Konten dari Pengguna

Membaca Risiko Inflasi dari Titik Api

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ircham Andrianto Taufick tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dampak perubahan iklim terhadap harga. Foto generated by AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dampak perubahan iklim terhadap harga. Foto generated by AI

Inflasi tidak selalu bermula dari harga di pasar. Kadang-kadang ia bermula dari langit yang terlalu lama tanpa hujan, tanah yang kehilangan air, lalu titik-titik api yang bertambah di peta. Indonesia memasuki September dengan inflasi Agustus 2026 sebesar 3,19 persen secara tahunan, masih berada dalam sasaran inflasi nasional. Inflasi inti juga relatif terjaga di 2,92 persen. Namun, di balik angka yang masih terkendali itu terdapat tekanan pada kelompok pangan bergejolak, seperti daging ayam ras, cabai rawit, dan beras.

Pada saat hampir bersamaan, sinyal lain datang dari dinamika iklim. BMKG mencatat anomali suhu muka laut di kawasan Niño 3.4 pada akhir Agustus masih berada pada +2,74 derajat Celsius. Indeks ENSO rata-rata Juni-Agustus mencapai 2,2, yang dikategorikan sebagai El Nino sangat kuat. Peringatan dini kekeringan meteorologis juga masih menjangkau sejumlah wilayah Sumatera, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Sulawesi.

Di daratan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sekitar 48.890 hektare lahan telah terbakar di enam provinsi prioritas hingga 9 Agustus. Pemerintah memperkirakan risiko kebakaran hutan dan lahan mencapai puncaknya pada Agustus-September.

Tiga data tersebut—harga, kekeringan, dan kebakaran— biasanya dibaca dalam ruang kebijakan yang berbeda. Padahal, dalam kondisi cuaca ekstrem, ketiganya dapat membentuk satu rangkaian. Titik api sebaiknya tidak hanya dibaca sebagai indikator bencana lingkungan, tetapi juga sebagai salah satu sinyal dini tekanan harga. Yang dibutuhkan saat ini adalah kemampuan membaca indikator yang berada di ruang kebijakan berbeda sebagai satu rangkaian risiko.

Kenaikan Harga yang Datang Belakangan

Saluran pertama relatif mudah dipahami. El Niño mengurangi curah hujan, mempersempit ketersediaan air, mengganggu kalender tanam, dan pada kondisi tertentu menekan produksi pangan. Ketika produksi berkurang sementara permintaan tidak berubah banyak, harga mempunyai alasan untuk bergerak naik.

Namun, kekeringan tidak hanya berdampak di satu sektor. Karhutla dapat menjadi pengganda gangguan. Kebakaran dapat merusak kawasan produksi, sementara asap dapat menghambat mobilitas manusia dan barang. Pada Agustus lalu, dampaknya sudah terlihat. Asap karhutla di Kalimantan membuat sejumlah penerbangan di Bandara Singkawang dibatalkan. Bagi ratusan penumpang yang terdampak, karhutla telah menjadi gangguan nyata terhadap mobilitas.

Dalam rantai pangan, logikanya serupa. Bila sentra produksi mengalami kekeringan, sementara distribusi dari atau menuju wilayah tersebut ikut terganggu, pedagang dapat mencari barang dari lokasi yang lebih jauh. Waktu pengiriman bertambah, risiko kerusakan meningkat, dan biaya logistik dapat membesar.

Konsumen mungkin belum merasakannya hari ini karena distributor atau pedagang masih mempunyai stok atau menahan margin. Tekanan harga dapat terlihat beberapa pekan kemudian. Dalam situasi seperti itu, IHK dapat menjadi indikator yang datang belakangan. Sebelum harga berubah, tekanan mungkin lebih dahulu terlihat pada curah hujan yang menyusut, titik api yang bertambah, stok yang menipis, atau distribusi yang mulai terganggu.

