Mentan Mau Kembangkan Ubi Jadi Komoditas Pangan Utama di Papua Pegunungan

Mentan Amran Sulaiman berencana untuk mengembangkan ubi jalar sebagai komoditas pangan utama di Papua Pegunungan. Hal ini menurutnya merupakan upaya menyesuaikan komoditas yang dikembangkan dengan kearifan lokal.
Dengan begitu, program pangan yang dilakukan Kementan di Papua Pegunungan akan berfokus pada pengembangan ubi alih-alih cetak sawah.
"Ini adalah kearifan lokal berdasarkan kebiasaan dan budaya masyarakat. Jadi program di Papua Pegunungan bukan program cetak sawah, tetapi pengembangan ubi jalar sebagai komoditas pangan utama masyarakat," kata Amran dalam keterangan tertulis, Kamis (2/7).
Pada tahap awal, Amran menjelaskan Kementan akan mengembangkan 100 sampai 200 hektare kawasan budidaya ubi jalar. Nantinya kawasan tersebut tersebar di beberapa kabupaten di Papua Pegunungan.
Jika nantinya progres program tersebut berjalan baik setelah evaluasi, Amran berkomitmen untuk mengembangkan atau memperluas kawasan budidaya ubi jalar tersebut.
"Kita mulai dulu sekitar 100 sampai 200 hektare per kabupaten. Kalau berhasil, tahun depan kita tingkatkan lagi sesuai kemampuan anggaran. Ini akan kita bangun menjadi kawasan lumbung pangan berbasis ubi," ujarnya.
Di samping itu, Amran juga akan memprioritaskan benih lokal yang dibeli langsung dari masyarakat dalam pengembangan kawasan budidaya ubi jalar tersebut.
"Bagaimana kalau benihnya kita beli langsung dari masyarakat? Jadi tidak perlu didatangkan dari luar. Pembibitan kita bangun di lokasi supaya ekonomi bisa berputar di daerah sendiri," ujarnya.
Selain pengembangan kawasan, Kementan juga akan memberikan bantuan sarana produksi yang sesuai dengan pola budidaya yang sudah ada di Papua Pegunungan. Bantuan sarana tersebut nantinya meliputi linggis, parang, sekop, kapak, dan beberapa alat lain.
Adapun pengembangan ubi jalar di Papua Pegunungan menurut Amran nantinya memang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Papua Pegunungan itu sendiri. Namun, di samping itu terdapat pula peluang pengolahan pasca panen dan hilirisasi produk yang akan berdampak pada perekonomian.
"Kita dorong pengembangan ubi dalam skala besar agar bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Papua Pegunungan, baik untuk konsumsi maupun untuk dijual. Ke depan juga bisa diolah agar memiliki nilai tambah dan masa simpan yang lebih panjang. Untuk itu kita akan melihat kebutuhan teknologi pengeringan atau dryer," ujarnya.
Komoditas Unggulan Lain Selain Ubi Jalar untuk Papua
Di samping itu, sebelumnya Amran juga sudah berdiskusi bersama 150 mahasiswa Papua untuk menggagas Gerakan Kembali Berkebun. Dalam pertemuan itu, para mahasiswa juga memaparkan berbagai komoditas unggulan daerah masing-masing selain ubi jalar seperti sagu, pala, kakao, kopi, hingga peternakan.
Merespons itu, Amran kembali menyatakan komitmen bahwa pengembangan pangan di Papua memang harus berbasis pada komoditas lokal dan memanfaatkan lahan masyarakat.
“Kita harus membangun ekonomi dari desa. Mahasiswa seperti kalian adalah putra-putri terbaik Tanah Papua. Kalian yang bisa mengangkat ekonomi Papua karena memiliki pengetahuan, kecerdasan, dan lahan yang harus dibangun,” ujarnya.
Untuk Papua Tengah, Amran juga memutuskan menambah bantuan pengembangan kopi seluas 100 hektare bagi kelompok petani muda Papua Pegunungan yang sebelumnya telah membuka lahan kopi seluas 48 hektare.
Terkait Gerakan Kembali Berkebun, Ketua Komite Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Velix Wanggai, menilai gerakan tersebut menghidupkan kembali identitas budaya masyarakat Papua yang selama ini memiliki keterikatan kuat dengan tanah adat dan komoditas lokal.
Ia juga menjelaskan bahwa setiap wilayah di Papua memang memiliki komoditas unggulan yang berbeda-beda. Seperti ubi jalar di i kawasan pegunungan, sagu di wilayah rawa, hingga kopi, kakao, pala, dan berbagai komoditas perkebunan lainnya.
“Gerakan kembali ke kebun bukan hanya gerakan ekonomi, tetapi juga gerakan budaya. Kita ingin menghidupkan kembali komoditas-komoditas lokal yang menjadi bagian dari budaya luhur masyarakat Papua, sekaligus menjadikan tanah adat sebagai sumber kesejahteraan bagi generasi sekarang dan masa depan,” ujarnya.
