Kumparan Logo

Mentan Minta Tambah Anggaran Rp 22,43 T untuk Tahun 2027

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rapat kerja Kementan dengan Komisi IV DPR RI di Gedung Parlemen, Jakarta pada Rabu (10/6/2026). Foto: Argya D. Maheswara/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Rapat kerja Kementan dengan Komisi IV DPR RI di Gedung Parlemen, Jakarta pada Rabu (10/6/2026). Foto: Argya D. Maheswara/kumparan

Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengungkap pagu anggaran indikatif Kementan untuk tahun 2027 masih kurang. Untuk itu, ia mengajukan tambahan kebutuhan anggaran sebesar Rp 22,43 triliun.

Adapun pagu indikatif Kementan untuk tahun 2027 awalnya ada pada angka Rp 23,23 triliun. Dengan usulan tambahan tersebut, nantinya total anggaran Kementan di tahun 2027 akan ada pada angka Rp 45,6 triliun.

“Untuk itu mohon kiranya Ibu Ketua dan pimpinan serta anggota Komisi IV dapat menyetujui usulan penyesuaian pagu indikatif Kementerian Pertanian tahun 2027 yang awalnya Rp 23 triliun menjadi Rp 45 triliun untuk selanjutnya dapat diusulkan dibahas pada rapat dengan Badan Anggaran DPR RI,” kata Amran dalam rapat kerja Kementan dengan Komisi IV DPR RI di Gedung Parlemen, Jakarta pada Rabu (10/6).

Dalam rancangan usulan tambahan anggaran tahun 2027 tersebut, Ditjen Lahan dan Irigasi Pertanian (LIP) diusulkan memperoleh tambahan Rp 3,55 triliun untuk rehabilitasi dan optimalisasi lahan, pengembangan jaringan irigasi, pembangunan embung, serta persiapan cetak sawah baru guna memperkuat infrastruktur pertanian nasional.

Selanjutnya, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) mendapat alokasi terbesar yakni Rp 5,04 triliun untuk pengadaan alat dan mesin pertanian (alsintan) pra dan pasca panen, dukungan asuransi ternak, serta pembangunan sarana peternakan guna meningkatkan produktivitas sektor pertanian.

Pada sektor tanaman pangan, Ditjen Tanaman Pangan (TP) memperoleh usulan tambahan Rp 1,56 triliun yang akan digunakan untuk penyediaan benih padi, jagung, kedelai, sorgum, ubi-ubian, dan kacang-kacangan, termasuk pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) serta dukungan hilirisasi produk pangan.

Untuk komoditas hortikultura, Ditjen Hortikultura diusulkan menerima Rp 3,02 triliun guna mendukung pengembangan bawang putih, bawang merah, cabai, durian, mangga, tanaman obat, serta program sertifikasi, pengendalian OPT, dan hilirisasi produk hortikultura.

Sementara itu, sektor perkebunan mendapatkan tambahan Rp 3,27 triliun untuk pengembangan berbagai komoditas strategis seperti kelapa, kopi, kakao, tebu, karet, pala, lada, dan cengkeh, termasuk penguatan perbenihan, sertifikasi, dan hilirisasi produk perkebunan.

Pada sektor peternakan, anggaran tambahan sebesar Rp 1,69 triliun akan difokuskan pada peningkatan populasi ternak, produksi pakan, pengendalian penyakit hewan, layanan kesehatan hewan, serta dukungan investasi dan hilirisasi produk peternakan.

Di bidang pengembangan SDM, BPPSDMP memperoleh usulan tambahan Rp 2,68 triliun untuk memperkuat penyuluhan, pelatihan, pendidikan pertanian, program tugas belajar, serta pengadaan sarana pendukung bagi penyuluh pertanian.

Selanjutnya, BRMP diusulkan menerima Rp 1,73 triliun untuk produksi benih dan bibit, pengembangan pertanian modern, perakitan teknologi pertanian, serta pendampingan teknis pembangunan pertanian.

Adapun Sekretariat Jenderal dan Inspektorat Jenderal memperoleh tambahan Rp 284 miliar guna memperkuat dukungan operasional, tata kelola organisasi, manajemen kinerja, dan pengawasan internal program pembangunan pertanian.

Sedangkan terkait pagu indikatif sebesar Rp 23,23 triliun, Amran menjelaskan anggaran itu akan digunakan untuk mendukung Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN) sebesar Rp 13,61 triliun dan anggaran dasar wajib sebesar Rp 9,62 triliun.

Target Komoditas PKPN 2027

Adapun untuk komoditas PKPN, produksi padi ditargetkan mencapai 60,47 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara 34,83 juta ton beras, sementara jagung ditargetkan mencapai 18,23 juta ton dengan kadar air 14 persen dan produksi kedelai ditargetkan sebesar 392 ribu ton, sedangkan ubi kayu mencapai 17,79 juta ton.

Pada subsektor perkebunan, target produksi kelapa sawit ditetapkan sebesar 245,4 juta ton, tebu sebanyak 42 juta ton, dan kopi mencapai 791 ribu ton. Selain itu, produksi kelapa ditargetkan sebesar 2,9 juta ton, kakao sebanyak 633 ribu ton, pala sebesar 41 ribu ton, serta lada mencapai 64 ribu ton.

Di sektor peternakan, Amran menargetkan produksi susu sebesar 922 ribu ton, telur mencapai 8,08 juta ton, dan daging sebesar 5,28 juta ton. Untuk mendukung komoditas PKPN tersebut, Amran juga akan membangun kawasan pangan terintegrasi.

“Rancangan program kualitas Kementerian Pertanian 2024-2027 diarahkan untuk salah satu dari 8 klaster PKPN yakni klaster pembangunan pangan, melalui melalui pengembangan kawasan pangan terintegrasi yang terdiri dari kawasan padi, kedelai, jagung, dan ubi kayu,” ujar Amran.

“Pengembangan kawasan perhubungan terdiri dari kawasan kelapa, kelapa sawit, kopi, kakao, jambu mete, tebu rempah-rempah, peningkatan produksi peternakan daging susu telur,” lanjutnya.