Mengapa Kita Sering Membeli Barang yang Tidak Pernah Kita Cari?
Tulisan dari Farhan Jiratullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah membuka TikTok hanya untuk mencari hiburan selama lima menit, tetapi tiba-tiba berakhir dengan notifikasi “Pesanan Anda Berhasil Dibuat”? Jika pernah mengalaminya, Anda tidak sendirian.
Banyak orang kini membeli produk yang sebelumnya tidak pernah ada dalam daftar belanja mereka. Fenomena ini semakin sering terjadi sejak media sosial tidak lagi hanya menjadi tempat mencari hiburan, tetapi juga menjadi tempat menemukan produk dan melakukan transaksi dalam satu platform.
Dari Mencari Produk Menjadi Menemukan Produk
Dulu, pola belanja online relatif sederhana. Ketika seseorang membutuhkan sepatu, ia membuka marketplace seperti Shopee atau Tokopedia, mengetik kata kunci, membandingkan harga, membaca ulasan, lalu memutuskan apakah produk tersebut layak dibeli. Proses ini disebut search-based shopping, yaitu konsumen mencari produk sesuai kebutuhannya.
Kini polanya mulai berubah. Banyak orang justru menemukan produk ketika sedang menikmati konten di media sosial. Tanpa memiliki niat membeli, mereka melihat video seorang kreator menggunakan suatu produk, menonton siaran langsung penjual, atau membaca komentar positif dari pengguna lain. Dalam hitungan menit, rasa penasaran berubah menjadi keinginan memiliki, lalu berakhir pada tombol checkout.
Penelitian Herzallah, Liébana, dan Leiva (2025) menjelaskan bahwa perkembangan social commerce telah mengubah pola belanja konsumen dari yang sebelumnya berbasis pencarian (search-based) menjadi berbasis penemuan (discovery-based). Dengan kata lain, kini produk tidak lagi menunggu untuk dicari, tetapi justru “menemukan” calon pembelinya.
Algoritma, FOMO, dan Keputusan Belanja
Perubahan ini bukan terjadi tanpa alasan. Media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Semakin lama seseorang menggulir layar (scroll), semakin banyak konten yang ditampilkan sesuai minatnya. Di sela-sela konten hiburan tersebut, algoritma menyisipkan video promosi, ulasan produk, hingga siaran langsung penjual yang tampak alami.
Akibatnya, batas antara mencari hiburan dan berbelanja menjadi semakin tipis.
Selain algoritma, interaksi sosial juga memiliki peran besar dalam memengaruhi keputusan pembelian. Ketika ribuan pengguna memberikan komentar positif atau seorang kreator menunjukkan pengalaman menggunakan suatu produk, konsumen cenderung merasa produk tersebut memang layak dibeli.
Wang dan Shahzad (2024) menemukan bahwa faktor sosial seperti kepercayaan, rekomendasi, dan interaksi antar pengguna memiliki pengaruh yang signifikan terhadap niat membeli dalam social commerce.
Tidak berhenti di situ, berbagai strategi pemasaran juga memanfaatkan kondisi psikologis yang dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO). Promo dengan batas waktu tertentu, stok yang hampir habis, hingga hitung mundur saat live shopping menciptakan rasa takut kehilangan kesempatan. Akibatnya, konsumen sering mengambil keputusan lebih cepat daripada biasanya, bahkan sebelum sempat membandingkan harga atau benar-benar mempertimbangkan apakah produk tersebut dibutuhkan.
Apa Dampaknya bagi Pelaku Bisnis?
Bagi pelaku usaha, perubahan perilaku ini menjadi tantangan sekaligus peluang. Produk yang berkualitas saja tidak selalu cukup apabila sulit ditemukan oleh calon pembeli. Sebaliknya, produk yang mampu menarik perhatian melalui konten kreatif memiliki peluang lebih besar untuk dikenal masyarakat.
Karena itu, banyak pelaku bisnis kini memanfaatkan media sosial untuk membangun ketertarikan konsumen, lalu mengarahkan mereka ke marketplace sebagai tempat bertransaksi. Strategi ini membuat social commerce berperan sebagai mesin penarik perhatian, sementara e-commerce menjadi tempat transaksi yang lebih aman dan terstruktur.
Marketplace seperti Shopee dan Tokopedia tetap memiliki keunggulan dalam hal sistem pembayaran, pengiriman, serta ulasan pelanggan yang membantu membangun kepercayaan jangka panjang.
Bukan Sekadar Belanja, tetapi Perubahan Cara Kita Mengambil Keputusan
Pada akhirnya, alasan kita sering membeli barang yang tidak pernah dicari bukan semata-mata karena sifat konsumtif. Perubahan teknologi, algoritma media sosial, serta cara platform digital menyajikan informasi telah mengubah proses pengambilan keputusan saat berbelanja.
Di era social commerce, perhatian menjadi komoditas yang sangat berharga. Ketika perhatian berhasil direbut, keputusan membeli sering kali datang jauh lebih cepat daripada yang kita sadari.

