Kumparan Logo

Mengenal ‘Garam Les’, Warisan Budaya Bali Utara yang Masih Diproduksi

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Produksi Garam Les di Desa Les, Buleleng, Bali, Jumat (5/6/2026). Foto: Argya Maheswara/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Produksi Garam Les di Desa Les, Buleleng, Bali, Jumat (5/6/2026). Foto: Argya Maheswara/kumparan

Bali bagian utara nyatanya masih menyimpan salah satu warisan menarik yaitu teknik membuat garam yang khas. Teknik membuat garam khas ini dapat ditemui di Desa Les di Buleleng, Bali. Produknya dikenal sebagai Garam Les.

Penggerak atau Local Champion Desa Sejahtera Astra Desa Les, Bali yakni Nyoman Nadiana, bercerita metode pembuatan Garam Les kuat diduga memiliki pengaruh kuat dari China. Hal ini karena posisi Desa Les yang juga berada di sisi utara Bali atau dekat dengan jalur perdagangan.

“Jadi ini memang jalur perdagangan, kuat diduga China memang berakulturasi dengan kita, makannya setiap upacara pakai uang keping China termasuk kuat diduga ngasih tau teknik pembuatan garam ini,” kata sosok yang akrab disapa sebagai Don Dare tersebut di Desa Les, Buleleng, Bali, Jumat (6/6).

Adapun, kini ia juga masih memiliki tambak atau ladang Garam Les yang diwariskan dari leluhurnya. Ia bercerita bahwa dulunya sepanjang pantai Desa Les juga merupakan ladang Garam Les. Namun, kini jumlahnya terus berkurang karena beberapa alasan.

“Akhirnya sekarang cuma ada 15 ladang garam. Satu, karena abrasi. Dua, karena memang gak ada generasi, siapa mau bertani kayak gini? Panas dan lain sebagainya. Tiga, karena pariwisata. Mending bangun vila, bangun kolam di tepi pantai,”

Namun, kini Don menjadikan ladang Garam Les miliknya tersebut sebagai salah satu bagian dari wisata Desa Sejahtera Astra Desa Les.

Teknik Khas untuk Garam Les

Produksi Garam Les di Desa Les, Buleleng, Bali, Jumat (5/6/2026). Foto: Argya Maheswara/kumparan

Terkait bedanya dengan garam biasa, Don menjelaskan Garam Les bukan hanya dibuat dari proses evaporasi air laut yang dikumpulkan hingga mengkristal. Sedikit lebih panjang, pembuatan Garam Les melibatkan media tanah bergaram.

Dalam hal ini para petani garam menyiram terlebih dahulu hamparan tanah pesisir yang sudah dibentuk atau dicetak persegi dengan air laut secara berulang-ulang. Setelah itu, air laut yang tercampur dan tertampung bersama hamparan tanah pesisir tersebut disaring. Barulah setelah proses penyaringan, proses evaporasi garam dilakukan dengan mengandalkan sinar matahari.

Don juga menjelaskan, hamparan tanah pesisir yang menjadi tempat pencampuran tanah dengan air laut tersebut diberi unsur hara dalam waktu berkala. Rangkaian proses panjang itulah yang membuat Garam Les memiliki keunikan.

“Sebulan setengah, dua bulan, dia akan taruh unsur hara tanah baru. Beberapa ember saja. Jadi proses pembuatan Garam Les adalah sangat tradisional, setelah itu menggunakan media tanah. Ini yang terpenting. Karena beberapa tempat kebanyakan itu air laut ditampung beberapa saat. Baru disemai. Makanya rasanya pasti sangat pahit,” jelas Don.

Adapun, ia menyebut hasil campuran tanah pesisir dengan air laut tersebut bukan sebagai tanah basah yang kotor. Alih-alih kotor, menurutnya hasil campuran itulah yang memiliki kandungan mineral baik dari tanah maupun laut.

Produksi Garam Les di Desa Les, Buleleng, Bali, Jumat (5/6/2026). Foto: Argya Maheswara/kumparan

“Karena ada kandungan mineral baik tanah sama mineral baik air laut, gitu. Jadi ini perpaduannya antara lagi-lagi segara dan tanah, gitu. Ada unsur pertiwi di sini. Jadi bukan kotoran,” ujarnya.

Dengan ladang kecil yang biasanya memiliki luasan 1 are, jumlah garam yang bisa dihasilkan atau dipanen bisa mencapai 25 kg. Adapun panen dilakukan seminggu dua kali.

Ia juga menjelaskan bahwa produksi Garam Les memang sangat terbatas. Hal ini karena proses yang tradisional bergantung pada matahari. Dengan begitu, Garam Les hanya bisa diproduksi di musim kemarau.

“Intinya karena ini hanya ketika musim panas (kemarau), satu tahun itu efektifnya 4,5-5 bulan. Karena kan, di musim panas, beberapa bulan yang lalu hujan dulu, kan? Jadi setahun sekali (masa produksi dan panen),” kata Don.

instagram embed