Pengalaman masa lalu menunjukkan besarnya konsekuensi ekonomi yang muncul ketika kebakaran tidak terkendali. Bank Dunia memperkirakan kebakaran 2015 menimbulkan kerugian sedikitnya US$16,1 miliar atau 1,9 persen PDB, dengan dampak pada pertanian, perdagangan, pariwisata, hingga transportasi. Tentu, 2026 bukan 2015. Membawa angka tersebut secara langsung ke kondisi sekarang justru akan berlebihan. Ia lebih tepat dibaca sebagai pengingat bahwa kebakaran memiliki jalur transmisi ekonomi yang lebih panjang daripada luas hektare yang terbakar. Alarm inflasi tidak selalu pertama kali berbunyi melalui harga, kadang peringatannya datang dari langit, tanah, dan titik api.

Dari Pemadam Inflasi Menjadi Sistem Peringatan Dini

Ada alasan untuk tidak terlalu cemas. Badan Pangan Nasional menyebut Cadangan Beras Pemerintah telah berada di atas 5 juta ton pada akhir Agustus. Stok tersebut memberikan bantalan penting menghadapi risiko El Niño. Kondisi cuaca ekstrem tidak berarti Indonesia pasti menghadapi krisis pangan atau lonjakan inflasi. Cadangan pangan, perdagangan antardaerah, diversifikasi sentra produksi, serta respons pemerintah dapat memutus rantai transmisinya.

Namun, bantalan besar pada beras juga tidak otomatis menyelesaikan semua persoalan. Cabai, bawang, sayuran, telur, dan berbagai pangan segar memiliki karakter penyimpanan dan rantai pasok berbeda. Masalahnya bukan hanya jumlah stok nasional, melainkan juga apakah barang tersedia di tempat dan pada waktu ketika masyarakat membutuhkannya.

Di sinilah kebijakan pengendalian inflasi perlu bergerak lebih ke hulu. Bank Indonesia pada Agustus mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen, dengan orientasi menjaga inflasi dalam sasaran dan memperkuat stabilitas rupiah. BI juga memperkuat sinergi dengan pemerintah melalui TPIP dan TPID untuk mengendalikan inflasi pangan, termasuk mengantisipasi risiko gangguan El Niño.

Karakter guncangan kali ini mengingatkan kita terhadap batasan kebijakan moneter: suku bunga tidak dapat membuat hujan turun atau memadamkan hutan. Peran kebijakan moneter adalah menjaga ekspektasi agar kenaikan sementara pangan tidak menyebar menjadi kenaikan harga yang lebih luas, sekaligus menjaga rupiah agar gangguan pasokan domestik tidak diperberat oleh tekanan harga dari luar negeri.

Sementara itu, garis pertahanan pertama terhadap guncangan akibat cuaca berada pada produksi, stok, distribusi, irigasi, serta koordinasi antardaerah. TPIP dan TPID perlu semakin berfungsi seperti sistem peringatan dini ekonomi, bukan menjadi pemadam setelah inflasi muncul. Data curah hujan, kekeringan meteorologis, titik panas, luas kebakaran, kalender tanam, stok komoditas, gangguan transportasi, dan disparitas harga antardaerah perlu dibaca sebagai satu rangkaian.

Bayangkan sebuah sentra pangan memasuki kekeringan panjang ketika pada saat yang sama kebakaran atau kabut asap mulai mengganggu akses transportasi di wilayah sekitarnya. Bagi pengendalian inflasi, kombinasi seperti itu sudah menjadi sinyal untuk bertindak. Pasokan dapat dialihkan, distribusi diperkuat, irigasi dioptimalkan, stok dilepas secara terukur, dan kerja sama antardaerah dipercepat sebelum gangguan pasokan diterjemahkan pasar menjadi harga yang lebih mahal.

Inflasi Agustus masih terkendali. Itu kabar baik. Namun kebijakan yang baik tidak hanya membaca angka yang sudah terjadi tapi juga mampu membaca tanda yang mendahuluinya. Jika kita sudah mengetahui di mana hujan berhenti, tanah mulai mengering, dan bertambahnya titik api, mengapa inflasi baru dianggap perlu diantisipasi setelah harga berubah di pasar?