Tengah tersebut. Menurut Anwar, kerja sama itu akan semakin memperkuat posisi Malaysia sebagai pemain energi yang disegani di tingkat global.

Petronas lewat anak usahanya, Petronas Carigali (Turkmenistan) Sdn Bhd, menandatangani perjanjian bagi hasil untuk pengembangan blok lepas pantai 19 dan 20 di Laut Kaspia.

Kesepakatan diteken bersama perusahaan minyak negara Turkmenistan, Turkmennebit, dan perusahaan negara Hazarnebit.

Selain itu, Petronas juga menandatangani kerja sama studi seismik 2D untuk wilayah Northern Offshore Blocks. Penandatanganan perjanjian tersebut disaksikan langsung oleh Anwar dan Presiden Turkmenistan Serdar Berdimuhamedov.

Petronas sendiri telah beroperasi di Turkmenistan selama sekitar 30 tahun dan mengembangkan Blok 1 di sektor Laut Kaspia milik Turkmenistan sejak 1996 melalui skema perjanjian bagi hasil.

Anwar mengatakan kesepakatan terbaru itu merupakan hasil hubungan baik dan negosiasi yang telah berlangsung sejak Berdimuhamedov melakukan kunjungan resmi ke Malaysia pada Desember 2024.

Menurutnya, kerja sama tersebut akan membantu menjamin kebutuhan energi Malaysia selama beberapa dekade ke depan.

“Kami juga dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan ekspor ke negara-negara mitra, khususnya China, Jepang, dan Korea Selatan yang memiliki kebutuhan energi tinggi,” imbuh Anwar.