Mentan Sebut Kecurangan Fortifikasi Ikut Dongkrak Harga Beras dan Inflasi

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menduga praktik kecurangan dalam fortifikasi beras ikut mendorong kenaikan harga beras dan inflasi. Amran menyebutkan Sebelumnya Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah beras yang beredar di pasaran.
Hal ini diutarakan Amran untuk menanggapi data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan beras kembali menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi pada Agustus 2026, inflasi sebesar 0,42 persen dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,02 persen.
“Harusnya harganya Rp 13.500 (per kg), dia jual Rp 40.000 (per kg). Menurut Anda menambah inflasi nggak? Penyumbang nggak?,” kata Amran di lahan pertanian Desa Ciasem, Subang, Jawa Barat, Rabu (2/9).
Amran mengatakan kenaikan harga beras bukan disebabkan oleh persoalan stok. Hal ini dikarenakan menurut dia, ketersediaan beras saat ini masih mencukupi.
“Kemarin salah satu kami cek ya, karena stok banyak kan. Berarti bukan karena stok kan, beras banyak. Masalahnya adalah sementara kita selidiki, tapi sesuai hasil lab, 90 persen yang kita cek fortifikasi melanggar,” ujarnya.
Amran mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium beras yang diklaim sebagai beras fortifikasi atau beras bervitamin ternyata tidak mengandung vitamin sesuai klaim tersebut.
“Ini katanya beras bervitamin, ternyata tidak ada. Dan dijual harga ada Rp 56.000, ada Rp 42.000 rata-ratanya Rp 22.000 dijualkan. Katakanlah harga Rp 13.000, itu selisihnya Rp 22.000 per kilo. Kalau itu 1 juta (ton), itu Rp 22 triliun, 1 juta ton,” jelasnya.
Menurut Amran, selisih harga tersebut dapat membuat harga beras di tingkat konsumen terdorong lebih tinggi. Dia menilai praktik tersebut merugikan masyarakat.
“Yang beredar pasaran kemarin, kita sementara cek. Tetapi, itu sangat merugikan rakyat karena mendongkrak naik harga. Bayangkan per kilo selisih Rp 22.000. Selisih Rp 20.000 ini bukan harga keuntungan, tapi penipuan,” jelasnya.
