Menjelajah Patakbanteng, Permata Baru Desa Bakti BCA di Lereng Gunung Prau
·waktu baca 4 menit

Pesona dataran tinggi Dieng seolah tidak pernah ada habisnya. Salah satu permata indahnya dapat ditemukan di Desa Wisata Patakbanteng di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Desa ini menyimpan harmoni antara keindahan alam dan ketulusan budaya lokal. Destinasi menakjubkan di lereng Gunung Prau ini kini resmi diperkenalkan sebagai desa wisata binaan terbaru Bakti BCA.
Komitmen desa dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan keselamatan wisatawan membawa desa ini masuk ke dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Tidak tanggung-tanggung, Desa Wisata Patakbanteng menyabet Juara 1 kategori Resiliensi pada penghargaan tersebut.
Selepas penghargaan ADWI 2024, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) kemudian bermitra dengan Kemenparekraf untuk melakukan pembinaan lanjutan kepada Desa Patakbanteng. Hal ini selaras dengan komitmen BCA dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) Indonesia, khususnya lewat program Bakti BCA.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menjelaskan bahwa Desa Patakbanteng memiliki potensi besar.
“BCA berkomitmen untuk meningkatkan daya tarik wisata dan mengakselerasi perekonomian lokal secara berkelanjutan. Oleh karena itu, kami senantiasa mendorong setiap Desa Bakti BCA untuk menonjolkan karakteristik uniknya. Melalui strategi pendampingan menyeluruh, mulai dari pembinaan, peningkatan kapasitas SDM, hingga perluasan akses pasar, kami ingin memastikan seluruh desa binaan dapat naik kelas menjadi komunitas yang unggul dan berdaya,” kata Hera, Kamis (11/6).
Tahun ini, Desa Patakbanteng juga dipilih menjadi salah satu lokasi pelaksanaan program Genera-Z Berbakti 2026. Program ini merupakan call for proposal bagi kelompok mahasiswa untuk melakukan pengabdian masyarakat di lokasi desa binaan Bakti BCA. Sepanjang Juli 2026, salah satu tim mahasiswa pemenang program akan melakukan live in dan mengimplementasikan inovasi sosial demi kemajuan desa.
Menikmati Matahari Terbit dari Jalur Pendakian
Berlokasi di kaki Gunung Prau pada ketinggian 2.565 meter di atas permukaan laut (mdpl), Desa Wisata Patakbanteng menawarkan pengalaman wisata yang autentik dengan suguhan pesona alam pegunungan dan kekayaan budaya lokal yang masih terjaga. Karakter geografisnya yang dikelilingi Gunung Pakuwaja, Dataran Tinggi Dieng, Gunung Sumbing, serta Gunung Sindoro membuat desa ini memiliki udara sejuk berkisar antara 15-25 derajat Celsius.
Akses yang mudah serta pemandangan golden sunrise yang memukau menjadikan Patakbanteng sebagai jalur favorit para pendaki Gunung Prau. Saat musim liburan panjang, jumlah kunjungan dapat mencapai lebih dari 25.000 wisatawan. Pada 2025, Desa Patakbanteng mencatat lebih dari 122.000 pengunjung lokal maupun mancanegara.
Untuk menunjang kebutuhan wisatawan, desa ini menyediakan berbagai fasilitas seperti penginapan, penyewaan perlengkapan outdoor, hingga toko makanan dan pusat oleh-oleh. Beberapa hal yang dapat dipersiapkan wisatawan sebelum berkunjung antara lain:
1. Mendaftar di basecamp
Sebelum mendaki, wisatawan wajib melakukan registrasi di basecamp pendakian Gunung Prau yang menjadi pusat informasi jalur, penyewaan perlengkapan, dan titik istirahat sebelum pendakian dimulai.
2. Menginap di homestay lokal
Wisatawan dapat memilih sekitar 13 homestay atau cabin yang dikelola masyarakat setempat. Tarif menginap berkisar Rp250.000 hingga Rp1.000.000 per malam, tergantung fasilitas yang tersedia.
3. Mencoba berbagai atraksi wisata
Patakbanteng menawarkan sejumlah paket wisata seperti Banteng Jeep Adventure, Wisata Edukasi Carica, hingga Festival Gunung Prau yang digelar setiap Agustus dengan menampilkan seni dan budaya lokal.
4. Mempersiapkan perjalanan dari Jakarta
Desa Patakbanteng dapat dicapai melalui penerbangan menuju Semarang atau Yogyakarta yang dilanjutkan perjalanan darat selama sekitar 3–3,5 jam. Alternatif lainnya adalah menggunakan kereta api menuju Stasiun Purwokerto dan melanjutkan perjalanan darat sekitar 3,5–4 jam.
Menyaksikan Tradisi dan Kearifan Lokal Desa Patakbanteng
Di balik keindahan alamnya, Desa Patakbanteng menyimpan kekayaan budaya yang masih hidup dan terus dilestarikan masyarakat. Salah satu tradisi yang paling menonjol adalah Baritan Terang Bulan, upacara adat yang digelar setiap bulan Suro pada malam ke-10 dalam penanggalan Jawa. Tradisi ini menjadi ungkapan rasa syukur atas hasil panen sekaligus doa untuk keselamatan dan kesejahteraan desa.
Desa ini juga merawat Tari Patak Lengger yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat. Tarian tersebut rutin ditampilkan dalam berbagai acara adat maupun festival budaya sebagai ekspresi kegembiraan dan rasa syukur yang mencerminkan nilai kebersamaan serta spiritualitas masyarakat Patakbanteng.
Tidak lengkap rasanya berkunjung ke Patakbanteng tanpa membawa pulang produk UMKM khas daerah ini. Salah satunya adalah olahan buah carica, pepaya gunung khas Dieng yang diolah menjadi manisan segar.
Selain itu, udara dingin lereng Gunung Prau juga melahirkan minuman herbal tradisional berbahan purwoceng (Pimpinella pruatjan) yang dikenal dengan julukan “Ginseng Jawa”. Minuman ini dipercaya membantu menghangatkan tubuh, meningkatkan vitalitas, serta melancarkan peredaran darah.
Dieng juga memiliki komoditas unggulan berupa kentang yang diolah menjadi beragam camilan. Kentang kuning dari dataran tinggi ini memiliki kadar air rendah dan tekstur pulen sehingga cocok diolah menjadi keripik, perkedel, kentang mustofa, maupun produk olahan lainnya.
